Sejarah Panjang Ibadah Dua Agama di Hagia Sophia

CNN Indonesia | Senin, 13/07/2020 11:39 WIB
Museum Hagia Sophia Hagia Sophia, bangunan yang menjadi saksi bisu konflik bersejarah di Turki. (Pixabay/narya)
Jakarta, CNN Indonesia --

Berdiri gagah di tepi Selat Bosphorus, Istanbul, Hagia Sophia awalnya ialah gereja yang dibangun Kekaisaran Roma saat mereka menguasai Turki sekitar 1.500 tahun yang lalu.

Ketika itu Istanbul masih bernama Konstantinopel yang menjadi ibu kota Kekaisaran Romawi Timur, yang kelak disebut Kekaisaran Byzantium.

Hagia Sophia, atau yang nama Latinnya Sancta Sophia dan nama Turkinya Ayasofya, memiliki arti perintah suci.


Hagia Sophia dirancang oleh Anthemius of Tralles dan Isidorus of Miletus, dua arsitek yang berasal dari keluarga cakap mesin dan matematika.

Penunjukkannya dilakukan oleh Kaisar Justinian I yang telah memerintah selama lima tahun namun merasa dirinya masih kurang populer di mata rakyat.

Karena menetapkan pajak yang tinggi, banyak orang yang ingin menggulingkannya.

Demi meredam kritik, Justinian I inisiatif membangun gereja sebagai wadah pemersatu rakyat.

Hagia Sophia merupakan gereja ketiga yang dibangun di tepi Selat Bosphorus, karena sebelumnya ada gereja kayu yang terbakar saat konflik lalu dibangun ulang.

Pembangunan Hagia Sophia berlangsung enam tahun dan pertama kali dibuka sebagai gereja ortodoks setinggi dua lantai dengan kubah besar yang dikelilingi empat kubah kecil dan empat menara pada tahun 537.

Anthemius dan Isidorus menggunakan batu ashlar dan batu bata sebagai bahan pembangunannya.

Mereka juga menggunakan tiang dari tiga monumen bersejarah di Yunani: Kuil Artemis, Baalbeck, dan Pergamom, yang kala itu terbengkalai.

Pembangunannya terbilang singkat dibandingkan Katedral Notre Dame di Paris, Prancis, yang dibangun hingga satu abad.

Tak hanya tempat ibadah yang dibangun di dalam Hagia Sophia, karena ada juga perpustakaan hingga makam.

Karena pembangunannya yang terbilang singkat, kubah awal di Hagia Sophia sempat rusak saat gempa bumi pada tahun 558. Kubah yang terlihat saat ini merupakan kubah hasil restorasi kedua.

People visit the Byzantine-era Hagia Sophia, one of Istanbul's main tourist attractions in the historic Sultanahmet district of Istanbul on Thursday, June 25, 2020. The 6th-century building is now at the center of a heated debate between conservative groups who want it to be reconverted into a mosque and those who believe the World Heritage site should remain a museum. (AP Photo/Emrah Gurel)Interior Hagia Sophia. (AP/Emrah Gurel)

Hagia Sophia bertahan sebagai gereja selama 916 tahun hingga tahun 1453, sebelum Kesultanan Ottoman akhirnya merebut Konstantinopel dari tangan Kekaisaran Byzantium.

Sang pemimpin saat itu, Sultan Mehmed II, langsung memerintahkan arsitek bernama Sinan untuk menutup mengubah fungsi Hagia Sophia dari gereja menjadi masjid serta menutup lukisan Kristiani di temboknya dengan plester putih.

Namun penghilangan lukisan Kristiani ini bukan yang pertama kali terjadi. Karena pada tahun 726-787 sempat terjadi penghancuran lukisan Kristiani, atau yang disebut periode Ikonoklasme, dengan anggapan bahwa gambar religius dikhawatirkan bisa menjadi berhala.

Tempat imam dibangun menghadap Mekah di bawah kubah utama, tempat biasanya pemimpin-pemimpin Roma dilantik.

Setelah 481 tahun menjadi masjid, Hagia Sophia lalu diubah kembali menjadi museum saat Turki berada di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Atatürk pada tahun 1934.

Baru pada tahun 2020, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan punya ide untuk kembali mengubah Hagia Sophia menjadi masjid.

Keputusan Erdoğan mendapat kritik dari warga dunia dan UNESCO, yang telah menetapkan Hagia Sophia sebagai Situs Warisan Budaya sejak tahun 1985.

Berbicara mengenai masjid, sebenarnya Turki telah memiliki selusin lebih masjid yang tak kalah indah dibandingkan Hagia Sophia, contohnya ialah Masjid Sultanahmet atau Masjid Biru yang terkenal megah dan Masjid Sancaklar yang terkenal modern.

Infografis Fakta Menarik Hagia Sophia(CNNIndonesia/Basith Subastian)

[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)