Atasi Penyakit Tidak Menular,Menkes Terawan Andalkan 'Germas'

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 30/10/2019 19:37 WIB
Atasi Penyakit Tidak Menular,Menkes Terawan Andalkan 'Germas' Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Angka penyakit tidak menular (PTM) beserta obesitas sebagai faktor risiko utamanya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Untuk mengatasinya, Kementerian Kesehatan bakal kembali mengandalkan Germas.

"Pemerintah [bergerak] melalui Kementerian Kesehatan lewat program Germas. Itu salah satunya adalah untuk menekan angka obesitas maupun PTM," ujar Terawan saat melawat ke kantor TransMedia, Mampang, Jakarta Selatan, Selasa (29/10).

Terawan mengatakan, PTM, termasuk di antaranya obesitas, menjadi ancaman luar biasa bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Bahkan, lanjutnya, beban BPJS untuk PTM terhitung besar.

Laporan Riskesdas 2018 mencatat, angka PTM mengalami peningkatan dari 2013. Hipertensi atau tekanan darah tinggi meningkat dari 25,8 persen menjadi 34,1 persen. Obesitas melonjak dari 14,8 persen menjadi 21,8 persen. Sedangkan diabetes melitus meningkat dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen.

Germas (Gerakan Masyarakat Sehat) sendiri merupakan program yang mengedepankan langkah promotif dan preventif yang melibatkan seluruh komponen masyarakat.

Namun, jika menilik hasil Riskesdas 2018, program Germas nyatanya belum menunjukkan titik terang dalam mengatasi masalah kesehatan di Indonesia.

"Tren penyakit tidak menular [diabetes, hipertensi, obesitas] naik dibandingkan Riskesdas 2013. Indikator Germas [aktivitas fisik, makan buah dan sayur, tidak merokok] belum menunjukkan perbaikan dibanding Riskesdas 2013." Demikian kesimpulan hasil Riskesdas 2018.

Terawan mengatakan, evaluasi terhadap Germas akan terus dilakukan. "Check dan recheck, tinggal lakukan percepatan, yang cepat kita cepatin. Cari apa yang kurang sehingga bisa dapatkan solusi yang tepat," jelas dia.

Berkaca pada negara tetangga

Secara global, perhatian akan persoalan PTM termasuk obesitas telah begitu besar. Laporan teranyar dari World Obesity Federation (WOF) bahkan memprediksi, sebanyak 250 juta anak usia sekolah akan mengalami obesitas pada 2030 mendatang. Epidemi ini khususnya akan menjadi ancaman bagi negara-negara berkembang.

Beberapa negara telah lebih dulu mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mengatasi tingginya angka PTM dan obesitas.

Baru-baru ini, Singapura mengeluarkan larangan peredaran iklan minuman berpemanis baik di media cetak, televisi, hingga daring untuk memerangi penyakit diabetes tipe-2 yang terus meningkat. Obesitas dan konsumsi gula menjadi faktor risiko utama diabetes tipe-2.

Sejumlah negara lain seperti Australia, Norwegia, Prancis, dan Jepang juga telah beramai-ramai memberlakukan pajak khusus untuk membatasi konsumsi junk food dan gula.

Sementara di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru sebatas menerapkan aturan pemberian label kandungan nutrisi pada kemasan makanan maupun minuman yang membantu masyarakat untuk mengetahui beragam risiko kesehatan yang diakibatkan.

Terawan sendiri berencana untuk mengadakan pembahasan dengan BPOM untuk membahas regulasi terkait sebaran makanan dan minuman tidak sehat.

"Itu harus dengan BPOM. Badan pengawas musti mengawasi makanan dan minuman tersebut," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]


(els/asr)