Mengenal Tanda Hiperseksual dan Terapi Kecanduan Seks

Tim, CNN Indonesia | Senin, 25/01/2021 22:07 WIB
Perilaku hiperseksual yang tak ditangani dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Untuk itu, kenali gejala, penyebab, risiko, dan terapi kecanduan seks. Perilaku hiperseksual yang tak ditangani dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Untuk itu, kenali gejala, penyebab, risiko, dan terapi kecanduan seks. (Foto: Istock/NoSystem images)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kecanduan seks sama buruknya dengan kecanduan alkohol dan obat-obatan. Durasi terapi kecanduan seks agar bisa sembuh pun tergolong cukup lama.

Merujuk Psychology Today, kecanduan seks diakibatkan tingginya libido atau gairah seksual.

Kondisi ini juga akan berdampak pada gangguan mental, meski belum masuk dalam kategori Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), yang biasanya digunakan oleh praktisi untuk mendiagnosis penyakit kejiwaan.


Perilaku seksual kompulsif atau disebut juga perilaku hiperseksual, awalnya melibatkan pengalaman seksual umum yang menyenangkan. Misalnya masturbasi, sering gonta-ganti pasangan, kecanduan pornografi, perilaku asusila di dunia maya atau cyberseks, hingga prostitusi.

Namun lama-kelamaan pengalaman tersebut menjadi fokus utama dalam hidup penderita yang sulit dikendalikan. Hingga akhirnya dapat berbahaya bagi diri si penderita maupun orang lain.

Meski demikian, ada sejumlah terapi yang dapat membantu pecandu seks keluar dari dorongan seksual yang tidak terkendali.

Sebelum membahas langkah kunci, mari terlebih dahulu mengenal gejala, penyebab, hingga risiko kecanduan seks.

Gejala Kecanduan Seks

Face detail of sensual woman lips, no eyes, with hand holding little movie clapper boardFoto: Istockphoto/Fabioderby
Ilustrasi. Salah satu gejala atau tanda kecanduan seks adalah sulit mengendalikan fantasi dan hasrat seksual

Berikut tanda seseorang adalah pecandu seks atau dengan gejala seksual kompulsif, merujuk MayoClinic.

  • Memiliki fantasi seks, dorongan, dan perilaku seksual yang intens dan berulang
  • Terdorong untuk melakukan perilaku seksual tertentu, namun merasa bersalah atau menyesal setelah melepasnya
  • Sulit mengurangi atau mengendalikan fantasi, dorongan, dan perilaku seksual
  • Perilaku seksual kompulsif sebagai bentuk pelarian diri dari masalah seperti, kesepian, depresi, cemas, atau stres.
  • Berpotensi menularkan penyakit menular seksual kepada orang lain, merusak hubungan sosial, bermasalah dalam aktivitas harian, kesulitan keuangan, hingga masalah hukum
  • Kesulitan membangun dan menjaga hubungan sehat dan stabil dengan orang lain

Orang dengan gejala seperti di atas, sebaiknya segera mendatangi psikiater terdekat. Pasalnya, perilaku seksual kompulsif cenderung meningkat seiring waktu.

Dengan mendapatkan bantuan lebih awal, akan membantu mencegah dan mengatasi masalah sebelum perilaku kecanduan seks menjadi lebih parah.

Perilaku kecanduan seks yang dibiarkan dan tak mendapat penanganan tepat, dapat mengganggu banyak aspek dalam hidup. Seperti menurunkan rasa percaya diri, mengganggu karier, kesehatan, merusak hubungan dengan orang lain atau terhadap pasangan misalnya berselingkuh.

Penting untuk diingat bahwa menikmati aktivitas seksual tidak sama dengan kecanduan seks. Seks adalah aktivitas hubungan manusia yang sehat dan dapat dinikmati secara normal.

Penyebab Kecanduan Seks

symbolic picture of violence at homeFoto: Istockphoto/coehm
Ilustrasi. Penyebab kecanduan seks bisa karena pengalaman traumatis masa kecil, stres, gangguan mental, dan hormon

Meskipun penyebab perilaku seksual kompulsif tidak termasuk dalam DSM-5 dan belum dapat dipahami dengan baik, pakar kesehatan mental di Amerika menduga kecanduan seks bisa disebabkan oleh stres berat, gangguan mental, serta mood tak seimbang.

Kemudian pengalaman traumatis yang dialami saat kecil atau remaja, bisa dari kekerasan fisik, emosional, maupun seksual, melansir Good Therapy.

Faktor lainnya yang mungkin berpengaruh dan mendorong seseorang menjadi hiperseksual adalah hormon yang tidak seimbang. Androgen adalah hormon seks yang memengaruhi libido.

Saat tubuh memproduksi terlalu banyak androgen, hal tersebut dapat meningkatkan risiko seseorang menjadi pecandu seks.

Senyawa kimia otak juga disinyalir menjadi sebab pecandu seks. Penelitian menunjukkan orang dengan kecanduan seks mungkin memiliki perbedaan neurokimia di pusat otak.

Senyawa kimia ini dilepaskan saat berhubungan seks, yang membuat rasa ketagihan serupa dengan mengonsumsi obat-obatan atau alkohol.

Rasa ketagihan berujung pada pengembangan rasa kesenangan ini, yang kemudian seakan menjadi suatu kebutuhan atau harus mendapatkan perasaan yang sama secara terus-menerus dan dalam jumlah lebih banyak.


5 Risiko Kecanduan Seks

Insane maniac holding prison cell bars waiting for death penalty, smirkingFoto: iStockphoto/Motortion
Ilustrasi. Salah satu risiko kecanduan seks adalah berhadapan dengan hukum

Sesuatu yang berlebih tentu tidaklah baik begitupun perilaku hiperseksual. Candu seks ini pasti menimbulkan risiko serius bagi individu, pasangan, dan anggota keluarga.

Laporan American Addiction Centers menyebutkan ada sejumlah risiko dan konsekuensi yang paling mungkin dihadapi pecandu seks.

1. Membahayakan Kesehatan

Seiring perkembangan gangguan mental, para pecandu seks cenderung akan meningkatkan intensitas tindakan, termasuk melakukan hubungan seks tanpa pelindung dan kerap berganti pasangan dalam waktu yang relatif dekat.

Padahal bayang-bayang penyakit menular seksual yang diakibatkan oleh seringnya berganti pasangan itu sangat banyak.

Sebut saja HIV/AIDS, hepatitis, sifilis, gonore atau kencing nanah, infeksi klamidia, dan sebagainya. Penyakit-penyakit menular seksual ini yang dapat menginfeksi tubuh dan bisa mengakibatkan berbagai komplikasi lain yang membahayakan kesehatan Anda, bahkan berisiko kemandulan.

2. Menghadapi Pelanggaran Hukum

Salah satu bahaya hiperseksual adalah mengganggu kesehatan mental. Pecandu seks juga berisiko melakukan perbuatan seks menyimpang.

Seperti perilaku eksibisionisme, pelecehan seksual, pemerkosaan, terlibat kasus prostitusi, seks di luar nikah, atau bahkan perilaku seks kompulsif tak biasa seperti pedofilia yang semuanya bisa berujung pelanggaran hukum dan hukuman pidana.

3. Mengganggu Pekerjaan

Kecanduan seks berpotensi menurunnya produktivitas kerja. Kinerja akan terganggu dan mudah terdistraksi karena terfokus pada suatu hal yang berbau seksual.

Misal, membuka situs porno saat tengah bekerja, atau memperhatikan rekan kerja wanita dan hanya berfokus pada fantasi seksual.

4. Merusak Hubungan dengan Pasangan

Hiperseksual berpotensi merusak hubungan serta menghancurkan rasa percaya pasangan. Pasangan akan merasa terasing, terisolasi, tertekan, marah, bahkan terhina.

Hal ini terjadi karena pecandu seks hanya mengejar rasa dorongan seksual yang kuat dalam bentuk visual atau pendengaran setelah banyak berhubungan dengan orang yang berbeda-beda.

5. Memicu Pertikaian Keluarga

Kehidupan seorang pecandu seks bisa berujung pada perceraian dan membawa luka kesemua keluarga. Individu yang mengalami kecanduan seks sulit mendapat rasa hormat dan percaya dari anggota keluarga, paling ekstrem adalah kehilangan hak asuh anak.

Terapi Kecanduan Seks

While sitting in a comfortable waiting room, female doctor listens to her patient about mental health problems. Doctor is on a sofa, wearing a lanyard and holding a clipboard.Foto: Istock/SDI Productions
Ilustrasi. Cara mengatasi atau terapi kecanduan seks dengan psikoterapi kognitif, psikodinamik, dan obat.

Pemulihan pecandu seks dapat dilakukan dengan psikoterapi, penggunaan obat tertentu, dan kelas diskusi bagi sesama pecandu.

Terapi ini bertujuan membantu atau mengelola dorongan dan mengurangi perilaku berlebihan sembari mempertahankan aktivitas seksual yang sehat.

Berikut adalah jenis terapi bagi pecandu seks yang dapat anda coba, apabila ada orang terdekat Anda yang mungkin mengalami hiperseksual atau pecandu seks.

Terapi Kecanduan Seks atau Psikoterapi

Psikoterapi mengajak penderita untuk berani berbicara apa yang dipikirkan dan dirasakan. Tujuan terapi untuk membantu anda mengelola perilaku seksual kompulsif.

Dalam praktiknya ada 3 jenis psikoterapi:

a. Terapi Perilaku Kognitif

Terapi ini membantu penderita mengidentifikasi keyakinan dan perilaku negatif dan menggantinya dengan cara-cara yang lebih positif dan adaptif.

b. Terapi Menerima dan Berkomitmen

Terapi ini menekankan pada penerimaan pikiran dan keberanian berkomitmen untuk menerapkan aktivitas yang dapat mengalihkan pikiran penderita dari aktivitas seksual kompulsif.

c. Terapi Psikodinamik

Terapi psikodinamik berfokus pada peningkatan kesadaran akan pikiran dan perilaku bawah sadar. Pikiran penderita akan dikembangkan dalam sebuah wawasan baru untuk meredakan ketegangan psikis dari pikiran seksual.

Ketiga terapi ini bisa dilakukan secara personal, berkelompok, berkeluarga, maupun berpasangan.

Pengobatan Kecanduan Seks

Selain psikoterapi, penderita dapat mengkonsumsi obat-obatan tertentu untuk meredam senyawa kimia dalam otak, yang akan membantu mengendalikan pikiran dan perilaku kompulsif. Secara umum, jenis obat yang diberikan biasanya berupa:

  • Antidepresan, digunakan untuk mengobati depresi, kecemasan, atau gangguan lain yang mendorong terjadinya perilaku seksual kompulsif
  • Naltrexone, digunakan untuk mengobati ketergantungan alkohol. Obat bekerja dengan memblokir bagian otak yang merasakan kesenangan atas perilaku adiktif tertentu.
  • Mood Stabilizer, digunakan oleh para penderita gangguan bipolar, yang juga dapat mengurangi dorongan seksual kompulsif
  • Anti Androgen, mampu mengurangi efek biologis hormon seks (androgen) pada pria. Obat ini umumnya digunakan pada pria dengan perilaku seksual kompulsif yang berpotensi membahayakan orang lain.

Namun yang perlu digarisbawahi, tidak semua jenis obat terapi kecanduan seks di atas cocok bagi penderita hiperseksual. Obat yang dikonsumsi tentu tergantung pada kondisi kesehatan pribadi serta tetap harus berdasarkan resep dan pengawasan dokter.

(imb/fef)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK