Sudut Cerita

Kungkungan Dilema Laras di 'Klaster Perkantoran'

tim, CNN Indonesia | Selasa, 28/07/2020 13:59 WIB
Sejak beberapa minggu lalu, klaster perkantoran virus corona mencuat, Laras pun merasa makin was-was dengan berbagai kemungkinan penularan. Foto: Sejak beberapa minggu lalu, klaster perkantoran virus corona mencuat, Laras pun merasa makin was-was dengan berbagai kemungkinan penularan.(Istockphoto/SARINYAPINNGAM)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejak beberapa minggu lalu, klaster perkantoran virus corona mencuat, Laras - bukan nama sebenarnya- merasa makin was-was dengan berbagai kemungkinan penularan.

Airborne dan juga klaster perkantoran. Makin lengkap kekhawatirannya. Apalagi pekan lalu, sejak aturan work from office diberlakukan kembali, bos di kantornya menerapkan aturan 'klasik' kembali.

'Pertemuan tatap muka banyak peserta sampai ajakan olahraga bersama," kata Laras kepada CNNIndonesia.com.


Sebenarnya kantor tempatnya bekerja ini sudah beberapa kali menginisiasi rapid test dan swab. Namun tak semua karyawan bisa ikut, hanya petinggi-petinggi kantornya saja yang bisa ikut. Laras tak kedapatan ikut tes tersebut.

Namun tes selanjutnya, semua karyawan diwajibkan untuk ikut rapid tes. Hasilnya ada beberapa yang reaktif. Dan ketika diswab hasilnya positif.

"Saya tak terlalu gimana-gimana saat itu, tapi ada satu hal yang membuat akhirnya jadi waspada lagi karena ada kasus covid-19 di kantor."

Awal bulan lalu, salah seorang temannya meninggal dunia karena terinfeksi virus corona.

"Tapi almarhumah bukan orang yang waktu itu ikut rapid di kantor. Dia tidak enak badan lalu ikut rapid dan swab berkali-kali hasilnya negatif tapi dia merasa masih sakit dan akhirnya tes ketiga dinyatakan positif."

Teman kantornya pun meninggal dunia. Berita duka menyebar ke seluruh kantor. Awal bulan lalu kantornya memutuskan untuk kembali melakukan work from home (wfh).

Akan tetapi, sehari setelah kejadian tersebut, Laras dan kawan-kawannya sekantor mendapat pesan digital yang meminta mereka untuk masuk kantor keesokan harinya. Sehari setelahnya para pejabat kantor diminta masuk kantor, sedangkan Laras dan kawan-kawan masuk minggu lalu.

"Kantor enggak boleh tutup," ucapnya.

Dalam kurun waktu seminggu, kantornya pun melakukan berbagai aktivitas normal. Namun diakuinya protokol kesehatan tetap dilakukan oleh kantor dan juga perorangan.

Hanya saja berbagai pertemuan tatap muka masih dilakukan. Terus terang, Laras sempat ketakutan dan ogah-ogahan untuk ikut pertemuan tersebut.

"Tapi saya dan teman-teman tak bisa berbuat apa-apa karena itu perintah bos."

Setiap hari, Laras berangkat ke kantor dengan perasaan was-was. Suaminya memiliki penyakit lain dan anak-anaknya masih kecil. Keduanya termasuk kelompok rawan infeksi virus corona.

"Saya bingung harus bagaimana, inginnya wfh tapi kantor minta wfo (work from office). Mau cuti pun jumlahnya sudah enggak mencukupi lagi jatahnya."

Dengan berat hati, dia berangkat ke kantor sambil mengklaim dirinya tetap menjaga protokol kesehatan dengan masker dan mencuci tangan.

Seminggu setelahnya, kantor Laras kembali melakukan tes swab. Bak disambar petir, ada lebih dari 10 orang yang positif terinfeksi virus corona. Berita kembali simpang-siur tak keruan. Bahkan dengar-dengar satu orang yang pulang semobil jemputan dengan Laras positif covid-19. Dia semakin panik.

Ditambah lagi kantornya saat itu masih tak juga mengambil keputusan dan aturan baru. Bahkan, kata Laras, bosnya yang saat itu sempat disebut positif covid-19 masih sempat mengajak kumpul-kumpul antar karyawan.

"Saya langsung panik dan langsung memutuskan untuk swab mandiri. Soalnya saya kontak langsung dengan dia," kata Laras.

Esoknya, dia dan suaminya pun bergegas tes ke rumah sakit di dekat rumahnya. Sambil harap-harap cemas menunggu hasil, dia melakukan isolasi mandiri di rumahnya. Hasil tersebut menyatakan dia negatif virus corona.

Sebuah pesan online dari bosnya mengungkapkan aturan baru terkait hasil tersebut. Sebagai solusinya, kantornya menerapkan aturan WFH selama seminggu.

"Saya cuma minta kan sudah ada bukti nyata di kantor ada yang positif kenapa keputusan yang diambil malah WFO dan tatap muka juga?"

"Kami staf bawah, pusing, mumet, dan ketakutan. Malah bantah sana-sini soal klaster perkantoran baru dan sibuk klarifikasi soal ini, sementara kami stafnya di kantor ketakutan."

(chs)

[Gambas:Video CNN]