Studi: Vegan-Vegetarian Berisiko Lebih Besar Patah Tulang

tim, CNN Indonesia | Kamis, 26/11/2020 17:10 WIB
Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa vegan dan vegetarian mungkin berisiko lebih besar mengalami patah tulang daripada pemakan daging. Ilustrasi. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa vegan dan vegetarian mungkin berisiko lebih besar mengalami patah tulang. (iStockphoto/Chinnapong)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah pro dan kontra pola makan nabati yang terus berkembang, kini risiko patah tulang yang lebih tinggi telah diperkuat ke dalam daftar kemungkinan kerugiannya.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal BMC Medicine, Minggu (22/11) kemarin, menemukan bahwa vegan dan vegetarian mungkin berisiko lebih besar mengalami patah tulang daripada pemakan daging.

Fraktur atau patah tulang pada usia dewasa dan usia lebih tua sering terjadi, tetapi penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa vegetarian memiliki kepadatan mineral tulang yang lebih rendah daripada non-vegetarian.


Menurut Institut Kanker Nasional AS, kepadatan tulang adalah ukuran jumlah mineral (kebanyakan kalsium dan fosfor) yang terkandung dalam volume tulang tertentu.

Asupan kalsium dan protein yang jauh lebih rendah juga telah dilaporkan di antara pemakan non-daging. Terlepas dari penelitian sebelumnya, hubungan antara diet vegetarian dan risiko patah tulang masih belum jelas sampai sekarang, kata penelitian tersebut.

"Ini adalah studi komprehensif pertama dan studi terbesar hingga saat ini untuk melihat risiko dari total patah tulang (patah tulang yang terjadi di mana saja di tubuh) dan patah tulang di tempat berbeda pada orang dengan kebiasaan pola makan yang berbeda," kata penulis utama studi tersebut, Tammy Tong, ahli epidemiologi nutrisi di Nuffield Department of Population Health di University of Oxford, sebagaimana dilansir CNN.

Penelitian ini menemukan ada 4,1 lebih kasus patah tulang pada vegetarian dan 19,4 kasus lebih pada vegan untuk setiap 1.000 orang selama 10 tahun.

Diet dan kekuatan tulang

Hampir 55 ribu orang dewasa yang relatif sehat dari Inggris menjawab kuesioner tentang pola makan, karakteristik sosio-demografis, gaya hidup dan riwayat kesehatan antara 1993 dan 2001.

Para peneliti mengkategorikan mereka berdasarkan pola makan pada saat itu dan tindak lanjutnya pada 2010: pemakan daging, pemakan ikan (pescatarian) , vegetarian (tidak ada daging atau ikan kecuali susu dan / atau telur) dan vegan (tidak ada yang berasal dari hewan).

Para penulis menemukan total 3.941 patah tulang pada 2016.

Dibandingkan dengan pemakan daging, vegan dengan asupan kalsium dan protein yang lebih rendah, rata-rata memiliki risiko 43 persen lebih tinggi untuk patah tulang di mana saja dan di pinggul, tungkai dan tulang belakang.

Vegetarian dan pescatarian memiliki risiko lebih tinggi mengalami patah tulang pinggul daripada pemakan daging, tetapi risiko tersebut sebagian berkurang ketika para peneliti mempertimbangkan indeks massa tubuh dan konsumsi kalsium dan protein yang cukup. Namun, risikonya masih lebih tinggi untuk vegan dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut.

"Temuan studi mendukung pertumbuhan penelitian tentang kesehatan tulang dengan asupan protein dan kalsium serta indeks massa tubuh (BMI)," kata Lauri Wright, ahli gizi-diet dan ketua departemen nutrisi di University of North Florida yang tidak terlibat dalam penelitian ini. "Protein dan kalsium adalah dua komponen utama tulang."

Keterbatasan penelitian ini dinilai karena sebagian besar peserta adalah orang Eropa kulit putih dan wanita.

"Hasil dari ini, melibatkan peserta terbatas dan tidak dapat digeneralisasikan. Maka, diperlukan studi lebih lanjut," kata Katherine Tucker, seorang profesor epidemiologi nutrisi di University of Massachusetts, Lowell, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Para penulis juga disebut tidak memiliki data tentang suplementasi kalsium atau penyebab patah tulang, dan asupan nutrisi dilaporkan sendiri, alih-alih diukur secara objektif.

Selain itu, menurut penulis, BMI, sebagian dapat menjelaskan temuan tersebut. Vegan dan vegetarian cenderung memiliki BMI yang lebih rendah, seperti yang terjadi dalam penelitian ini.

BMI yang rendah telah dikaitkan dengan patah tulang di beberapa area, berpotensi karena faktor-faktor seperti bantalan yang kurang kuat saat seseorang jatuh.

(agn/agn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK