Studi: 83 Persen Nakes Alami Burnout Sedang sampai Berat

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 04/09/2020 21:00 WIB
Studi mendapati 82 persen tenaga kesehatan mengalami burnout sedang, sementara 1 persen burnout tingkat berat. Pada level berat, burnout akan sulit ditangani. Ilustrasi: Studi mendapati 82 persen tenaga kesehatan mengalami burnout sedang, sementara 1 persen burnout tingkat berat. Pada level berat, burnout akan sulit ditangani. (Foto: AP/Jae C. Hong)
Jakarta, CNN Indonesia --

Studi terbaru yang digawangi peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mendapati 83 persen dokter dan tenaga kesehatan mengalami burnout syndrome derajat sedang sampai berat. Kondisi burnout terjadi ketika mereka bekerja selama pandemi virus corona.

Rincian data menunjukkan 83 persen terdiri atas, 82 persen di antaranya di tingkat burnout sedang dan 1 persen lainnya burnout berat. Sementara 17 persen sisanya mengalami burnout ringan.

Persentase burnout berat kendati tercatat satu persen, menurut Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi Dwi Sumaryani Soemarko yang juga ketua penelitian ini, tak bisa dianggap enteng. Gambaran tersebut dinilai amat mengkhawatirkan mengingat, burnout sedang pun berpotensi kian parah hingga ke level berat.


"Ini harus waspada karena begitu masuk berat, sulit ditangani. Harus segera dilakukan sesuatu karena berdampak pada pekerjaan tenaga kesehatan sebagai garda terdepan penanganan Covid-19," kata Dewi saat memaparkan hasil penelitian dalam konferensi pers virtual, Jumat (4/9).

Penelitian terbaru FKUI menganalisis prevalensi burnout pada tenaga kesehatan di masa pandemi. Studi dilakukan dengan metode potong lintang melalui survei online pada tenaga kesehatan di seluruh Indonesia.

Sebanyak 1.461 tenaga kesehatan yang terdiri atas dokter, dokter spesialis, dokter gigi, perawat bidan, apoteker, dan analis laboratorium di 34 provinsi di Indonesia mengisi kuesioner pada rentang Juni-Agustus 2020.

Partisipan berusia 18-63 tahun dengan masa kerja berkisar 6 bulan hingga 32 tahun. Selama masa pandemi Covid-19, responden mengaku jam kerja menurun, dari yang sebelumnya antara 43-14 jam per minggu menjadi 38-15 jam per minggu.

Mayoritas responden atau sekitar 55 persen menyatakan pernah menangani pasien Covid-19. Hasil penelitian menunjukkan semua dokter dan tenaga kesehatan mengalami burnout pada tingkatan yang berbeda.

Sementara berdasarkan jenis profesi, dokter umum mengalami burnout sedang 81 persen, dokter spesial 80 persen, dokter gigi 82 persen, perawat 84 persen, bidan 83 persen, petugas laboratorium 87 persen, dan apoteker 84 persen.

Infografis Kenali Stres Lewat kulitFoto: CNN Indonesia/Laudy Gracivia
Infografis Kenali Stres Lewat kulit

Mengenali Burnout Syndrome Tenaga Kesehatan

Secara medis, burnout adalah sindrom atau sekelompok gejala yang disebabkan oleh stresor dan konflik di tempat kerja. Burnout tergolong penyakit yang dapat diagnosis secara klinis.

Terdapat tiga gejala utama burnout yakni keletihan emosi, kehilangan empati, dan berkurangnya rasa percaya diri. Burnout yang tidak diatasi bakal berdampak buruk pada kinerja tenaga kesehatan dan berpengaruh pada kesehatan fisik dan juga mental.

Dalam kasus ini, mayoritas tenaga kesehatan mengalami tiga gejala utama burnout. "Dari tiga gejala burnout yang paling tinggi dialami adalah keletihan emosi," ungkap Dewi.

Hasil penelitian menunjukkan sekitar 41 persen tenaga kesehatan mengalami keletihan emosi derajat sedang dan berat. Sementara 22 persen mengalami kehilangan empati sedang dan berat. Sebanyak 52 persen mengalami kurang percaya diri derajat sedang dan berat.

Menurut Dewi, umumnya burnout berawal dan kelelahan di tempat kerja dan dipengaruhi oleh berbagai faktor atau stresor lainnya.

Studi juga mendapati, tenaga kesehatan yang sudah menikah 1,3 kali lebih mungkin mengalami keletihan emosi. Jenis pekerjaan dokter umum 1,6 kali lebih mungkin mengalami gejala kehilangan empati dibandingkan tenaga kesehatan lainnya.

Untuk mencegah burnout semakin parah pada tenaga kesehatan, peneliti menyarankan agar tenaga kesehatan memahami gejala-gejala burnout dan melakukan pencegahan dini. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan pun disarankan untuk memfasilitasi layanan konseling psikologis untuk tenaga kesehatan.

"Karena begitu masuk burnout sedang, harus segera ditolong," ujar Dewi.

Dewi menjelaskan burnout dalam kategori berat membutuhkan bantuan psikiater. Burnout yang tidak diatasi akan berdampak pada kesehatan mental seperti depresi dan memicu munculnya berbagai penyakit fisik bahkan kematian.

[Gambas:Video CNN]

(ptj/NMA)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK