Faktor Penularan Corona Lewat Udara di Kantor, Restoran, Bus

Tim, CNN Indonesia | Senin, 13/07/2020 17:20 WIB
Suasana di Rumah Makan Bumi Aki, Pajajaran, Bogor, Jawa Barat, Selasa, 2 Juni 2020. Sejumlah restoran dan rumah makan di Kota Bogor mulai membuka layanan makan di tempat dengan protokol kesehatan ketat setelah penerapan PSBB Kota Bogor memasuki masa transisi hingga 4 Juni 2020 guna mencegah penyebaran Covid-19. CNN Indonesia/Bisma Septalisma Ilustrasi: Penularan virus corona lewat udara akan lebih tinggi risikonya ketika di ruang tertutup. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan risiko penularan. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ilmuwan menemukan potensi penularan virus corona lewat udara atau airborne. Risiko penularan lewat udara disebut akan meningkat terutama di ruang tertutup seperti kantor, restoran, dan bus. Terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi peningkatan risiko penularan virus penyebab Covid-19 lewat udara ini.

Misalnya, sirkulasi udara yang berkutat di ruangan itu-itu saja. Itu sebab risiko penularan Covid-19 lebih tinggi ketika di ruang tertutup ketimbang saat di ruang terbuka. 

"Kemungkinan penularan di ruang tertutup pasti lebih besar jika dibandingkan dengan ruang terbuka. Karena tidak ada sirkulasi atau minimal sirkulasi, maka kepadatan atau jumlah kuman pasti lebih banyak (di ruang tertutup)," kata dokter spesialis paru Adria Rusli kepada CNNIndonesia.com, Senin (13/7).


Namun begitu, risiko penularan dapat ditekan dengan mengurangi faktor-faktor risiko.

Sebuah studi membandingkan potensi risiko dan membeberkan faktor penularan corona lewat udara di sejumlah ruang tertutup seperti kantor, restoran, dan bus.

Berikut faktor penularan corona lewat udara di kantor

Dalam studi itu, dijelaskan 13 karyawan bekerja bersama di meja panjang. Sembilan dari karyawan dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Karyawan tersebut duduk di dalam ruang tertutup dengan 137 pekerja lain di meja panjang yang berbeda.

Berdasarkan studi dari pemerintah Korea Selatan di sebuah call center di Seoul, terdapat empat faktor penularan di kantor:

1. Kontak dekat
2. Kontak dalam waktu lama
3. Kontak dengan banyak orang
4. Di ruang tertutup.

Dari 137 karyawan, 79 orang atau 57,6 persen dinyatakan positif. Kontak permanen dalam ruangan yang sama dengan periode waktu yang lama jadi alasan terjadinya penularan.

Di seluruh gedung, dari lantai lain hanya tiga orang yang menunjukkan hasil tes positif dari 927 yang menjalani pemeriksaan. Padahal, mereka berada di lobi, lift, dan area umum lainnya yang sama.

Studi ini menyimpulkan penyebaran virus sebagian besar terbatas pada satu ruang dipenuhi karyawan yang duduk di meja yang sama.

"Menunjukkan bahwa durasi interaksi (atau kontak) mungkin merupakan fasilitator utama untuk infeksi yang luas," tulis laporan itu, dikutip dari El Pais.

Untuk mencegah penularan corona lewat udara di kantor, para ahli menyarankan untuk menerapkan jam kerja bergiliran, bekerja dari rumah, hingga menggunakan perlindungan fisik seperti masker dan tidak menggunakan benda yang sama.

Pencegahan juga harus dilakukan dengan menjaga jarak fisik, menghindari tempat ramai, dan ruangan harus memiliki ventilasi baik.

"Setuju yang mempengaruhi volume ruangan, sirkulasi udara, dan jumlah orang. Karena kuman akan lebih mudah menginfeksi jika jumlahnya banyak. Selain faktor virulensi kuman," ucap Adria.

INFOGRAFIS AGAR TAK TERTULAR VIRUS CORONAFoto: CNN Indonesia/Fajrian
INFOGRAFIS AGAR TAK TERTULAR VIRUS CORONA

Berikut faktor penularan corona lewat udara di restoran

Dua studi dari otoritas kesehatan China mendapati beberapa faktor yang dapat meningkatkan penularan di restoran:

1. AC dan ventilasi yang buruk
2. Kontak dekat
3. Waktu yang lama

Dalam studi kasus ini, restoran tanpa ventilasi alami tersebut dipenuhi oleh 90 orang pelanggan dan delapan pelayan.

Seorang pelanggan yang duduk di sebuah meja dengan keluarganya terdeteksi positif virus corona. Setelah makan, orang tersebut menularkan virus corona pada sembilan orang lainnya. Beberapa duduk di dua meja yang berada pada garis vertikal dengan jarak terjauh 4,5 meter.

Peneliti menyimpulkan bahwa waktu yang lama dan AC memiliki peran penting, karena membuat udara bersirkulasi ulang terus-menerus di antara tiga meja tersebut. Saat itu ventilasi udara ditutup.

"Ya waktu paparan juga mempengaruhi. Semakin lama kita kontak semakin banyak kuman yang masuk," tutur Adria.

Studi ini menyarankan untuk mencegah penularan virus corona dengan mengurangi jumlah pengunjung, menjaga jarak antar pengunjung, membuka ventilasi meskipun membuat udara menjadi lebih gerah, dan menggunakan filter udara.

Berikut faktor penularan corona lewat udara di bus

Studi di China mendapati faktor penularan di dalam bus ada pada AC bermode resirkulasi atau berputar di dalam bus saja, seberapa pun jarak antar penumpang.

Studi pada dua bus dengan total perjalanan 100 menit menunjukkan terjadi penularan virus corona lewat udara selama di dalam bus.

Dua bus itu dipenuhi oleh penumpang dengan jarak 75 cm antar baris. Seorang perempuan berusia 64 tahun memiliki virus corona setelah kontak dengan orang dari Wuhan. Perempuan ini menyebarkan virus pada 23 orang lain lain di bus yang sama, tapi tidak pada penumpang bus lain meskipun mereka berkontak di tempat tujuan.

Untuk mencegah penularan corona di dalam bus, studi menyarankan untuk membatasi jumlah penumpang dan menerapkan mode sirkulasi udara yang dibuang ke udara luar.

"Kalau di mobil bisa dibuka mode sirkulasi udara, walaupun akan lebih panas. Jadi dilusi udara di dalam bisa keluar," ungkap dokter spesialis paru Erlang Samoedro kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

(ptj/NMA)

[Gambas:Video CNN]