Kemenparekraf Fokus Kembangkan Potensi Wisata Wellness

Kemenparekraf, CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 20:20 WIB
Wisata wellness dinilai sebagai sektor pariwisata yang bisa berkembang pesat di masa adaptasi kebiasaan baru. Wisata wellness dinilai sebagai sektor pariwisata yang bisa berkembang pesat di masa adaptasi kebiasaan baru. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berupaya mengembangkan potensi wisata wellness atau wisata minat khusus, yang bertujuan untuk menjaga kebugaran tubuh wisatawan di masa adaptasi kebiasaan baru.

Direktur Hubungan Antarlembaga Kemenparekraf/Baparekraf K. Candra Negara mengatakan, wisata wellness mulai digarap sejak 2012. Masa adaptasi kebiasaan baru ini dinilai tepat untuk mengembangkan lebih jauh potensi wisata wellness.

"Wisata wellness ini menjadi salah satu sektor pariwisata yang bisa berkembang dengan pesat di masa adaptasi kebiasaan baru. Wisata wellness yang ini punya kaitan yang sangat erat dengan pergeseran tren wisata di Tanah air dari mass tourism ke quality tourism jadi kita dapat menyesuaikan diri dengan keadaan saat ini dan menciptakan peluang-peluang baru," kata Candra dalam acara Diskusi Kelompok Terumpun dengan tema Sinergi dan Kolaborasi untuk Meningkatkan Penetrasi Produk Wellness di Pasar Era New Normal, Selasa (29/9).


Protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Enviromental Sustainability) yang digalakkan Kemenparekraf pun turut diterapkan dalam wisata wellness. Hal lain yang juga dipersiapkan adalah sarana dan prasarana, strategi pemasaran produk dan manajemen, serta peningkatan kualitas SDM.

Direktur Wisata Alam, Budaya, dan Buatan Kemenparekraf/Baparekraf Alexander Reyaan menyatakan, potensi wisata wellness Indonesia mencakup kekayaan rempah dan tanaman obat, termasuk ragam obat tradisional. Ia menekankan perlu dilakukan sinergi antara kementerian, lembaga, dan pelaku wisata wellness.

"Hubungan antarkelembagaan yang baik antara pelaku UMKM, dalam hal ini wisata wellness dengan kementerian dan lembaga terkait dapat mempermudah perizinan dan dokumen-dokumen yang diperlukan seperti izin BPOM, sertifikat
halal, dan lain sebagainya dapat tersedia. Sehingga, hal ini dapat meningkatkan kepercayaan wisatawan untuk menjajal wisata wellness tersebut," ujar Alexander.

Sementara Direktur Pemasaran Ekonomi Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf Yuana Rochma Astuti menjelaskan saat ini pihaknya tengah menyusun berbagai aturan yang akan diaplikasikan dalam pengembangan wisata wellness, termasuk membentuk pasar produk terkait. Ia mengatakan bakal memanfaatkan pemasaran secara digital melalui media sosial dan berbagai e-commerce.

Kepala Subdirektorat Produk Mandiri dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT), Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan PRKT Kementerian Kesehatan Lupi Trilaksono menambahkan, wisata wellness beserta produknya tergolong ke dalam alat kesehatan dan PRKT yang perizinannya dapat diurus ke Kemenkes. Menurutnya, dengan menyiapkan alat kesehatan secara mandiri lewat pemberdayaan pelaku wisata wellness, Indonesia sekaligus dapat menjaga ketahanan nasional dalam hal ketersediaan alat kesehatan.

"Dengan adanya ketahanan nasional di bidang alat kesehatan, kita tidak perlu mengandalkan alat kesehatan impor dan tidak akan terjadi kelangkaan alat kesehatan," ucap Lupi.

(rea)