Alasan Bangunan Kuno di Jepang Bisa Bertahan dalam Gempa

CNN Indonesia | Selasa, 23/02/2021 16:33 WIB
Tak hanya indah untuk dipandangi, pagoda di Jepang juga bisa disambangi untuk belajar teknologi peredam gempa yang kuno. Ilustrasi bangunan kuno di Jepang. (peoplecleaner0/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jepang telah dilanda gempa bumi berkekuatan 7,0 atau lebih yang mengejutkan sebanyak 46 kali sejak pagoda di Kuil Horyu-Ji dibangun pada 607 M.

Banyak yang melakukan analisa bagaimana bangunan setinggi 37,1 meter itu tetap tegak saat diguncang gempa.

Bangunan pagoda mulai muncul tiba di Jepang pada abad ke-enam bersama agama Buddha dari China. Di daratan utama, pagoda secara tradisional dibangun dari batu.


Namun mengingat ketidakstabilan seismik Jepang dan curah hujan tahunan yang tinggi, rancangan itu tidak dapat dipertahankan.

Mengutip Gizmodo, setelah banyak bereksperimen akhirnya tukang bangunan di Jepang menemukan cara membangun pagoda dalam kondisi wilayah yang sering gempa dan hujan melalui tiga perubahan desain: penggunaan atap lebar dan berat, lantai terputus, dan shinbashira alias peredam guncangan.

Jepang adalah negara basah dengan curah hujan tahunan sekitar dua kali lipat China.

Jadi, untuk menjaga agar air hujan tidak mengalir dari gedung dan ke tanah di sekitar pondasi, yang berpotensi menyebabkan pagoda tenggelam, para tukang bangunan memperpanjang bentuk atap agar menjauh dari dinding - yang bisa mencakup hingga 50 persen atau lebih dari total lebar bangunan.

Tukang bangunan menggunakan serangkaian balok untuk menopang atap yang besar. Kemudian, untuk mencegah kebakaran parah pada bangunan, bagian atapnya kemudian diisi dengan gerabah yang berat untuk mencegah agar api tidak langsung menyulut struktur kayu di bawahnya.

Pagoda Toji, bangunan kayu tertinggi di Jepang, telah terbakar habis setelah disambar petir tiga kali sejak bangunan pertamanya dibangun pada tahun 824.

Kebakaran yang disebabkan oleh sambaran petir menjadi faktor utama hancurnya pagoda, oleh karena itu diletakkan tombak logam besar di bagian atap yang berfungsi sebagai penangkal petir.

Faktanya, hanya dua pagoda Jepang dalam 1.400 tahun terakhir, sepasang kuil Todai-ji, yang diketahui benar-benar runtuh karena diguncang gempa.

Atap yang lebar dan berat tidak hanya baik untuk perlindungan kebakaran, mereka juga bertindak sebagai penstabil saat gempa.

Dan bahkan saat gempa besar, struktur atapnya hanya akan menyebabkan bangunan bergoyang dengan lembut.

Pagoda Horyu-ji tidak memiliki balok penahan beban sentral seperti yang Anda lihat pada konstruksi modern.

Karena struktur bangunannya mengecil ke atas, tidak ada balok vertikal penahan beban tunggal yang terhubung ke balok di bawahnya.

Masing-masing lantai itu sendiri tidak terhubung erat, hanya bertumpuk satu sama lain dengan pengunci yang longgar. Ini memungkinkan bangunan pagoda bisa mengikuti goyangan gempa.

Agar lantai tidak meregang terlalu jauh, tukang bangunan datang dengan solusi yang cerdik: shinbashira.

Tampak seperti kolom penahan beban yang besar, namun shinbashira sebenarnya tidak menopang seluruh bobot bangunan (bobot tersebut didukung oleh jaringan 12 kolom luar dan empat kolom dalam).

Dibangun dari batang pinus besar, shinbashira diletakkan di bagian bawah atap dan digantung di poros tengah bangunan.

Kadang-kadang terkubur ke dalam tanah, kadang bertumpu ringan di atas tanah, dan kadang-kadang bahkan tidak menyentuh tanah - ia hanya menggantung dengan bebas.

Shinbashira bertindak sebagai peredam getaran gempa bumi. Ini juga mencegah lantai bergoyang ke titik runtuh.

Teknologi shinbashira yang sama masih digunakan sampai sekarang.

The Taipei 101 menggunakan pendulum baja 4 lantai yang sangat besar, seberat 730 ton yang digantung di lantai 92 untuk mencegah bangunan dari goyangan angin kencang.

Citicorp Center di New York, menggunakan balok beton seberat 400 ton untuk mencegah pergerakan selama badai.

(ard/ard)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK