Ikatan Psikolog Minta Rencana Pembelajaran Tatap Muka Ditunda

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 17/12/2020 14:28 WIB
Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia menyebut alasan psikologis pada anak tak dapat dijadikan alasan untuk membuka kembali pembelajaran tatap muka (PTM). Ilustrasi. Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia menyebut alasan psikologis pada anak tak dapat dijadikan alasan untuk membuka kembali pembelajaran tatap muka (PTM). (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia merekomendasikan pemerintah untuk menunda rencana dimulainya kembali proses pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah pada Januari 2021 mendatang.

"Meminta kepada pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk menunda pembelajaran tatap muka di sekolah," tulis rekomendasi IPK Indonesia yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (17/12).

Lebih lanjut, pemerintah diminta melanjutkan konsep pembelajaran jarak jauh (PJJ) hingga tingkat infeksi Covid-19 kurang dari 5 persen sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).


Rekomendasi ini disampaikan seturut dengan hasil studi IPK Indonesia yang menemukan konsep PJJ tak memberikan dampak buruk terhadap kondisi psikologis siswa.

"Kondisi psikologis siswa tidak dapat dijadikan alasan pembukaan sekolah. Karena hal ini tidak terbukti," tulis IPK Indonesia.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya, lewat Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri, pemerintah memperbolehkan sekolah untuk kembali menggelar PTM pada Januari 2021. Kondisi psikologis anak jadi salah satu pertimbangannya.

Menteri Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Nadiem Makarim menyebut, tekanan psikososial dan kekerasan dalam keluarga selama PJJ berlangsung jadi salah satu alasan diizinkannya PTM. Minimnya interaksi dengan guru, teman, lingkungan luar, dan tekanan akibat sulitnya PJJ dianggap dapat menyebabkan stres pada anak.

Siswi kelas 2 SDN 01 Pagi Bukit Duri ,Keysha (8) menjalankan proses belajar daring bersama ibunya, Okta (31) di gerai makanan tempat ibunya bekerja di kawasan Bukit Duri, Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2020. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan menggunakan metode daring dan bimbingan orang tua masih menjadi kendala, menurut Okta selain harus mencari nafkah untuk keluarganya Ia harus tetap membimbing anaknya belajar di tempatnya bekerja. CNN Indonesia/Bisma SeptalismaIlustrasi. Alih-alih menimbulkan stres, konsep pembelajaran jarak jauh (PJJ) justru lebih baik daripada metode pembelajaran lainnya. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Sementara studi yang dilakukan tim Satgas Penanggulangan Covid-19 IPK Indonesia mengenai dampak PJJ terhadap kondisi psikologis siswa tidak menemukan hal yang sama.

Penelitian yang melibatkan sekitar 15 ribu siswa di Indonesia ini menemukan, kondisi psikologis siswa yang mengikuti PJJ justru lebih baik dibandingkan mereka yang mengikuti pembelajaran secara tatap muka maupun campuran antara PJJ dan PTM. PJJ juga ditemukan tidak menimbulkan stres yang lebih tinggi daripada metode pembelajaran lainnya.

IPK Indonesia menegaskan, keamanan dan kesehatan harus tetap menjadi prioritas utama dalam pengambilan kebijakan demi menghindari life-loss ataupun health-loss.

"Adapun kekhawatiran terjadi learning-loss dapat diantisipasi dengan meningkatkan efektivitas proses PJJ serta mengejarnya di kemudian hari ketika kondisi sudah membaik," tulis IPK Indonesia.

Agar siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang bermakna selama pandemi, pemerintah disarankan dapat melakukan beberapa hal.

Pertama, dengan meningkatkan kapasitas dan keterampilan guru dalam hal pengelolaan kelas dan penyampaian materi belajar yang sesuai dengan konsep PJJ. Guru diharapkan lebih percaya diri dalam memberikan materi saat PJJ.

Kedua, guru juga disarankan untuk dapat meningkatkan kemampuannya dalam memberikan dukungan psikososial pada siswa. Pemberian keterampilan dukungan psikologis awal (DPA) adalah salah satu alternatif kegiatan yang dapat diberikan pada guru.

Ketiga, memberikan bantuan pada orang tua atau pendamping belajar selama PJJ agar lebih mudah memahami proses belajar yang sedang dijalani anak. Salah satunya dengan menyiapkan modul-modul belajar untuk pengayaan bagi pendamping belajar anak atau orang tua.

"Kami berharap pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan dapat memberi perhatian terhadap rekomendasi ini, demi kesehatan fisik dan mental masyarakat dan sebagai upaya penanggulangan Covid-19 di Indonesia," pungkas IPK Indonesia.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK