Peneliti Ingatkan Lonjakan Kasus Ginjal Kronis Akibat Pandemi

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 15/09/2020 16:06 WIB
Studi terhadap hampir 4.000 pasien Covid-19 menunjukkan infeksi virus corona berpotensi membawa dampak berat dan meningkatkan risiko ginjal kronis. Ilustrasi: Studi terhadap hampir 4.000 pasien Covid-19 menunjukkan infeksi virus corona berpotensi membawa dampak berat dan meningkatkan risiko ginjal kronis. (Foto: iStockphoto/SvetaZi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti dari Fakultas Kedokteran Icahn di Mount Sinai menyarankan ahli nefrologi perlu mempersiapkan potensi peningkatan kasus penyakit ginjal kronis akibat pandemi Covid-19. Peringatan ini diutarakan menyusul hasil studi terhadap hampir 4.000 pasien terinfeksi virus corona yang menunjukkan lonjakan risiko ginjal rusak dan keperluan dialisis ginjal.

Studi yang dipublikasikan pada 3 September 2020 di Journal of teh Americal Society of Nephrology menunjukkan, cedera akut ginjal atau acute kidney injury (AKI) terjadi pada 46 persen pasien. Sebanyak seperlima di antaranya membutuhkan dialisis ginjal.

"Kami bergulat dengan banyak ketidakpastian tentang bagaimana virus ini akan berdampak pada ginjal dalam jangka panjang," tulis peneliti utama, Girish Nadkarni dikutip dari laman resmi Mount Sinai.


"Kami mungkin menghadapi epidemi penyakit ginjal pasca-Covid-19, dan itu, pada gilirannya bisa berarti lebih banyak pasien yang memerlukan dialisis gindal dan bahkan transplantasi ginjal," tambah Nadkarni yang juga Wakil Direktur Pusat Informatika COVID, Direktur Klinis di Hasso Plattner Institute for Digital Health dan, Asisten Profesor Kedokteran (Nefrologi) di Icahn School of Medicine di Mount Sinai.

Para peneliti melakukan studi observasi retrospektif terhadap 3.993 pasien berusia 18 tahun ke atas dan dirawat di rumah sakit Mount Sinai Health System di New York antara 27 Februari hingga 30 Mei 2020.

Studi juga mendapati, angka kematian di rumah sakit mencapai 50 persen di antaranya pasien dengan cedera akut ginjal (AKI), dibandingkan dengan 8 persen di antaranya tidak menderita cedera akut ginjal.

Sementara 30 persen di antaranya tengah mengalami cedera akut ginjal namun masih bertahan dan menjalani pemulihan ginjal.

Penulis senior studi, Benjamin Glicksberg yang merupakan asisten profesor genetika dan ilmu genom di Icahn School of Medicine dan Institute for Digital Health mengatakan, berdasarkan data yang dikumpulkan mengenai cedera akut ginjal (AKI) dan kelainan ginjal lain terkait Covid-19, prioritas utama adalah identifikasi dini pasien dan mengamati perkembangan penyakit ginjal.

"Kami saat ini menggunakan pembelajaran mesin untuk membangun model yang dapat memprediksi hasil seperti ini ke depannya, yang bisa dinilai oleh Mount Sinai dan disebarluaskan ke rumah sakit lain di seluruh negeri," tambah Glicksberg.

Sementara Nadkarni menambahkan, banyaknya kasus cedera akut ginjal (AKI) dan kebutuhan dialisis berkaitan dengan konteks kasus Covid-19 ini sebelumnya belum pernah terjadi. Itu sebab temuan ini dapat membantu sistem kesehatan mempersiapkan diri terkait tingginya tingkat disfungsi ginjal pada pasien terinfeksi virus corona.

(NMA)

[Gambas:Video CNN]