Pasien Sembuh Covid-19 Masih Rasakan Sesak Napas & Kelelahan

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 19/07/2020 19:32 WIB
Tiga petugas medis mengenakan alat pelindung diri lengkap di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis (30/4/2020). Berdasarkan data pemerintah, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia per Kamis (30/4) secara kumulatif mencapai 10.118 orang atau bertambah sebanyak 347 kasus dari hari sebelumnya, sementara jumlah pasien sembuh mencapai 1.522 orang dan jumlah pasien meninggal sebanyak 792 orang. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww. Ilustrasi: Sejumlah pasien yang sembuh dari Covid-19 mengeluhkan masih mengalami gejala seperti sesak napas dan kelelahan. Beberapa lainnya mengaku kesulitan berpikir. (Foto: ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah pasien infeksi virus corona (Covid-19) yang sudah dinyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit masih merasakan gejala seperti sesak napas dan kelelahan. Seperti yang dialami penyelam profesional Emiliano Pescarolo yang menghabiskan 17 hari dirawat di rumah sakit di Genoa, Italia dan keluar pada April lalu.

Tiga bulan setelah keluar dari rumah sakit, pria usia 42 tahun ini masih merasakan kesulitan bernapas.

"Setelah kembali ke rumah, bahkan setelah berminggu-minggu saya tidak melihat kemajuan: jika saya berjalan-jalan kecil, seperti mendaki Gunung Everest. Saya kehabisan napas juga hanya karena berbicara. Saya sangat khawatir," ungkap Pescarolo, dikutip dari CNN.


Pescarolo juga mengaku kesulitan berkonsentrasi dan sangat khawatir akan kekuatan kognitifnya.

"Terutama ingatan jangka pendek, saya tidak ingat hal-hal sederhana," ucap Pescarolo.

Pescarolo adalah satu dari banyak pasien Covid-19 yang sembuh dan saat ini menjalani perawatan di klinik rehabilitasi di Genoa. Ribuan orang masih khawatir belum sepenuhnya pulih dari Covid-19.

Klinik rehabilitasi itu menemukan sebagian besar pasien mengalami kelelahan.

"Yang paling mengejutkan saya adalah bahwa bahkan pasien yang tidak dirawat di ICU sangat lemah: tidak ada bukti masalah kardiologis atau paru, tetapi mereka bahkan tidak dapat berjalan menaiki tangga. Sebagian besar menunjukkan kelemahan otot yang serius," kata direktur pusat rehabilitasi itu Piero Clavario.

Selain itu, 50 persen pasien Covid-19 sembuh yang tiba di pusat rehabilitasi tersebut mengalami masalah psikologis, dan 15 persen mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Pasien menunjukkan perbaikan yang positif setelah berolahraga di pusat rehabilitasi.

Selain di Italia, di Inggris, muncul pula komunitas "Long Covid" untuk para penyintas Covid-19. Komunitas ini berbagi dampak jangka panjang yang dialami orang yang sudah sembuh dari infeksi virus corona. Lebih dari 8.500 orang telah bergabung dengan Long Covid Support Group di Facebook sejak dibentuk oleh penderita Covid-19 pada Mei 2020 lalu.

Salah satu administrator grup itu, Margaret O'Hara menuturkan, tak bisa berjalan dengan leluasa setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19.

"Sekarang saya merasa saya kembali ke pada minggu keempat atau kelima (saat menderita Covid-19). Saya tidak bisa berjalan jauh," cerita O'Hara.

Selain itu, O'Hara juga mengalami kesulitan berpikir. "Saya punya kabut otak, tidak bisa berfungsi. Saya memiliki gelar PhD dalam fisika dan saya tidak bisa berpikir," kata dia.

INFOGRAFIS AGAR TAK TERTULAR VIRUS CORONAFoto: CNN Indonesia/Fajrian
INFOGRAFIS AGAR TAK TERTULAR VIRUS CORONA

Gejala yang sama dirasakan oleh Grace Dolman di Cambridge yang merasa sakit pada Maret lalu, tapi negatif virus corona.

"Saya memiliki kabut otak yang sangat buruk, ingatan saya sangat buruk, saya tidak dapat berkonsentrasi, saya benar-benar emosional dan benar-benar lelah, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan sekarang, pada minggu ke-17, saya masih belum bisa bekerja, hanya bisa mengatur dua jam aktivitas dan saya harus berbaring," kata Dolman.

Masih belum diketahui secara pasti penyebab gejala-gejala seperti kelelahan, sulit bernapas, dan gangguan berpikir itu muncul setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19

Studi yang ada menunjukkan bahwa virus corona adalah penyakit multi-sistem yang tidak hanya dapat merusak paru-paru, tetapi juga ginjal, hati, jantung, otak, sistem saraf, kulit, dan saluran pencernaan.

(ptj/NMA)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK