Gaya Hidup Tak Sehat, Penyakit Tidak Menular Ancam Usia Muda

Tim, CNN Indonesia | Senin, 06/07/2020 10:21 WIB
Iv drip on the background of monitoring ECG. Ilustrasi. Gaya hidup tidak sehat berkontribusi pada meningkatnya ancaman penyakit tidak menular pada usia muda. (Istockphoto/sudok1)
Jakarta, CNN Indonesia --

Deretan penyakit tidak menular seperti jantung dan kanker menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Tak hanya orang lanjut usia, kini penyakit tidak menular (PTM) pun mengancam usia muda.

Direktur Pencegahan PTM Kementerian Kesehatan, Cut Putri Ariane mengatakan bahwa tren PTM terus meningkat hingga saat ini. Jantung koroner menjadi penyebab kematian tertinggi, diikuti kanker, diabetes melitus dengan komplikasi, hingga penyakit paru obstruktif kronis.

Penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) menunjukkan bahwa tren PTM yang dulu lebih banyak dialami kelompok usia lanjut, kini mulai mengancam usia produktif.


"PTM sangat memprihatinkan. Karena dulu anggapannya, kan, [terjadi] pada orang tua. Tapi sekarang trennya mulai naik pada usia 10-14 tahun," ujar Cut, Sabtu (4/7), melansir situs Kemenkes.

Tingginya prevalensi PTM di Indonesia, sebut Cut, disebabkan oleh faktor gaya hidup tidak sehat. Riskesdas 2018 menemukan, 95,5 persen masyarakat Indonesia kurang mengonsumsi sayur dan buah.

Sebanyak 35,5 persen masyarakat juga kurang beraktivitas fisik. Ditambah lagi sebanyak 29,3 persen masyarakat usia produktif merupakan kelompok perokok aktif yang berkontribusi dalam memicu penyakit tidak menular.

"Perilaku kita sekarang ternyata semakin tidak baik. Mungkin momentum ini yang mengingatkan kita semua bahwa ketika imunitas tubuh kita turun, orang semakin banyak yang peduli untuk mengubah gaya hidup," kata Cut.

Cut mengingatkan agar perubahan gaya hidup harus dilakukan sedini mungkin sebagai investasi kesehatan masa depan. Masyarakat diharapkan memiliki kesadaran akan kesehatan tubuhnya sendiri agar dapat diobati tanpa terlambat.

"Jangan lupa deteksi dini. Tak memiliki keluhan belum tentu sehat. Lakukan screening minimal 6-12 bulan sekali," ujar Cut.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK