Alasan Orang dengan Obesitas Lebih Rentan Corona

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 30/09/2020 10:31 WIB
Sejak pandemi dimulai, sejumlah penelitian telah menyebutkan bahwa orang dengan obesitas rentan terhadap infeksi virus corona. Mengapa demikian? Ilustrasi. Sejak pandemi dimulai, sejumlah penelitian telah menyebutkan bahwa orang dengan obesitas rentan terhadap infeksi virus corona. (Istockphoto/MediaProduction)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejak pandemi dimulai, sejumlah penelitian telah menyebutkan bahwa orang dengan obesitas lebih rentan terhadap Covid-19.

Salah satu yang terbesar adalah metanalisis yang diterbitkan dalam jurnal Obesity Reviews pada Agustus lalu. Peneliti mengumpulkan data dari sejumlah studi terhadap 399 ribu pasien Covid-19.

Hasilnya, orang dengan obesitas 113 persen lebih mungkin tertular virus SARS-CoV-2 daripada mereka dengan berat badan normal. Selain itu, pasien Covid-19 dengan obesitas juga 74 persen lebih mungkin untuk menjalani perawatan intensif di ICU, dengan persentase kematian yang mencapai 48 persen.


Bukan tanpa alasan orang dengan obesitas lebih rentan terhadap Covid-19. Obesitas mengarah pada beberapa kondisi medis yang serius seperti gangguan kekebalan tubuh, peradangan kronis, hingga penggumpalan darah. Kesemuanya dapat memperburuk Covid-19 yang diderita.

Orang dengan obesitas lebih mungkin memiliki penyakit komorbid daripada orang lain dengan berat badan normal. Sebagaimana diketahui, penyakit komorbid menjadi faktor utama yang bisa memperparah Covid-19 seperti gangguan jantung, penyakit pada paru-paru, dan tekanan darah tinggi.

Center for Disease and Control Prevention (CDC) Amerika Serikat mendefinisikan kelebihan berat badan dengan angka BMI 25-29,9 kg/m2. Sementara obesitas ditetapkan dengan angka BMI 30 kg/m2 atau lebih.

Mengutip Science, patologi fisik yang membuat orang dengan obesitas rentan terhadap Covid-19 muncul melalui beberapa mekanisme.

Pertama, adalah melalui keberadaan lemak pada perut. Lemak pada perut dapat mendorong dan menyebabkan otot diafragma mengenai paru-paru hingga membatasi aliran udara. Hal tersebut pada akhirnya menyebabkan kolapsnya saluran udara di lobus bawah paru-paru.

Kedua, kondisi di atas diperparah lagi dengan masalah lain, yakni penggumpalan darah yang kerap terjadi pada orang dengan obesitas. Kondisi tersebut bisa memicu risiko yang serius selama infeksi dengan timbulnya pembekuan darah.

Ketiga, kekebalan tubuh juga melemah pada orang dengan obesitas. Sebagian di antaranya disebabkan oleh sel lemak yang menyusup ke organ tempat sel kekebalan diproduksi dan disimpan.

"Orang dengan obesitas akan kehilangan jaringan kekebalan. Hal itu membuat sistem kekebalan menjadi kurang efektif melindungi tubuh," ujar ahli nutrisi Catherin Andersen.

Sebuah metanalisis yang diterbitkan dalam Obesity Reviews juga memperlihatkan bahwa sel T-sel kekebalan tubuh yang utama-tidak berfungsi dengan baik dalam keadaan obesitas. Studi juga menemukan bahwa vaksin flu tidak bekerja dengan baik pada orang dengan obesitas.
Akibatnya, orang dengan obesitas tetap berisiko terinfeksi virus.

Keempat, penderita obesitas juga menderita peradangan kronis. Sel lemak mengeluarkan beberapa zat kimia pemicu peradangan yang disebut hormon sitokin. Hasilnya, aktivitas sitokin menjadi kian tidak terkendali. Kondisi ini menjadi salah satu ciri peradangan parah dan bisa menyebabkan kerusakan jaringan.

Dengan berbagai alasan ini, orang dengan obesitas disarankan untuk lebih berhati-hati demi menjaga diri agar aman dari infeksi. Orang dengan obesitas juga disarankan untuk rutin berolahraga demi menghindari keparahan Covid-19.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK