Diabetes pada Anak: Jenis, Penyebab, dan Gejala

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 18/11/2020 07:36 WIB
Diabetes pada anak perlu diwaspadai. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat membantu anak-anak mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Ilustrasi. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat membantu anak dengan diabetes mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. (dagon_/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Diabetes tak hanya menyerang orang dewasa, tapi juga kelompok anak. Deteksi dini dan pengobatan yang tepat dapat membuat anak-anak dengan diabetes mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.

Diabetes terjadi saat hormon insulin tak berfungsi dengan baik. Padahal, hormon insulin dibutuhkan tubuh untuk mengubah gula darah menjadi energi. Akibatnya, terjadi penumpukan gula darah.

Meski lebih banyak ditemukan pada orang dewasa, namun penyakit kronis satu ini juga banyak terjadi pada kelompok anak. "Diabetes pada anak juga kondisinya cukup mengkhawatirkan," ujar ahli endokrinologi anak, dr Novina, dalam Temu Media Hari Diabetes Sedunia bersama Kementerian Kesehatan, Selasa (17/11).


Di dunia, sebanyak 1,1 juta anak mengidap diabetes melitus (DM). Meningkatnya angka obesitas disebut turut berkontribusi pada peningkatan kasus DM.

Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 2018 mencatat, sebanyak 1.220 anak di Indonesia mengidap DM tipe-1. IDAI juga mencatat lonjakan signifikan selama satu dekade, dari prevalensi 3,88 pada tahun 2000 menjadi 28,19 pada tahun 2010 per 100 juta penduduk.

Jenis dan Penyebab Diabetes pada Anak

Ada beberapa jenis diabetes pada anak. Sebagian besar kasus didominasi oleh DM tipe-1. Tak hanya pada anak dan remaja, DM tipe-1 juga terkadang menyerang kelompok bayi dan balita.

DM tipe-1 dipicu oleh kelainan autoimun yang dialami anak. Pada kondisi tersebut, sistem kekebalan tubuh merusak atau menghancurkan pankreas yang bertugas memproduksi hormon insulin.

Kadar hormon insulin yang rendah bisa menyebabkan peningkatan kadar gula darah dan merusak organ serta jaringan tubuh lainnya.

"Diabetes jenis ini bisa dimulai sejak sangat dini," ujar Novina. IDAI mencatat, DM tipe-1 dapat dimulai sejak usia 6 bulan hingga usia dewasa muda.

DM tipe-1, lanjut Novina, umumnya bersifat akut dan berkembang dengan cepat. Untuk itu, penanganan yang tepat harus didapat sedari dini.

Hingga saat ini belum diketahui pasti faktor yang menyebabkan munculnya DM tipe-1 pada anak. Hanya saja, beberapa anak dengan faktor risiko seperti riwayat keluarga, riwayat infeksi virus, dan pola makan yang salah, disebut rentan terhadap DM tipe-1.

Tak hanya DM tipe-1, beberapa anak juga dilaporkan mengidap DM tipe-2, meski dengan populasi yang lebih sedikit. DM tipe-2 dipicu oleh resistensi insulin atau ketika sel-sel tubuh anak kesulitan untuk menggunakan insulin untuk memanfaatkan gula darah sebagai energi.

Doctor writing word DIABETES with marker, Medical conceptIlustrasi. Diabetes tipe-1 menjadi jenis diabetes yang kerap dialami anak-anak. (iStockphoto/Michail_Petrov-96)

Namun, DM tipe-2 umumnya mulai menyerang anak sejak usia pubertas. Diabetes jenis ini umumnya berkembang dengan lambat pada anak, bahkan terkadang tidak terlihat atau terdeteksi.

Sama seperti orang dewasa, DM tipe-2 pada anak umumnya disebabkan oleh obesitas, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak, serta gaya hidup minim bergerak.

Novina menyarankan agar orang tua mulai melakukan screening pada anak yang diketahui memiliki faktor risiko. Screening bisa dilakukan saat anak memasuki masa pubertas atau berusia lebih dari 10 tahun.

Gejala Diabetes pada Anak

DM pada anak ditandai oleh beberapa gejala yang kentara. Berikut gejalanya:

- sering buang air kecil utamanya pada malam hari

- sering mengompol

- banyak minum, banyak makan

- berat badan turun

- gangguan perilaku

- penglihatan kabur

Semua gejala tersebut, ujar Novina, bakal memengaruhi proses pertumbuhan anak. "Anak jadinya bisa sering sakit," kata dia.

(asr/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK