Menapak Jejak Sejarah Kota Semarang

Kemenparekraf, CNN Indonesia | Sabtu, 03/10/2020 12:56 WIB
Menjajak jejak sejarah di Kota Semarang yang kaya cerita dan menawan hati. Menjajak jejak sejarah di Kota Semarang yang kaya cerita dan menawan hati. (Foto: Dok. CNNIndonesia TV)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sudah lama Semarang dikenal sebagai paket lengkap destinasi wisarta #DiIndonesiaAja. Ibu kota provinsi Jawa Tengah itu memiliki wisata alam, kuliner, hingga keramahan menyambut para wisatawan.

Sebagai salah satu pelabuhan utama pada masa kolonial Belanda, Semarang menyimpan jejak sejarah yang kuat. Antara lain, Vihara Sam Poo Kong yang terletak di kawasan Bukit Simongan. Ornamen berwarna merah darah menghiasi setiap bangunan dalam kawasan vihara, membuat rasa hati seperti sedang berada di China.

Hikayat menuturkan, adalah Laksamana Cheng Ho, seorang pedagang muslim yang pertama kali singgah di utara Pulau Jawa pada 1416. Saat itu, Cheng Ho memutuskan merapat karena juru mudi kapalnya, Ong Keng Hong, sedang sakit keras. Cheng Ho memilih perhentian ini karena sebelumnya, dia pernah tak sengaja menemukan gua batu yang memiliki mata air.


Cheng Ho kemudian melanjutkan perjalanan, namun Ong Keng Hong tetap tinggal bersama beberapa orang pengawal. Mereka selalu menceritakan keberanian dan kebijakan Cheng Ho sebagai seorang pemimpin, sehingga bersama warga lokal mereka mendirikan simbol penghormatan setinggi 12 meter yang kini menjadi salah satu ikon wisata Semarang.

Dibuat dari perunggu, patung Cheng Ho itu pun disebut sebagai patung Cheng Ho yang tertinggi di dunia. Hingga saat ini, Vihara Sam Poo Kong mempunyai empat kelenteng. Pada kelenteng utama, masih terdapat mata air yang dulu ditemukan Cheng Ho.

Bangunan bersejarah berikutnya adalah Lawang Sewu, yang dalam Bahasa Indonesia berarti seribu pintu. Berusia lebih dari 100 tahun, Lawang Sewu berdiri kokoh dengan 80 persen infrakstruktur masih merupakan bangunan asli.

Lawang Sewu didirikan di era kolonial Belanda pada 1907. Saat itu, gedung berfungsi sebagai kantor perusahaan kereta api Hindia-Belanda. Pada 1942-1945 di bawah kuasa Jepang, fungsi beralih menjadi Kantor Riyuku Sokyoku atau Jawatan Transportasi Jepang.

Pada 1945, Lawang Sewu kembali berubah fungsi, namun kali ini oleh Indonesia sebagai Kantor Djawatan Kereta Api. Setelah pengakuan kedaulatan RI pada 1949, Lawang Sewu digunakan oleh Kodam IV Diponegoro. 45 tahun kemudian, gedung diserahkan kembali kepada Perumka yang kini menjadi PT Kereta Api Indonesia.

Lawang Sewu memiliki arsitektur khas Eropa yang megah. Dibangun secara bertahap di atas lahan seluas 18.232 m2, bangunan ini mudah dikenali tak saja karena ukurannya, namun juga elemen lengkung yang jadi ciri dominan. Bangunan pun diperindah dengan ornamen kaca patri yang menggambarkan kemakmuran dan keindahan Jawa, serta kekuasaan Belanda atas Semarang dan Batavia, juga kejayaan kereta api; belum termasuk kubah kecil berlapis tembaga di puncak menara air, serta puncak menara berhias perunggu.

Baik Vihara Sam Poo Kong maupun Lawang Sewu, serta berbagai destinasi wisata lain di Semarang saat ini telah menerapkan protokol kesehatan. Suhu tubuh pengunjung akan diperiksa sebelum memasuki lokasi wisata, juga diharuskan tetap memakai masker dan tidak berkelompok dalam jumlah banyak.

Masih ada sederet lokasi wisata lain yang juga sarat nilai sejarah di Semarang, misalnya Masjid Kauman, Gereja Blenduk, Kantor Pos Besar, Gedung Marabunta, hingga kawasan Kota Lama Semarang yang pada abad ke-19 menjadi pusat perdagangan. Wisata sejarah #DiIndonesiaAja bakal menyenangkan di kota ini, dengan ragam kuliner yang memanjakan lidah dan suasana kota yang nyaman.

Jangan lupa, wisatawan tetap diharuskan mengikuti protokol kesehatan sesuai ketetapan. Dengan tetap menjaga kesehatan dan kebersihan, keindahan Indonesia tetap bisa dinikmati.

[Gambas:Youtube]

(rea)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK