Mengenal Silent Hypoxia, yang Jarang Disadari Pasien Covid-19

tim, CNN Indonesia | Senin, 24/08/2020 15:50 WIB
Silent hipoxia atau happy hypoxia merupakan kondisi yang jarang disadari pasien Covid-19. Padahal kurangnya kadar oksigen berpotensi memperparah komplikasi. Ilustrasi: Silent hypoxia atau happy hypoxia merupakan kondisi yang jarang disadari pasien Covid-19. Padahal kurangnya kadar oksigen berpotensi memperparah komplikasi. (Foto: AP/Rahmat Gul)
Jakarta, CNN Indonesia --

Beberapa kasus menemukan bahwa sejumlah pasien positif virus corona mengalami silent hypoxia atau hipoksia senyap. Kondisi ini terjadi ketika pasien tidak tampak sesak-napas, namun pemeriksaan oksimetri nadi menemukan kadar oksigen yang lebih rendah dari normal.

Istilah silent atau senyap sendiri digunakan karena fakta bahwa pasien tak tampak sesak napas. Mereka tidak terengah-engah, tak mengalami peningkatan laju pernapasan, tidak mengeluh sesak atau terlihat nyaman-nyaman saja.

Padahal kebanyakan orang ketika kadar oksigennya mulai turun ke angka 80an atau lebih rendah, akan merasa sesak napas dan tak nyaman. Namun beberapa dokter seperti dikutip dari News Medical menduga, alasan pasien tak mengalami sesak napas kemungkinan karena tingkat karbondioksida masih normal.


Mengapa silent hypoxia atau juga dikenal dengan happy hypoxia terjadi pada beberapa pasien Covid-19?

Dalam sebuah wawancara mengenai silent hypoxia, dokter Albert Rizzo seorang ahli paru sekaligus Kepala Petugas Medis untuk American Lung Assosiation menjelaskan ada yang berbeda dari virus SARS-CoV-2 ini berdampak pada pembuluh darah dan saluran udara.

Mekanisme mengapa kadar oksigen turun berkaitan dengan seberapa baik aliran darah melalui paru-paru cocok dengan aliran udara ke paru-paru. Untuk beberapa alasan yang belum dapat diidentifikasi, pada pasien tertentu virus itu mempengaruhi keduanya, pembuluh darah di paru-paru dan kantung udara di paru-paru.

"Ketidakcocokan keduanya bisa mengakibatkan kadar oksigen turun," tutur Albert Rizzo dikutip dari News Medical.

Sementara mengapa pasien tidak merasakan sesak padahal kadar oksigen turun, itu masih menjadi misteri. Masih banyak hal yang perlu dipelajari dari Covid-19 yang belum betul-betul selesai.

Sebagaimana informasi lain mengenai Covid-19 yang masih mengandalkan pengumpulan data, kondisi silent hypoxia pada pasien pun masih dalam penelitian. Boleh jadi, masih banyak pasien Covid-19 yang menderita hipoksemia namun terlewat dicatat karena didiagnosis dengan gejala lain seperti demam atau batuk.

Infografis Beda Tes Corona: Rapid Tes, Antigen, PCRFoto: CNNIndonesia/Basith Subastian
Infografis Beda Tes Corona: Rapid Tes, Antigen, PCR

Saran Ahli untuk Pasien Covid-19 dengan Silent hypoxia

American Lung Association menyarankan para pasien untuk mengenali kondisi tubuh dan mengkomunikasikan dengan petugas kesehatan. Ini bisa dilakukan terlebih dulu melalui telemedicine.

"Misalnya melalui panggilan telepon, daripada harus langsung ke kantor pelayanan kesehatan," tutur dia.

Penting pula untuk mengenali gejala seperti demam, batuk, malaise atau pegal tanpa sebab, kondisi tubuh yang di luar kebiasaan, dan jangan hanya mengandalkan angka denyut nadi sebagai tolok ukur peringatan pertama.

Anda juga perlu memperhatikan kemungkinan gejala yang Anda alami dan membandingkan dengan pedoman yang dikeluarkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC). Atau jika di Indonesia, bisa menyimak informasi dari laman resmi Satgas Covid-19 ataupun organisasi masyarakat Kawal Covid-19.

Apakah pasien Covid-19 dengan hipoksia lebih berisiko dan perlu perawatan khusus?

Jawabannya iya. Albert Rizzo menjelaskan, sekitar 80 persen pasien Covid-19 memang mengalami gejala ringan. Namun begitu terlihat penurunan kadar oksigen, kondisi ini akan membuat pasien berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi.

"Mereka adalah orang-orang yang akan diberi oksigen tambahan dan mereka yang paling berpotensi dirawat di rumah sakit dan menjalani pemantauan," tulis dia lagi.

Bergantung pada uji klinis, beberapa obat dapat mulai diberikan. Dukungan terbesar yang bisa diberikan dokter adalah mendeteksi hipoksia sejak dini dan mulai mengobati dengan memberikan oksigen tambahan.

Sebab ketika kadar turun, maka dengan segera organ tubuh lain pun berada dalam risiko. Seperti jantung, ginjal, otak dan hati. Karena itu untuk mencegah kerusakan organ lain, salah satunya adalah dengan memperbaiki kadar oksigen yang rendah.

Itu sebab American Lung Association meminta publik maupun tenaga kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan individu. Misalnya, lebih peduli mengenali setiap kemungkinan gejala yang dialami, identifikasi awal hingga komunikasi pasien dengan penyedia layanan kesehatan.

"Menurut saya, memberikan lebih banyak informasi tentang kondisi sebenarnya dan sejumlah gejala yang dirasa dialami adalah cara terbaik untuk memastikan deteksi cepat dan identifikasi. Termasuk identifikasi hipoksemia," tambah Albert Rizzo.

Pelbagai keterangan itu akan membantu dokter atau hali untuk tepat memutuskan apakah pasien dalam kategori ringan, sedang, berat dan seberapa perlu dirawat di rumah sakit.

(NMA/NMA)

[Gambas:Video CNN]