Pengobatan HIV/AIDS Terhambat Karena Pandemi Covid-19

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 10/07/2020 17:23 WIB
World AIDS Day Ilustrasi: Pandemi virus corona mengakibatkan perawatan orang dengan HIV/AIDS terhambat, lantaran kesulitan mendapatkan obat antiretroviral. (Foto: Istockphoto/burakkarademir)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pandemi Covid-19 berdampak pada pengobatan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Wabah virus corona membuat ratusan ribu orang dengan HIV/AIDS kesulitan mendapatkan obat antiretroviral (ARV).

Obat ARV harus dikonsumsi setiap hari untuk menekan virus di dalam tubuh dan menjaga kekebalan tubuh ODHA. Anggota Jaringan Indonesia Positif Timotius Hadi menyatakan stok obat ARV di sejumlah daerah masih kosong hingga saat ini.

"Beberapa bulan lalu kita sempat ada kekosongan ARV dan sekarang mungkin sudah normal ya. Tapi di beberapa kabupaten seperti Kabupaten Sukabumi itu masih kosong", kata Hadi dalam siaran pers BNPB yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (7/10).


Hadi juga menyebut ODHA di sejumlah daerah kesulitan mendapatkan obat ARV karena ancaman virus corona. Orang dengan HIV/AIDS termasuk dalam kelompok yang sangat berisiko terkena Covid-19 karena memiliki kekebalan tubuh yang lemah.

Data pada 2019 menunjukkan jumlah orang dengan HIV/AIDS mencapai hampir 350 ribu orang dengan pertambahan kasus baru sekitar 49 ribu per tahun.

Menurut Hadi, obat ARV yang dikonsumsi setiap hari seharusnya bisa didapatkan dalam jumlah banyak untuk beberapa bulan ke depan agar ODHA tak harus bolak-balik Puskesmas atau rumah sakit untuk mengambil obat.

"Kalau di Jakarta enaknya bisa di-multi month (untuk beberapa bulan), resepnya dibikin dua bulan. Jadi satu kali datang bisa mendapatkan dua bulan. Tapi untuk teman-teman di daerah itu kesulitan", ungkap Hadi.

Kekosongan obat dan kesulitan mengakses obat membuat ODHA putus obat atau tidak mengonsumsi obat ARV. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan Wiendra Waworuntu mengakui terdapat penurunan konsumsi obat ARV.

"Dampak terhadap jumlah pengobatan terhadap HIV/AIDS, tidak semuanya menurun. Ada yang stabil, tapi ada juga yang menurun," ungkap Wiendra pada dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta.

Wiendra menjelaskan bahwa penurunan terhadap jumlah pengobatan ini terjadi karena selama masa pandemi Covid-19 pemberian obat ini harus memperhatikan ketersediaan obat yang ada di daerah masing-masing.

Infografis tentang obat ARV dari jenis obat hingga efek sampingnya.Foto: Fajrian
Infografis tentang obat ARV dari jenis obat hingga efek sampingnya.

Impor obat ARV yang disediakan gratis oleh pemerintah menurut Wiendra, sempat terhambat karena lockdown di India.

"Sempat terganggu pada bulan April transisi Mei karena pada waktu itu lockdown juga di India, tetapi hanya terganggu sekitar satu minggu dan sampai hari ini obat sudah tersedia di semua layanan", kata Wiendra.

Wiendra menyebut ODHA mesti tetap waspada dengan Covid-19 dan melakukan tindakan pencegahan seperti tetap berada di rumah, memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

"Jangan berpikir bahwa saya meminum obat ARV nanti saya tidak akab terkena Covid-19, karena buktinya Covid-19 bisa menyerang siapa saja. Kita tetap harus tetap waspada", kata Wiendra.

(ptj/NMA)

[Gambas:Video CNN]