Stres Vaksin Bisa Sebabkan Kejadian Ikutan PascaImunisasi

tim, CNN Indonesia | Senin, 22/02/2021 20:44 WIB
Tak hanya persiapan secara fisik, persiapan secara psikis pun penting jelang vaksinasi. Faktanya kejadian ikutan pascaimunisasi kerap muncul karena stres. Tak hanya persiapan secara fisik, persiapan secara psikis pun penting jelang vaksinasi. Faktanya kejadian ikutan pascaimunisasi kerap muncul karena stres. (Istockphoto/ Bunditinay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tak hanya persiapan secara fisik, rupanya persiapan secara psikis pun penting jelang vaksinasi. RA. Adaninggar Primadia Nariswari, dokter spesialis penyakit dalam di RS Brawijaya Surabaya, mengatakan cukup banyak reaksi vaksin timbul akibat faktor psikis.

"Kalau belum siap secara mental, ada rasa takut, ragu, mudah cemas, selama dia memaksakan diri vaksin (ada risiko) reaksi psikis yang kemudian dianggap reaksi vaksin," kata dokter yang disapa Ning ini saat webinar bersama Allianz, Senin (22/2).

Hal ini senada dengan data yang diungkapkan Komnas Kejadian Ikutan PascaImunisasi (KIPI). Mereka menyatakan kejadian yang paling banyak muncul pasca imunisasi Covid-19 periode pertama adalah terkait dengan stres atau lebih dikenal dengan immunization stress related responses. Data ini dihimpun dari laporan KIPI di 22 provinsi di Indonesia.


"Jadi gejala yang muncul terkait dengan respons kecemasan karena proses imunisasi bukan karena kandungan vaksinnya. Ini sekitar 60 persen," ungkap Ketua Komnas KIPI Profesor Hindra Irawan Satari dalam konferensi pers Kementerian Kesehatan, Senin (22/2).

KIPI yang muncul karena stres

Hindra menjelaskan gejala atau efek samping setelah vaksin ini muncul karena seseorang berada dalam kondisi stres atau takut saat divaksin. Gejala yang muncul meliputi mual, muntah, pingsan sekejap, muncul gerakan aneh, lumpuh, dan kejang.

Gejala ringan meliputi mual, kesulitan bernapas, kesemutan, lemas, dan berdebar. Sedangkan gejala berat seperti reaksi alergi anafilaksis.

"Namun, setelah diperiksa di rontgen atau CT scan ternyata semua normal. Dan keadaan kembali seperti biasa dalam satu atau dua hari dengan atau tanpa pengobatan," kata Hindra.

Menambahkan, dari pengamatan Ning, reaksi psikis ini bisa berupa kejang, pingsan akibat reaksi vasovagal. Mengutip dari Health Grades, vasovagal adalah gangguan yang mengakibatkan denyut jantung dan tekanan darah menurun sehingga aliran darah ke otak menurun dan membuat orang pingsan. Emosi tinggi termasuk panik, gugup, stres, atau ketakutan bisa memicu reaksi vasovagal.

Ada berbagai alasan mengapa stres vaksinasi ini muncul. Menurut Hindra, stres karena imunisasi ini dipicu karena ketakutan dari pengalaman pribadi, mendengar atau melihat cerita orang lain.

ilustrasi vaksin coronaFoto: iStockphoto/licsiren
ilustrasi vaksin corona

Sementara itu, untuk KIPI terkait dengan kandungan vaksin dinilai hanya terjadi dalam jumlah yang sedikit. Kasus dengan gejala serius terjadi dalam 42 per 1 juta penduduk sedangkan yang gejala ringan terjadi pada lima dalam 10 ribu penduduk.

Persiapan jelang vaksinasi 

Jika memiliki kecenderungan mudah cemas, takut, sebelum vaksin, Ning menyarankan untuk berkonsultasi dulu dengan tenaga profesional guna persiapan mental. Kalau memang belum merasa siap, sebaiknya vaksinasi ditunda.

"Kalau efek psikis dianggap orang efek vaksin, nanti makin banyak orang yang takut vaksin," imbuhnya.

Dalam kesempatan serupa, Vito A. Damay, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah mengingatkan untuk melakukan persiapan secara fisik. Jelang vaksinasi, sebaiknya mengupayakan makan dan minum yang benar agar di hari H tubuh dalam kondisi fit.

Mekanisme sebelum vaksinasi akan meliputi pengisian lembar skrining juga cek tekanan darah atau tensi. Saat tubuh kurang istirahat, makan atau minum kurang tepat, akan mempengaruhi kondisi tubuh dan berisiko penundaan vaksinasi.

"Sebelum vaksin jangan sampai besok tiba-tiba demam karena malamnya begadang, diusahakan tidak konsumsi kafein, obat stimulan untuk stamina supaya enggak menimbulkan detak jantung tinggi," kata Vito. 

(els/ptj/chs)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK