Dampak Jangka Panjang Virus Corona pada Tubuh

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 09:06 WIB
Dampak virus corona pada tubuh diklaim dapat bertahan dalam jangka panjang. Sejumlah penelitian telah menemukan dampak jangka panjangnya. Ilustrasi. Dampak virus corona pada tubuh diklaim dapat bertahan dalam jangka panjang. (Istockphoto/Pornpak Khunatorn)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dampak virus corona pada tubuh diklaim bertahan dalam jangka panjang. Gejala Covid-19 bahkan terkadang bisa bertahan setelah pemulihan.

Mengutip situs kesehatan Mayo Clinic, orang tua dan orang dengan penyakit komorbid atau kondisi medis tertentu lebih mungkin mengalami dampak virus corona yang menetap. Kelelahan, batuk, sesak napas, sakit kepala, dan nyeri persendian menjadi beberapa gejala paling umum yang bertahan dari waktu ke waktu.

Meski virus SARS-CoV-2 menyerang sistem pernapasan, namun penyakit yang diakibatkan dapat menimbulkan kerusakan organ. Kerusakan organ dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang.


Berikut beberapa dampak virus corona pada tubuh dalam jangka panjang, mengutip berbagai sumber.

1. Kerusakan organ

Ada beberapa organ yang terpengaruh oleh Covid-19. Pertama adalah jantung. Tes pencitraan yang dilakukan berbulan-bulan setelah pemulihan menunjukkan adanya kerusakan permanen pada otot jantung, bahkan pada penyintas Covid-19 bergejala ringan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gagal jantung di masa mendatang.

Kedua adalah paru-paru. Jenis pneumonia yang sering dikaitkan dengan Covid-19 dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang pada kantung udara kecil (alveoli) di paru-paru. Jaringan parut yang dihasilkan dapat menyebabkan masalah pernapasan jangka panjang.

Ketiga adalah otak. Covid-19 diketahui dapat menyebabkan stroke, kejang, dan sindrom Guillain-Barre. Nama terakhir merupakan kondisi yang menyebabkan kelumpuhan sementara. Selain itu, Covid-19 juga dapat meningkatkan risiko penyakit Parkinson dan Alzheimer.

2. Masalah pembuluh darah

Covid-19 dapat membuat sel darah lebih cenderung menggumpal. Gumpalan ini menghalangi pembuluh darah kecil (kapiler) yang berada di otot jantung.

Selain itu, Covid-19 juga dapat melemahkan pembuluh darah, yang berkontribusi pada potensi masalah jangka panjang pada hati dan ginjal.

3. Masalah psikologis

Pasien Covid-19 dengan gejala parah sering kali harus menjalani perawatan intensif dengan bantuan ventilator. Hal ini sering kali membuat menimbulkan trauma dan masalah psikologis lainnya.

Mengutip Times of India, penelitian yang dilakukan oleh University of Leeds juga telah menemukan bahwa banyakpenyintasCovid-19 yang mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD). Selain itu, beberapapenyintas juga ditemukan mengalami insomnia, depresi, kecemasan, bahkan gangguan obsesif-kompulsif. Perempuan lebih rentan mengalami tekanan psikologis dibanding pria.

4. Kelelahan kronis

Banyak orang yang telah pulih dari Covid-19 terus mengalami kelelahan kronis. Kelelahan ekstrem ini ditandai dengan rasa lelah yang tak kunjung membaik meski telah beristirahat. Kelelahan ini juga bisa diakibatkan oleh kondisi psikologis yang merasa trauma akan perawatan Covid-19.

Penelitian juga menemukan bahwa hampir 60 persen pasien yang terlibat mengaku mengalami kelelahan dalam beberapa pekan setelah pemulihan.

Selain itu, tingkat energi yang tidak seimbang juga dapat membuat pasien mengalami gejala seperti nyeri otot.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]