Kisah Harmonis Ata Modo Berbagi Hasil Buruan dengan Komodo

CNN Indonesia | Selasa, 27/10/2020 16:15 WIB
Harmonisnya hubungan penduduk asli Pulau Komodo dengan komodo dikhawatirkan kandas oleh pembangunan Komodo. (Adhi Rachdian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jauh sebelum Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur dibuka pada tahun 1980 dan masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991, jauh sebelum turis mancanegara dan influencer berdatangan dengan drone atau kamera di tongsisnya, hiduplah penduduk asli yang disebut Ata Modo.

Ata berasal dari kata 'orang yang bermukim hutan' dan modo berasal dari kata 'naga'. Catatan sejarah menulis bahwa Ata Modo sudah hidup di Pulau Komodo sejak 2.000 tahun yang lalu.

Ata Modo merupakan orang-orang yang migrasi dari Sulawesi, Manggarai, dan Bima. Bahkan bisa ditemukan orang dari Suku Bugis.


Warga Ata Modo beragama Islam. Dialek yang khas juga membedakan mereka dengan orang Flores pada umumnya.

Di awal migrasi, mereka menempati Pulau Komodo. Hidup berdampingan dengan mereka ialah kawanan kadal purba, komodo (Varanus komodoensis).

Saat Taman Nasional Komodo dibuka dan Pulau Komodo diresmikan menjadi pulau konservasi komodo, Ata Modo direlokasi.

Mereka mengalah dengan aturan yang tak mengizinkan berburu atau bertani, sehingga mereka beralih profesi menjadi nelayan.

Sekitar tahun 1990an, terjadi pelebaran wilayah konservasi hingga ke lautan. Ata Modo terpaksa mengalah lagi, kali ini mereka terpaksa gantung pancing dan beralih profesi menjadi pematung, penjual suvenir, hingga pemandu wisata.

Mereka yang biasanya bebas berkeliaran di bukit, hutan, dan pantai, kini harus puas menempati lahan seluas 17 hektare bersama 2.000 jiwa yang lain.

Hampir satu dekade kemudian, Ata Modo terdesak rencana relokasi atas nama pengembangan wisata lagi. Kali ini, karena pemerintah Indonesia ingin mendatangkan lebih banyak turis mancanegara ke Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar.

"Pulau Komodo akan dijadikan area konservasi komodo, Pulau Rinca sebagai area wisata "Jurassic Park", dan Pulau Padar akan dijadikan area tempat penginapan dan tempat makan," jelas Gregorius Afioma, dari LSM Sunspirit, saat diwawancara oleh CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon pada Selasa (27/10).

"Lokasi foto viral itu di Pulau Rinca," katanya.

Greg melihat kalau pengembangan wisata yang berlangsung berbasis investasi, yang cuma melibatkan investor kelas kakap dan belum sepenuhnya melibatkan penghuni Taman Nasional Komodo.

Padahal, Ata Modo dan komunitas pendukungnya sebenarnya bisa dirangkul untuk memulai pengembangan yang berbasis konservasi. Warga bisa diberi pelatihan untuk mampu menjadi pelaku usaha wisata yang baik. Flora dan fauna dibiarkan tumbuh secara alami.

Greng mencontohkan arsitektur tempat wisata ala "Jurassic Park" di salah satu area Pulau Rinca.

Tanpa konsultasi dengan warga lokal, investor membangun properti yang mengacaukan zona interaksi antarfauna di sana, semisal komodo dan rusa.

"Konsep arsitektur ramah lingkungan itu agak menjebak. Sebaiknya tak usah ada arsitektur sekalian, karena wisata alam liar yang terbaik itu ialah pendakian, bukan dari atas bangunan yang merusak rute hewan," ujar Greg.

"Nanti kalau rutenya diganggu, komodo tak ada yang berkeliaran. Akibatnya kita harus memancing mereka dengan daging untuk datang, padahal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sendiri yang melarang memberi makan hewan di taman nasional.

"Kalaupun ingin dibangun, mungkin bisa membangun fasilitas utama saja, seperti pos pengamatan atau toilet, tentu yang tak menganggu rute fauna," jelasnya.

[Gambas:Instagram]



Hubungan harmonis

Bagi Greg, komodo bukanlah hewan yang ganas dan agresif. Sebaliknya, komodo ialah hewan yang pemalas.

Greg menceritakan, kala Ata Modo berburu hewan, mereka biasanya menyisakan bagian kepala dan organ dalam untuk komodo.

Saat warga memotong-motong bagian hewan, kawanan komodo tidak agresif merebut daging. Mereka menunggu sambil leyeh-leyeh di bawah pohon.

Setelah daging dikemas, baru warga membaginya kepada komodo.

Walau bisa lari hingga 20km/jam, komodo tak gemar mengejar mangsanya. Hewan berdarah dingin ini lebih suka membuat jebakan untuk mencari makan.

Komodo lebih sering beraktivitas di pagi hari. Selebihnya, sama seperti turis yang datang, mereka asyik berteduh di bawah pohon.

Greg tak memungkiri bahwa pengembangan wilayah dan serbuan turis bisa mengubah karakter komodo di masa depan.

Misalnya dengan adanya pembangunan hotel atau restoran, komodo mungkin mendekati dapur setiap hari. Dengan begitu mereka menjadi gemuk dan malas ke hutan untuk kawin, padahal populasi mereka rentan punah.

Greg masih ingat betul kisah temannya, seorang jagawana di Taman Nasional Komodo, yang sempat mengobati seekor komodo kecil yang terluka. Hingga saat ini, sang komodo masih sering menyambangi pos jaga.

"Komodo itu memorinya sangat kuat. Ia juga sangat setia menjaga teritorinya," pungkas Greg.

[Gambas:Instagram]



(ard)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK