Sementara emosi-sosial adalah mengenai kemampuan mengenali, mengendalikan emosi, serta berinteraksi. Sedangkan fisik-motorik menyangkut soal fungsi tubuhnya yang kian berkembang.
Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti mengatakan, tiga aspek tumbuh kembang anak bisa diterjemahkan ke dalam 'lima potensi prestasi'. "Istilah ini lebih sederhana [untuk dipahami]," ujar Anna, dalam webinar bersama Danone, beberapa waktu lalu.
Nutrisi memang mengambil peran penting dalam tumbuh kembang anak. Zat besi, misalnya, yang tak hanya bermanfaat dalam pembentukan sel darah merah, tapi juga berperan untuk menunjang pertumbuhan fungsi saraf dan otak anak.
Catatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menemukan, 1 dari 3 anak di Indonesia mengalami anemia. Sebanyak 50-60 persen anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi. Anak yang kekurangan zat besi berpotensi tumbuh dengan gangguan kognitif dan mental yang bersifat permanen.
Namun, tumbuh kembang anak tak melulu perkara nutrisi. Menurut Anna, nutrisi saja tidak cukup untuk mendukung tumbuh kembang anak. Orang tua, lanjutnya, perlu memberikan stimulan yang tepat agar tumbuh kembang anak berjalan optimal.
Berikut lima potensi prestasi anak yang perlu diperhatikan orang tua.
1. Berpikir cepat
Berpikir cepat tak melulu anak yang merespons dengan cepat saat ditanya. Tapi, berpikir cepat lebih kepada kemampuan anak untuk mengolah informasi secara mendalam, kritis, cerdas, dan kreatif.
Ilustrasi. Lima potensi prestasi menjadi beberapa aspek yang perlu diperhatikan orang tua dalam hal tumbuh kembang anak. (istockphoto/ pinstock)
Adapun contoh stimulan untuk mengembangkan kemampuan ini di antaranya sebagai berikut.
Ajak anak untuk bicara lebih jelas
Anna tidak menyarankan orang tua mengajak bicara anak dengan kata-kata atau bahasa yang dibuat selucu mungkin. Orang tua direkomendasikan untuk berbicara dengan jelas, layaknya berbicara pada orang dewasa. Bahasa yang jelas dan singkat bisa memicu anak untuk bisa berpikir cepat.
Perbanyak kosakata
Orang tua bisa memperbanyak kosakata dengan membaca buku dan mengajak anak mengobrol.
"Orang tua membacakan buku tentang kenapa kodok senang berenang. Itu bisa membuka wawasan tentang apa yang ada di sekitarnya. Ajak anak untuk mencermati benda atau binatang yang dibacakan, biar kemampuan berpikir terstimulasi," jelas Anna.
Bermain teka-teki
Pada anak usia 1-3 tahun, orang tua bisa mengajak mereka untuk bermain menyembunyikan barang. Sementara pada anak usia 4-5 tahun, orang tua bisa mengajak mereka bermain tebak-tebakan.
Perkembangan tubuh adalah saat anak menjadi tinggi, kuat, sigap, fleksibel, luwes, lincah, dan terampil. Selain kecukupan nutrisi, tumbuh tinggi juga perlu didukung oleh faktor lain.
Orang tua bisa memberikan stimulan seperti berikut.
Memastikan kecukupan gizi
Orang tua perlu memastikan kecukupan gizi, utamanya zat besi. Anna mengingatkan agar orang tua tak memberikan makanan yang asal membuat anak kenyang.
Ruang aman untuk bergerak
Tak harus lahan khusus untuk bermain, tapi pastikan ujung meja diberi lapisan agar anak tak cedera. Pastikan juga kondisi lantai yang tidak licin. Jauhkan benda tajam dan barang-barang berbahaya lainnya dari aktivitas anak.
Kesempatan aktivitas fisik
Pandemi membuat aktivitas luar ruang jadi terbatas. Namun, di rumah orang tua bisa merancang permainan fisik, bahkan di atas kasur sekali pun.
Baca lima potensi prestasi anak lainnya di halaman berikutnya.
3. Percaya diri
Percaya diri tidak selalu anak jadi suka tampil. Percaya diri lebih menyoal keyakinan anak akan kemampuan dirinya. "Anak yakin 'saya bisa'. Tentang gimana anak mengatur emosinya supaya tidak meledak," kata Anna.
Berikut beberapa stimulan yang bisa diberikan orang tua.
Berikan kesempatan anak untuk memilih
Anak harus diberikan kesempatan untuk memilih. Misalnya saja, memilih baju yang ingin dipakainya. Saat pilihan anak disetujui, anak perlahan merasa yakin akan kemampuannya.
Berikan pujian
Berikan pujian saat anak berperilaku baik. Sebaiknya berikan pujian secara detail seperti 'Bunda senang kamu mewarnainya enggak keluar garis' atau 'Makasih, ya, sudah mau bantu menyapu'.
Saat dirasa sudah mampu, berikan anak kesempatan untuk merawat diri. Orang tua bisa membiarkan anak mandi sendiri, menggosok gigi sendiri.
4. Aktif bersosialisasi
Aktif bersosialisasi mencakup kemampuan anak berinteraksi dengan orang lain dengan menampilkan kemampuan sosialnya. Anna memberi contoh, anak berkenalan dengan teman baru, antre, berbagi, dan kemampuan menyelesaikan masalah dengan teman.
Berikut beberapa stimulan yang bisa diberikan orang tua.
Penggunaan bahasa utama
Penting untuk membiasakan anak menggunakan bahasa utama saat bersosialisasi, misalnya bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa utama membuat anak jadi terbiasa mengerti dan berinteraksi dengan bahasa tersebut.
Respons positif
Orang tua memberikan respons positif saat anak belajar berinteraksi dengan orang lain.
Ajak anak bermain peran
Di rumah pun bisa jadi ajang belajar bersosialisasi, salah satunya dengan bermain peran. Di sini anak bisa belajar mengambil suatu peran dan tugasnya.
Selama pandemi, ketangguhan jadi aspek penting untuk dicermati. Anak tangguh berarti kemampuan anak mengatasi stres dan kondisi menantang. Anak diharapkan bisa mengatasi dan tetap menunjukkan perilaku baik.
Berikut beberapa stimulan yang bisa diberikan orang tua.
Berikan kesempatan berusaha
Anna menyarankan agar orang tua memberikan kesempatan untuk berusaha saat menemui tantangan. "Jangan mudah bantu si kecil. Dorong dia untuk kembali berusaha," kata dia.
Cara ini membuat daya juang anak jadi terstimulasi. Orang tua tak disarankan untuk langsung memberikan bantuan karena kelak akan membuat anak kurang percaya diri.
Berikan contoh
Anak belajar dari teladan orang tua. Berikan anak contoh agar berani mencoba, belajar memakai cara sehat untuk mengatasi masalah.
Berikan apresiasi
Orang tua disarankan untuk memberikan apresiasi saat anak menunjukkan usaha, apa pun hasilnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Tumbuh kembang anak tak melulu menyoal perkembangan fisik. Masih ada banyak perkembangan anak lainnya yang patut diperhatikan orang tua.
Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam tumbuh kembang anak. Ketiga aspek tersebut di antaranya kognitif-bahasa, emosi-sosial, dan fisik-motorik.
Kognitif-bahasa berarti kemampuan seorang anak untuk berpikir. Aspek ini dimanifestasikan dalam kemampuan berbahasa anak yang berkembang.
Sementara emosi-sosial adalah mengenai kemampuan mengenali, mengendalikan emosi, serta berinteraksi. Sedangkan fisik-motorik menyangkut soal fungsi tubuhnya yang kian berkembang.
Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti mengatakan, tiga aspek tumbuh kembang anak bisa diterjemahkan ke dalam 'lima potensi prestasi'. "Istilah ini lebih sederhana [untuk dipahami]," ujar Anna, dalam webinar bersama Danone, beberapa waktu lalu.
Nutrisi memang mengambil peran penting dalam tumbuh kembang anak. Zat besi, misalnya, yang tak hanya bermanfaat dalam pembentukan sel darah merah, tapi juga berperan untuk menunjang pertumbuhan fungsi saraf dan otak anak.
Catatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menemukan, 1 dari 3 anak di Indonesia mengalami anemia. Sebanyak 50-60 persen anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi. Anak yang kekurangan zat besi berpotensi tumbuh dengan gangguan kognitif dan mental yang bersifat permanen.
Namun, tumbuh kembang anak tak melulu perkara nutrisi. Menurut Anna, nutrisi saja tidak cukup untuk mendukung tumbuh kembang anak. Orang tua, lanjutnya, perlu memberikan stimulan yang tepat agar tumbuh kembang anak berjalan optimal.
Berikut lima potensi prestasi anak yang perlu diperhatikan orang tua.
1. Berpikir cepat
Berpikir cepat tak melulu anak yang merespons dengan cepat saat ditanya. Tapi, berpikir cepat lebih kepada kemampuan anak untuk mengolah informasi secara mendalam, kritis, cerdas, dan kreatif.
Ilustrasi. Lima potensi prestasi menjadi beberapa aspek yang perlu diperhatikan orang tua dalam hal tumbuh kembang anak. (istockphoto/ pinstock)
Adapun contoh stimulan untuk mengembangkan kemampuan ini di antaranya sebagai berikut.
Ajak anak untuk bicara lebih jelas
Anna tidak menyarankan orang tua mengajak bicara anak dengan kata-kata atau bahasa yang dibuat selucu mungkin. Orang tua direkomendasikan untuk berbicara dengan jelas, layaknya berbicara pada orang dewasa. Bahasa yang jelas dan singkat bisa memicu anak untuk bisa berpikir cepat.
