Larangan Masker Scuba Karena Bahan Tipis dan Rawan Longgar

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 18/09/2020 11:23 WIB
Masker scuba dinilai tak efektif menangkal Covid-19 karena bahannya yang tipis dan rawan longgar. Namun ahli merekomendasikan cara meningkatkan masker scuba. Ilustrasi: Masker scuba dinilai tak efektif menangkal Covid-19 karena bahannya yang tipis dan rawan longgar. Namun ahli merekomendasikan cara meningkatkan fungsi masker scuba. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Larangan masker scuba dan buff belakangan mengemuka setelah PT Kereta Commuter Indonesia mengumumkan anjuran pemakaian jenis masker yang efektif. Penumpang disarankan menggunakan masker dengan persentase tertentu untuk menahan droplet, demi mencegah penyebaran virus corona.

Masker scuba dan buff disebut memiliki efektivitas rendah dalam menangkal virus, bakteri dan, debu. Tingkat efektivitas keduanya antara 0-5 persen, angka ini jauh di bawah masker kain tiga lapis dengan persentase efektivitas 50-70 persen.

Praktisi klinis sekaligus relawan Covid-19, dokter Muhamad Fajri Adda'i mengungkapkan, masker scuba dibuat dari bahan tipis yang elastis. Selain itu masker jenis ini hanya terdiri atas satu lapisan kain dan punya kecenderungan melonggar.


"Masker scuba itu tipis satu lapis, tidak efektif, karena bahannya neoprene, cenderung elastis. Jika ditarik, pori akan membesar. Padahal kita butuh kemampuan filtrasinya," terang Fajri yang merupakan spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi (paru) ini dikutip dari Antara.

Merujuk pada penelitian ilmiah dalam jurnal ACS Nano belum lama ini, Fajri memaparkan, kemampuan electrostatic atau penyaring terhadap partikel-partikel yang lebih kecil jadi poin penting dalam kasus ini.

Bahan sutera atau silk empat lapis bisa menyaring banyak partikel, diikuti chiffon yang merupakan gabungan 90 persen poliester dan 10 persen spandeks, lalu flanel yang terdiri atas 65 persen katun dan 35 persen poliester.

Mengenai standar masker non-medis, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Satgas Covid-19 merekomendasikan kain tiga lapis yakni lapisan dalam yang menyerap, lapisan tengah untuk menyaring dan lapisan luar yang terbuat dari bahan seperti poliester.

Penelitian dari Universitas Illinois menemukan, tiga lapis kain 100 persen katun sama protektifnya seperti masker bedah atau medis.

Meski begitu, menurut Fajri, katun cult dua lapis sebenarnya sudah memberikan perlindungan. Jenis katun ini memiliki kerapatan 180 benang per inci dengan ketebalan 0,5 sentimeter.

"Cotton cult paling bagus untuk [menyaring] partikel besar dan lebih kecil, 180 thread per inci, ketebalannya setengah sentimeter," jelas Fajri yang juga tergabung dalam Junior Doctor Network Indonesia itu.

Infografis Jenis Masker Mana yang Lebih Efektif untuk Cegah Corona?Foto: CNN Indonesia/Fajrian
Infografis Jenis Masker Mana yang Lebih Efektif untuk Cegah Corona?

Cara Upgrade Masker Scuba

Bagi Anda yang sudah telanjur membeli masker scuba, Anda bisa melapisinya dengan dua lapis kain katun agar bisa lebih tebal.

"Memang belum ada sepertinya penelitian yang menguji kombinasi scuba dan katun dua lapis. Tetapi setidaknya katun dua lapisnya yang akan memberikan proteksi utama. Jadi mungkin katun duluan (di depan baru scuba)," tutur Fajri.

Saran lain diungkapkan ahli epidemiologi Budi Laksono. "Sebenarnya mudah sekali untuk meng-updgrade masker scuba menjadi sehat," kata akademisi dari Universitas Diponegoro (Undip) ini kepada CNNIndonesia.com.

Menurut Budi, Anda bisa memakai double scuba dan melapisi bagian tengahnya dengan tisu 2 lapis.

"Kami membuktikan, ini sudah setara dengan masker bedah. Maka jangan buang atau sia-siakan yang sudah dibeli, tinggal dipakai ulang dengan double, dengan tisu di tengah," sambung dia.

Budi menuturkan, penggunaan masker kini menjadi hal yang krusial karena faktanya kendati telah diterapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kasus positif masih saja merangkak naik. Ada sejumlah dugaan sebab masih tingginya kasus Covid-19.

Masker scuba yang tipis dan renggang tekstur kainnya diduga jadi salah satu faktor yang menimbulkan problem. Tapi pelbagai anggapan atau asumsi sebab dari lonjakan kasus masih perlu diuji.

"Ada beberapa hipotesis mengapa masih tingginya penularan, walau penggunaan masker lebih baik, sedikit. Selain kluster kantor, pabrik, di mana-mana banyak orang menanggalkan masker di pabrik dan kantor, penggunaan masker tidak memenuhi syarat menjadi thesis yang perlu dikaji," kata dia lagi.

Sejak awal Budi mengajukan konsep masker kain 2 lapis dengan menyelipkan tisu. Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip ini menyebutnya dengan BC19 alias, kependekan dari Basmi Covid-19.

"Ini berdasarkan kajian bahwa tisu yang terbentuk dari randomized fibre construction mempunyai pori yang sangat kecil, yang konsepnya sama dengan hepa filter," tutur dia lagi.

Hingga kini di Indonesia sendiri belum ditemukan standar khusus mengenai masker yang efektif dan aman. Satu-satunya panduan mengenai masker medis dan non-medis ini diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan diperbarui pada 5 Juni 2020.

Sejak pandemi Covid-19 menjalar ke berbagai negara dunia pada pengujung 2019, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan salah satu cara efektif mengerem penyebaran virus corona adalah dengan memakai masker. Tak langsung berbuah anjuran pemakaian, mulanya WHO pun menyarankan masker hanya dipakai untuk orang sakit. Namun lambat laun seiring perkembangan kasus dan temuan mengenai virus corona, anjuran kebijakan diperbarui.

Penggunaan masker kemudian dianjurkan ketika seseorang berada di ruang terbuka atau ruang publik. Belakangan saat ada temuan bahwa droplet yang mengandung virus SARS-CoV-2 berpotensi menjadi aerosol (partikel yang lebih kecil), penggunaan masker juga dianjurkan ketika ada di ruang tertutup seperti saat di kantor atau fasilitas pelayanan publik.

(NMA/NMA)

[Gambas:Video CNN]