Ahli Bagi Strategi Protokol Kesehatan di Era Kebiasaan Baru

CNN Indonesia | Senin, 13/07/2020 06:00 WIB
Shoppers maintain social distancing as they walk in line to enter reopened Shibuya 109, a landmark and fashion building in Shibuya shopping district June 1, 2020, in Tokyo. As Japanese return to schools, shops and offices reconfigured to help prevent new coronavirus infections with ample use of plastic screens, masks and reminders to keep their distance, access to faster testing is crucial, officials say.(AP Photo/Eugene Hoshiko) Ilustrasi new normal (AP/Eugene Hoshiko)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hermawan Saputra dari Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) beri strategi untuk seimbangkan protokol kesehatan untuk cegah penularan Covid-19 dan pertumbuhan ekonomi.

Sebab, menurutnya selama ini terjadi dilema ketika dilakukan isolasi untuk cegah meluasnya penularan virus corona dengan pemangkasan pertumbuhan ekonomi.

Untuk itu, Hermawan menilai perlu dilakukan pendekatan atau manajemen yang menyeimbangkan empat poin.


"Perlu melihat tata ruang, kendali orang, gimana mekanisme barang dan pengaturan uang," kata dia dalam diskusi Polemik Trijaya, Sabtu (11/7).

Hermawan melanjutkan saat keempat poin ini bisa diatur dalam suatu protokol yang komprehensif maka bisa meminimalisir inkonsistensi kebijakan.

Tata ruang. Protokol sekarang, kata dia, masih fokus pada pengaturan perilaku. Dengan WHO menyebut ada risiko transmisi melalui airborne atau melalui udara, maka perlu ada protokol menyangkut tata ruang, ventilasi, cuaca, suhu, tempat tinggal.

"Memang ada peraturan terkait kesehatan lingkungan tetapi itu semua kan dalam keadaan biasa. Corona kan pandemi global, caranya ya kudu luar biasa," imbuhnya.

Selain itu, terkait dengan mekanisme barang, menurutnya perlu dilakukan desinfektan. Ia pun mengkritik pembersihan area pasar yang hanya fokus pada pembersihan orang.

Padahal, pasar jadi area orang, barang dan uang. Sehingga, mestinya diperhatikan protokol kesehatan terhadap tiga hal ini.

"Khusus mengenai uang, uang ini alat transaksi dan potensial jadi transmisi. Waktu itu hangat di media ada transformasi alat bayar. Tapi kita belum menemukan. Di pasar orang ambil uang pakai tangan dan itu bergerak cepat. Nah ini menyangkut tata kelola," jelasnya.

Kemudian perlu ada ruang untuk penegakan edukasi. Masyarakat dari lapisan atas sampai bawah musti bahu membahu bekerja sama mencegah penularan. Apalagi vaksin saja dikabarkan baru ada minimal akhir tahun ini.

"Kita musti siap bermarathon, marathon napas panjang, menjaga daya tahan sembari ada protokol komprehensif, jadi ada health protocol and control," imbuhnya.

Dalam kesempatan serupa Rizky Ika Syafitri dari Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Pencegahan Penanganan Covid-19 mengakui bukan perkara mudah untuk mengubah perilaku seseorang.

Rizky berkata sangat umum ditemui orang memiliki pengetahuan tetapi tidak berbanding lurus dengan perilaku.

Sehingga, ia menekankan bagi pemerintah maupun pejabat publik yang kerap tampil kepada khalayak, menunjukkan teladan.

"Perilaku ini visible, terlihat, maka perlu diberi contoh. Pemerintah atau yang tampil bisa memperlihatkan perilaku itu seperti mengenakan masker, menjaga jarak," katanya.

(els/eks)

[Gambas:Video CNN]