Studi Temukan Anosmia Jadi Gejala Corona yang Paling Khas

Tim, CNN Indonesia | Senin, 21/09/2020 06:32 WIB
Beberapa studi menemukan gejala anosmia pada pasien Covid-19 menempati persentase yang tinggi dan diduga terindikasi sebagai gejala corona paling khas. Ilustrasi: Beberapa studi menemukan gejala anosmia pada pasien Covid-19 menempati persentase yang tinggi dan diduga terindikasi sebagai gejala corona paling khas. (Foto: iStockphoto/microgen)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah studi terhadap pasien Covid-19 di Italia menunjukkan anosmia atau hilangnya kemampuan indra penciuman dan perasa jadi gejala corona yang paling khas ditemukan. Penelitian pada Mei 2020 ini dipublikasikan di jurnal JAMA Network.

Pada awal virus penyebab Covid-19 ini berjangkit, sejumlah gejala berupa batuk, demam dan sesak napas jadi pertanda yang patut diwaspadai. Kendati, tak semua gejala tersebut mengarah pada infeksi virus corona. Terlebih, musim pancaroba boleh jadi membuat kondisi tubuh menurun dan menimbulkan gejala serupa.

Apalagi, gejala Covid-19 kerap memiliki kemiripan dengan penyakit flu.


Sebuah penelitian di Italia menemukan 64 persen dari 202 pasien dengan gejala ringan tercatat mengalami gangguan penciuman. Studi lain di Iran mendapati, 59 dari 60 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit mengalami gangguan dan distorsi indra penciuman. Hal ini sering dilaporkan pada kasus ringan atau bahkan tanpa gejala.

Melansir Times of India, merujuk studi skala luas pada Mei 2020 perihal temuan anosmia sebagai gejala corona paling khas, virus ini disebut menyerang indera penciuman dan memblokir fungsi vitalnya untuk sementara.

Tidak hanya pasien yang memiliki gejala, anosmia juga terjadi ada mereka yang asimptomatik atau tidak bergejala.

Mulai kini, disarankan untuk tak lagi menyepelekan anosmia. Bahkan pada kasus flu akut, gejala anosmia jarang terjadi. Pada Covid-19, anosmia bisa terjadi lebih parah tanpa ada hidung tersumbat.

Hal tersebut sejalan dengan studi skala kecil di Amerika Serikat. Arnold Monto, ahli epidemiologi di University of Michigan School of Public Health dan Carl Philpot, ahli THT (Telinga-Hidung-Tenggorok) di University of East Anglia meneliti perbedaan flu dan Covid-19.

Sebanyak 30 orang menjalani tes rasa dan bau. Mereka dibagi tiga kelompok antara lain 10 orang telah didiagnosis Covid-19, 10 orang menderita flu parah da 10 orang sehat.

Keduanya menemukan, kelompok dengan Covid-19 rentan mengalami kehilangan kemampuan mengecap dan membau. Sedangkan pada kelompok dengan flu parah tercatat hanya 4 orang yang tidak bisa mengenali bau dan rasa.

Meski demikian studi ini memiliki kekurangan karena tidak ada alat deteksi anosmia yang diakui. Peneliti pun berkata mungkin anosmia bukan satu-satunya gejala yang musti diwaspadai tetapi bisa dijadikan deteksi dini sederhana di rumah.

(els/NMA)

[Gambas:Video CNN]