Perbanyak kosakata
Orang tua bisa memperbanyak kosakata dengan membaca buku dan mengajak anak mengobrol.
"Orang tua membacakan buku tentang kenapa kodok senang berenang. Itu bisa membuka wawasan tentang apa yang ada di sekitarnya. Ajak anak untuk mencermati benda atau binatang yang dibacakan, biar kemampuan berpikir terstimulasi," jelas Anna.
Bermain teka-teki
Pada anak usia 1-3 tahun, orang tua bisa mengajak mereka untuk bermain menyembunyikan barang. Sementara pada anak usia 4-5 tahun, orang tua bisa mengajak mereka bermain tebak-tebakan.
Perkembangan tubuh adalah saat anak menjadi tinggi, kuat, sigap, fleksibel, luwes, lincah, dan terampil. Selain kecukupan nutrisi, tumbuh tinggi juga perlu didukung oleh faktor lain.
Orang tua bisa memberikan stimulan seperti berikut.
Memastikan kecukupan gizi
Orang tua perlu memastikan kecukupan gizi, utamanya zat besi. Anna mengingatkan agar orang tua tak memberikan makanan yang asal membuat anak kenyang.
Ruang aman untuk bergerak
Tak harus lahan khusus untuk bermain, tapi pastikan ujung meja diberi lapisan agar anak tak cedera. Pastikan juga kondisi lantai yang tidak licin. Jauhkan benda tajam dan barang-barang berbahaya lainnya dari aktivitas anak.
Kesempatan aktivitas fisik
Pandemi membuat aktivitas luar ruang jadi terbatas. Namun, di rumah orang tua bisa merancang permainan fisik, bahkan di atas kasur sekali pun.
Baca lima potensi prestasi anak lainnya di halaman berikutnya.
5 Potensi Prestasi Anak dan Stimulan yang Perlu Diberikan
Ilustrasi. Lengkapi asupan zat besi dengan memenuhi lima potensi prestasi anak agar tumbuh kembang optimal. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
3. Percaya diri
Percaya diri tidak selalu anak jadi suka tampil. Percaya diri lebih menyoal keyakinan anak akan kemampuan dirinya. "Anak yakin 'saya bisa'. Tentang gimana anak mengatur emosinya supaya tidak meledak," kata Anna.
Berikut beberapa stimulan yang bisa diberikan orang tua.
Berikan kesempatan anak untuk memilih
Anak harus diberikan kesempatan untuk memilih. Misalnya saja, memilih baju yang ingin dipakainya. Saat pilihan anak disetujui, anak perlahan merasa yakin akan kemampuannya.
Berikan pujian
Berikan pujian saat anak berperilaku baik. Sebaiknya berikan pujian secara detail seperti 'Bunda senang kamu mewarnainya enggak keluar garis' atau 'Makasih, ya, sudah mau bantu menyapu'.
Saat dirasa sudah mampu, berikan anak kesempatan untuk merawat diri. Orang tua bisa membiarkan anak mandi sendiri, menggosok gigi sendiri.
4. Aktif bersosialisasi
Aktif bersosialisasi mencakup kemampuan anak berinteraksi dengan orang lain dengan menampilkan kemampuan sosialnya. Anna memberi contoh, anak berkenalan dengan teman baru, antre, berbagi, dan kemampuan menyelesaikan masalah dengan teman.
Berikut beberapa stimulan yang bisa diberikan orang tua.
Penggunaan bahasa utama
Penting untuk membiasakan anak menggunakan bahasa utama saat bersosialisasi, misalnya bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa utama membuat anak jadi terbiasa mengerti dan berinteraksi dengan bahasa tersebut.
Respons positif
Orang tua memberikan respons positif saat anak belajar berinteraksi dengan orang lain.
Ajak anak bermain peran
Di rumah pun bisa jadi ajang belajar bersosialisasi, salah satunya dengan bermain peran. Di sini anak bisa belajar mengambil suatu peran dan tugasnya.
Selama pandemi, ketangguhan jadi aspek penting untuk dicermati. Anak tangguh berarti kemampuan anak mengatasi stres dan kondisi menantang. Anak diharapkan bisa mengatasi dan tetap menunjukkan perilaku baik.
Berikut beberapa stimulan yang bisa diberikan orang tua.
Berikan kesempatan berusaha
Anna menyarankan agar orang tua memberikan kesempatan untuk berusaha saat menemui tantangan. "Jangan mudah bantu si kecil. Dorong dia untuk kembali berusaha," kata dia.
Cara ini membuat daya juang anak jadi terstimulasi. Orang tua tak disarankan untuk langsung memberikan bantuan karena kelak akan membuat anak kurang percaya diri.
Berikan contoh
Anak belajar dari teladan orang tua. Berikan anak contoh agar berani mencoba, belajar memakai cara sehat untuk mengatasi masalah.
Berikan apresiasi
Orang tua disarankan untuk memberikan apresiasi saat anak menunjukkan usaha, apa pun hasilnya.