Rumus Dahlan Iskan Hadapi Kanker Hati

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Sabtu, 17/10/2020 14:48 WIB
Eks Menteri BUMN, Dahlan Iskan, membagikan kisah saat dia divonis mengidap kanker hati dan cara menghadapinya. Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia --

2007 mungkin jadi tahun tak terlupakan buat Dahlan Iskan. Eks Menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini menjalani operasi transplantasi hati akibat kanker di Tianjin First Center Hospital, China.

Saat itu, sebenarnya ia memiliki dua pilihan yakni, menunggu atau operasi.

"Saat itu diambil lah pilihan yang risikonya paling kecil. Kalau (transplantasinya) gagal ya mati, enggak transplantasi mati juga. Dari pasti mati menuju mungkin mati," kata Dahlan terkekeh saat sesi Instagram Live bersama Cancer Information and Support Association (CISC), Sabtu (17/10).


Akan tetapi, keputusannya tepat. Ia bisa sembuh, beraktivitas seperti biasa bahkan sempat menduduki posisi penting pemerintahan.

Jika diminta untuk mengingat, Dahlan tidak bisa memastikan penyebab kanker hati yang ia idap. Namun ia tahu, kanker hati bisa dimulai dari infeksi hepatitis B dan lambat laun ia sadar infeksi tidak lepas dari riwayat keluarga.

Dahlan bercerita, banyak anggota keluarga inti maupun keluarga besar yang meninggal dalam usia muda. Ia teringat sang bunda dan kakak meninggal di usia belum genap 40 tahun. Setelah makin dewasa, Dahlan menyadari keluarganya yang meninggal terkena hepatitis B.

Dia menduga virus menular dari kebiasaan menggunakan alat makan bergantian. Kemudian kondisi saat itu belum dikenal vaksinasi.

"Saya orang yang telat tahu. Karena waktu itu asyik bekerja. Saya tidak merasakan apa-apa di tubuh, tahu-tahu muntah darah. Ke dokter, harus ditangani secara serius. (Dari sini) oh saya tahu, liver saya kena sirosis. Sebelumnya saya enggak tahu kalau hepatitis B bisa mengakibatkan sirosis dan sirosis itu (salah satu) jalan menuju kanker hati," tuturnya.

Sirosis membuat darah yang seharusnya masuk ke organ hati menjadi terhambat. Saluran untuk mengalirkan darah menjadi membesar seperti balon yang menunggu waktu untuk pecah. Saat pecah, terjadi muntah darah.

Meski dalam kondisi serba mengejutkan dan baru buatnya. Dahlan masih beruntung. Meski ada tiga benjolan kanker dengan ukuran cukup besar, kanker belum menyebar ke organ-organ lain (metastasis).

Saat itu jalan yang ditempuh Dahlan adalah embolisasi yakni, metode memotong suplai darah ke sel kanker. Namun baru sebulan setelah prosedur, ternyata sel kanker tetap memperoleh suplai karena darah membuat saluran baru.

Oleh karena itu, tak ada jalan lain kecuali operasi cangkok atau transplantasi hati. Dahlan tidak berpikir panjang dan langsung mengamini saran dari dokter.

"Kuncinya adalah membuat keputusan. Umumnya orang (ketika dihadapkan pada pilihan) tidak langsung bikin keputusan. Denial dulu, galau dulu. Saya merasa tidak melalui atau tidak sadar mungkin jika melalui fase ini. Ajaran yang saya peroleh di desa, orang hidup itu harus nrimo ing pandum (sikap penerimaan secara penuh), takdir. Nasib gini, ya sudah saya harus menerima," kata dia.

Menulis obati kegelisahan

Fase denial atau penolakan, galau, stres, gelisah sangat umum dihadapi pasien kanker. Dahlan menyadari tidak mudah buat pasien menerima kenyataan dirinya mengidap kanker.

Kemudian stres dan gelisah akibat fakta bahwa kanker adalah penyakit ganas dan bisa merenggut nyawa.

Akan tetapi, kata dia, sikap menolak malah memperburuk stres dan gelisah. Saat ada diagnosis kanker, Dahlan mengaku saat itu berusaha tenang. Dengan pikiran tenang inilah ia bisa memikirkan langkah selanjutnya.

Ia pun membagikan resep menurunkan stres dan kegelisahan yakni dengan menulis.

"Kegelisahan (tiap orang) tentu tidak sama levelnya. Kita coba ambil kertas dan bolpoin. Jangan HP atau komputer karena menulis dan mengetik itu berbeda. Kalau menulis dengan bolpoin itu terjadi internalisasi, lebih dihayati. Mengetik di HP atau komputer rentan membuat perhatian terpecah," jelasnya.

"Saya sedang gelisah, saya tulis. Kalau dipikirkan terus itu tidak konkret, atau bahasa Jawanya, 'ngoyoworo', berkelana ke mana-mana, timbul asumsi aneh-aneh. Kalau ditulis baru itu fakta."

Dahlan menyarankan untuk menulis poin-poin yang menjadi penyebab kegelisahan. Tulis apapun yang Anda pikirkan dan berikan nomor. Momen ini sebaiknya dimanfaatkan untuk jujur dengan diri sendiri.

Tidak perlu ada coretan kalau Anda merasa ada yang tidak perlu atau tidak penting. Baru kemudian berikan garis di dekat daftar dan tulis nomor mana saja yang jadi penyebab kegelisahan dari yang terbesar atau terberat. Langkah ini diambil untuk menyaring hal-hal yang sebenarnya jadi penyebab kegelisahan dan bisa mengantarkan Anda pada solusi.

"Kalau terbiasa begini, pikiran akan terstruktur, mudah mencari jalan keluar karena ketemu persoalannya berapa. Setelah ditulis, terserah, kertas bisa disimpan atau dibakar jika tidak ingin diketahui orang lain," katanya.

(ayp)

[Gambas:Video CNN]