Studi: Konsumsi Makanan Probiotik Bisa Kurangi Gejala Depresi

Tim, CNN Indonesia | Senin, 27/07/2020 22:45 WIB
Yogurt Foto: Pixabay/PublicDomainImages
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah tinjauan dari pelbagai penelitian menemukan efek prebiotik dan probiotik terhadap gejala depresi dan gangguan kecemasan. Tinjauan ini mendapatkan bahwa probiotik baik dikonsumsi sendiri atau dikombinasikan dengan prebiotik dapat membantu mengurangi gejala depresi.

Probiotik merupakan mikroorganisme yang dianggap bisa meningkatkan atau mengembalikan keseimbangan alami bakteri dalam usus. Sementara prebiotik adalah senyawa dalam makanan yang tidak dapat dicerna sehingga memicu pertumbuhan bakteri yang bermanfaat dalam saluran pencernaan.

Metastudi dari jurnal yang dipublikasikan antara 2003 hingga 2019 dilakukan oleh para peneliti di Brighton and Sussex Medical School. Probiotik merupakan senyawa yang biasa ditemukan dalam makanan seperti yoghurt, kimchi hingga asinan kubis.


Sejak lama diketahui bahwa mikrobioma, koloni bakteri yang ada di usus dapat membantu mengobati gangguan kesehatan mental berkat kaitan antara otak dan saluran pencernaan--dikenal sebagai poros usus-otak.

Makalah temuan dipublikasikan di jurnal BMJ Nutrition, Prevention and Health. Para penulis mengumpulkan 71 studi dan tujuh di antaranya memenuhi kriteria. Secara keseluruhan, 12 strain probiotik terpilih untuk diuji.

Sebanyak 11 dari 12 jenis bakteri dikaitkan dengan peningkatan pengukuran depresi--baik sendiri atau ketika dikombinasikan.

Studi menemukan bahwa kombinasi intervensi prebiotik dan probiotik bermanfaat, namun probiotik sendiri tidak berdampak signifikan.

Sementara menurut penulis dikutip dari Medical News Today, intervensi probiotik atau kombinasi prebiotik dan probiotik secara efektif dapat mengurangi gejala depresi. Ditemukan sedikit bukti pula bisa membantu mengurangi gejala kecemasan.

Kendati begitu peneliti mengakui, berdasarkan bukti awal untuk sementara ini, terapi probiotik masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Ini karena masih adanya keterbatasan studi termasuk soal metode hingga ruang lingkup.

Para peneliti memperingatkan, tidak ada studi yang menguji soal penerapan dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, jumlah peserta dalam studi ini masih terbatas atau berjumlah kecil dan, belum ada yang mempelajari ketahanan khasiat probiotik dan efek samping penggunaan jangka panjang.

Namun setidaknya, menurut peneliti, bukti awal ini cukup menjanjikan untuk diteruskan dan diperjelas pada studi lanjutan.

(NMA/NMA)

[Gambas:Video CNN]