Pesta Terakhir di Kelab Malam Legendaris Korea Selatan

CNN Indonesia | Rabu, 30/09/2020 14:50 WIB
MWG menikmati masa kejayaannya di tahun 1990-an ketika kelab musik skena bawah tanah belum banyak bermunculan di Negara Kimchi itu. Keriaan di kelab malam Club MWG saat konser virtual pada September 2020. (AFP/JUNG YEON-JE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Terselip di antara lampu neon yang menyilaukan di distrik kehidupan malam Seoul, Club MWG, salah satu tempat musik skena bawah tanah yang tertua di ibu kota Korea Selatan, menutup pintunya akhir pekan lalu saat pandemi virus corona mulai menghantam dunia.

Didirikan pada tahun 1994, Club MWG menikmati masa kejayaannya di tahun 1990-an ketika kelab musik skena bawah tanah belum banyak bermunculan di Negara Kimchi itu.

Sebuah ruangan yang tak begitu luas dan berkapasitas 200 orang ini berada di distrik Hongdae, yang terkenal dengan pertunjukan band indie, DJ, serta acara pesta LGBT.


Namun dalam beberapa dekade terakhir, tempat tersebut mati-matian berjuang dengan meningkatnya persaingan karena distrik tersebut menjadi lebih komersial.

Kemudian pandemi virus Covid-19 dimulai - sejak Mei, kelab malam di Seoul berulang kali dihadapkan pada perintah penutupan, yang menjadi isyarat ditutupnya pintu Club MWG untuk selamanya.

"Rasanya seolah-olah anggota tubuh saya terburai," kata pemilik klub Kim Eun-hui kepada AFP tentang penutupan tersebut.

Kim bahkan telah mengambil banyak pekerjaan - pekerja konstruksi, guru les, dan petugas kebersihan paruh waktu - demi mencoba dan menjaga bisnis tetap berjalan.

Tetapi sejak pembatasan virus, dia belum bisa mendapatkan cukup uang untuk membayar sewa tempat tersebut.

"Saya tidak ingin menyerah ... tetapi akhirnya saya terpaksa menyerah pada virus corona," katanya.

This picture taken on September 26, 2020 shows guests enjoying music during a farewell party of the underground music club MWG in the Hongdae nightlife district of Seoul as the club shuts down due to the COVID-19 coronavirus pandemic. - Tucked away in the dazzling neon of Seoul's Hongdae nightlife district, Club MWG used to be the area's oldest-running underground clubs -- until it became one of the latest victims of the coronavirus pandemic. (Photo by Jung Yeon-je / AFP)Pesta terakhir di kelab malam legendaris Korea Selatan, Club MWG, pada 26 September 2020. (AFP/JUNG YEON-JE)

Kritikus budaya mengatakan kelab malam itu berperan penting dalam menciptakan skena musik unik di Hongdae pada 1990-an, ketika dikenal dengan pertunjukan musik bawah tanahnya - mulai dari indie hingga hip hop hingga heavy metal - dan kegembiraan anak muda Korea Selatan.

"Kami kehilangan simbol yang mewakili Hongdae," kata kritikus budaya Kim Seong-su.

Untuk para pelanggan setia kelab malam, berita itu membuat hati hancur.

"Saya sangat sedih, saya merasa sangat terpuruk sampai pada titik di mana saya tidak bisa mengatakan apa-apa," kata Kim Jong-chun (40) pengunjung tetap Club MWG selama hampir dua dekade.

"Saya menyukai suasana di sana yang sangat berbeda dari tempat lain," katanya.

"Saya pernah ke sejumlah tempat lain, tetapi saya harus mengatakan tidak ada tempat yang bisa menggantikan Club MWG."

(AFP/ard)

[Gambas:Video CNN]