Museum Ataturk dan Rapor Merah Turki soal Genosida

CNN Indonesia | Kamis, 16/07/2020 15:38 WIB
Mustafa Kemal ataturk house founder of turkey in Thessaloniki greece Rumah Mustafa Kemal Atatürk yang menjadi Museum Atatürk di Thessaloniki, Yunani. (iStockphoto/tekinturkdogan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perubahan fungsi Hagia Sophia dari museum ke masjid disambut ancaman dari Pemerintah Yunani, dengan menyebut bakal mengubah Museum Atatürk yang berisi sejarah Turki di Thessaloniki menjadi museum genosida.

Awalnya, Hagia Sophia dibangun oleh Kekaisaran Byzantium sebagai gereja saat mereka menguasai Konstatinopel.

Setelah Kekaisaran Ottoman merebut Konstantinopel dan mengubahnya menjadi Istanbul, Hagia Sophia berubah fungsi menjadi masjid.


Lalu saat Turki menuju pemerintahan modern, Hagia Sophia diubah lagi menjadi museum.

Dan kini, bangunan yang berada di tepi Selat Bosphorus itu kembali menjadi masjid.

Menteri Pembangunan Pedesaan Yunani Makis Voridis dalam wawancara dengan MEGA menyebut keputusan Erdogan mengubah Hagia Sophia menjadi masjid sebagai hal mengerikan.

Dikatakannya, hal itu menandakan Turki tidak tertarik menjalin hubungan baik dengan negara barat dan komunitas internasional.

"Kemarahan, kebencian, kesedihan, terutama di Yunani, dan rasa penghinaan yang mendalam. Hagia Sophia bukan hanya monumen budaya dunia, tetapi juga simbol Kristen dan Ortodoks," kata Voridis seperti dikutip dari Greek City Times Selasa (14/7).

Menurut dia, satu jawaban yang bisa diberikan oleh Yunani atas keputusan Turki itu adalah langkah simbolis mengubah Museum Atatürk, yang merupakan rumah Presiden Turki pertama Mustafa Kemal Atatürk, menjadi museum genosida.

"Saya pikir itu bisa dan harus dilakukan segera," katanya.

Rumah masa kecil bapak pendiri bangsa Turki

Museum Atatürk merupakan rumah bapak bangsa Turki, Mustafa Kemal Atatürk, yang lahir di sana pada tahun 1881.

Bangunan tiga lantai itu tepatnya berada di 24 Apostolou Pavlou Street, yang saat ini bersebelahan dengan Kedutaan Besar Turki di Yunani.

Pada tahun 1935, Dewan Kota Thessaloniki menyerahkan rumah itu kepada Pemerintah Turki, yang memutuskan untuk mengubahnya menjadi museum yang didedikasikan untuk Atatürk.

Rumah berwarna merah muda itu masih memajang peninggalan keluarga Atatürk, mulai dari perabotan, foto, sampai Pohon Pomegranate yang ditanam oleh sang ayah.

Kamar Atatürk sendiri berada di lantai dua, yang merupakan area paling menarik dikunjungi, karena masih menyimpan benda kenangan semasa ia muda.

Pada tahun 1981, replika rumah Atatürk dibangun di Ankara.

Sorotan dunia atas perlakuan Turki

Ancaman Yunani mengubah Museum Atatürk menjadi museum genosida bukan tanpa alasan.

Jika membaca lagi sejarah, Turki pernah dituduh berbuat salah dalam sejumlah kasus berdarah yang dipicu isu SARA.

Hingga tahun 1955, jalanan di depan Museum Atatürk dinamakan Kemal Ataturk. Nama tersebut dihapus setelah meletusnya Kerusuhan Istanbul.

Dikutip dari tulisan Alfred de Zayas berjudul 'The Istanbul Pogrom of 6-7 September 1955 in the Light of International Law', Kerusuhan Istanbul merupakan serangan massa terorganisir terhadap minoritas Yunani di Istanbul pada 6-7 September 1955.

Kaum Armenia dan Yahudi di Turki ikut menjadi korban dalam kerusuhan itu.

Peristiwa ini dipicu oleh kabar palsu bahwa konsulat Turki telah dibom sehari sebelumnya. Museum Atatürk turut rusak dalam ledakan tersebut.

Enam tahun kemudian baru diketahui kalau Perdana Menteri Turki, Adnan Menderes, yang memerintahkan pengeboman tersebut.

Menderes meminta maaf dan menawarkan kompensasi, tetapi dijatuhi hukuman mati dengan salah satu tuduhannya mempromosikan ujaran kebencian.

Sayangnya, saat itu media di Turki memilih bungkam atas fakta tersebut dan tetap memberitakan bahwa Yunani bertanggung jawab atas pengeboman itu.

Kerusuhan ini menambah daftar "dosa" Turki di mata dunia, terutama yang pernah dilakukan Atatürk.

Dikutip dari tulisan armenian-genocide.org, Atatürk memerintahkan tentaranya untuk mengusir Prancis dari kawasan selatan Turki, Cilicia, pada tahun 1919.

Namun dalam aksi tersebut, 1,5 juta warga Armenia yang bermukim di sana turut menjadi korban - jumlah yang direvisi Turki menjadi hanya 300 ribu jiwa.

Tourists are visiting Mausoleum of M. Kemal Ataturk - the founder of the Republic of Turkey.Makam Mustafa Kemal Atatürk di Turki. (iStockphoto/themacx)

Dari artikel di CNN International pada tahun 2015 berjudul 'Why Turkey won't say the G-word when it comes to the Armenians', diketahui juga kalau banyak warga Armenia yang tinggal di Turki masih merasa diperlakukan sebagai warga negara kelas dua.

Namun mereka berharap generasi muda di Turki mulai memahami peristiwa yang disebut dunia sebagai genosida.

"Pelajar jauh lebih liberal," kata Diana Van, yang kakek-neneknya lolos dari pembunuhan massal itu.

Van adalah anggota delegasi Armenian Genocide, dan saat diwawancara untuk artikel sedang menulis tesis tentang masalah tersebut di Universitas Ankara.

"Mereka memiliki akses ke informasi alternatif yang ditulis dalam bahasa Inggris, yang tidak diajarkan di sekolah (di Turki). Dengan lebih banyak akses ke buku, ke informasi alternatif, dan dengan proses demokratisasi yang lebih besar, generasi muda Turki bisa memahami sejarahnya."

Satu abad setelah nenek moyangnya dari Armenia lolos dari maut di timur Turki, Van mengatakan dia frustrasi bahwa Turki tidak mau menerima apa yang terjadi.

"Identitasmu ditolak oleh Turki," katanya.

"Mereka tidak ingin menghadapi masa lalu ini. Di Turki, kata Armenia masih digunakan sebagai kutukan. Setiap kali Anda ingin melukai seseorang, Anda berkata, 'Anda seperti orang Armenia.'"

[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)