Mengenal 'Serum No Brand Plant', Penumbuh Tanaman yang Viral

CNN Indonesia | Minggu, 25/10/2020 15:47 WIB
Pupuk cair yang diberi nama 'Serum No Brand Plant' belakangan viral karena ampuh menyelamatkan tanaman, bahkan yang hampir mati sekalipun. Ilustrasi. Pupuk cair yang diberi nama 'Serum No Brand Plant' belakangan viral karena ampuh menyelamatkan tanaman, bahkan yang hampir mati sekalipun. (Foto: iStockphoto/ronstik)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pupuk cair berupa serum untuk penumbuh tanaman belakangan sedang viral di kalangan pecinta tanaman. Salah satu pemrakarsanya adalah Asoka Remadjas, pemilik Serum Viral No Brand--yang namanya tengah naik daun.

Serum tersebut jadi buah bibir karena dikenal dapat menyelamatkan tanaman yang hampir mati sekalipun, untuk kembali tumbuh. Cara pakainya pun mudah dan harganya terbilang ramah di kantong.


"Bentuknya kayak pipet, cuman 10 tetes serum dicampur ke satu liter air. Segampang itu. Toh karena organik, kelebihan juga nggak masalah, nggak ngerusak tanaman," terang Asoka kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (24/10).

Terdapat empat macam serum yang dijajakan Asoka. Yakni serum pembasmi hama, pembersih daun, untuk sayur dan untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. Serum pembasmi hama jadi yang paling laris diserbu pelanggan.

Serum ini merupakan produksi rumahan yang dikerjakan dengan proses organik. Sehingga pemakaiannya diklaim jauh lebih mudah dan tidak merusak tanaman. Serum bisa dipakai hingga 30 sampai 40 kali pemakaian untuk tanaman kecil.

Asoka menjelaskan, serum ini diformulasikan untuk mempercepat tumbuh akar dan tunas tanaman. Setelah dipakai, tunas pada tanaman bisa muncul satu hari sampai beberapa minggu.

"Kalau nggak efektif, nggak mungkin itu bisa viral," ungkap dia.

Infografis Tren Tanaman Hias dari Tahun ke TahunFoto: CNNIndonesia/Basith Subastian
Infografis Tren Tanaman Hias dari Tahun ke Tahun

Ia bercerita, ide pertama kali membuat pupuk cair berupa serum ini datang dari kendala pribadi. Ketika hendak membeli pupuk untuk tanamannya, Asoka mengaku kerap kebingungan dengan cara pemakaian pupuk yang dinilai rumit. Terlebih, ketika awal masih awam dengan kegiatan berkebun.

Berkaca dari kendala pada awal-awal mengenal tanaman, ia menemukan inovasi baru berupa pupuk cair. Namun mula penemuannya bukan disengaja. Awalnya ia hanya berupaya menerapkan hidup tanpa sampah atau zero waste living dengan mengolah sampah organik menjadi kompos.

"Coba sana sini, liat info di Youtube, jadilah itu serumnya. Awalnya nggak mulus, ada yang jadi ulat lah, belatungan. Cuma nggak mau menyerah, eh akhirnya jadi," cerita dia.

Nama serum kemudian dipilih Asoka karena tak ingin menamai produknya sekadar sebagai, pupuk cair. Tak terbayang langkahnya itu membuat penggunaan serum di kalangan pecinta tanaman jadi marak.

Beberapa orang mulai mengikuti jejak Asoka dengan membuat serum tanaman sendiri. Ia mengaku tak terganggu akan hal itu dan justru bangga menjadi pemrakarsa serum tanaman.

Dari mulanya hanya memproduksi 1.000an serum, kini Asoka bisa menghasilkan 5.000 sampai 7.000 botol 'Serum No Brand Plant' setiap tiga bulan. Produknya pun selalu ludes.

Kendati beberapa pelaku di marketplace kerap menjual kembali produknya dengan harga yang justru lebih tinggi. Harga asli serum ini hanya berkisar Rp59 ribu jika dijual online dan Rp75 ribu untuk harga offline.

"Kemarin itu ada yang mau malsuin produk, mereka nge-print stiker yang sama," ungkap Asoka.

Padahal ia mengaku selama berjualan tak pernah gencar memasarkan produknya. Serum tanaman ini justru viral karena ulasan dan obrolan dari mulut ke mulut.

(fey/NMA)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK