7 dari 10 Rumah Tangga Indonesia Konsumsi Air Terkontaminasi

tim, CNN Indonesia | Jumat, 02/04/2021 13:09 WIB
Berdasarkan survei Litbangkes dan BPS, sebanyak 7 dari 10 rumah tangga di Indonesia mengonsumsi air minum yang terkontaminasi. Ilustrasi. Berdasarkan survei Litbangkes dan BPS, sebanyak 7 dari 10 rumah tangga di Indonesia mengonsumsi air minum yang terkontaminasi. (Hyrma/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia --

Indonesia masih memiliki 'pekerjaan rumah' besar terkait air minum. Dari survei yang diinisiasi Kementerian Kesehatan lewat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) dan BPS, sebanyak 7 dari 10 rumah tangga di Indonesia mengonsumsi air minum yang terkontaminasi.

"7 dari 10 rumah tangga di Indonesia mengonsumsi air minum dari sarana yang terkontaminasi Escherichia coli (E. coli)," ujar Doddy Izwardy, Kepala Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) Kemenkes," dalam gelaran Diseminasi Hasil Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga Tahun 2020 secara daring, Kamis (1/4).

Survei dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas air minum. Terlebih Indonesia menargetkan akses air minum aman di 2030. Doddy berkata air minum yang tidak aman berkorelasi dengan tingginya penyakit infeksi juga stunting. Survei melibatkan sekitar 25ribu rumah tangga di 493 kabupaten/kota di 34 provinsi.


Tidak hanya pengisian kuesioner dan wawancara rumah tangga, survei pun melibatkan uji sanitarian pada sampel-sampel air yang dikonsumsi rumah tangga.

Doddy melanjutkan air minum harus memenuhi kriteria yakni tidak hanya layak tetapi juga aman. Apa bedanya?

Dari survei dipetakan indikator air minum layak yakni rumah tangga menggunakan salah satu jenis sumber air minum yakni, air kemasan, air isi ulang, ledeng (perpipaan), sumur bor/pompa, sumur gali terlindungi, penampungan air hujan, hidran/terminal air dan membeli secara eceran.

Sedangkan indikator air minum aman yakni, jika rumah tangga menggunakan jenis sumber air minum layak, sumber air minum berada dalam rumah atau kawasan pagar rumah (terjangkau), tersedia sepanjang waktu dan bebas dari kontaminasi.

Survei menemukan sebanyak 93 persen rumah tangga mendapat akses air minum layak. Namun dilihat dari indikator air minum aman, angkanya masih memprihatinkan. Doddy berkata 'hanya' sebanyak 18,1 persen rumah tangga mengonsumsi air minum aman. Ini hanya dinilai dari kontaminasi E. coli).

"Bakal lebih berat lagi saat kontaminasinya enggak hanya E. coli. [Sebanyak] 11,9 persen rumah tangga yang mengakses air minum aman dinilai dari kontaminasi TDS [Total Dissolve Solid atau Jumlah Zat Padat Terlarut], E. coli, pH, nitrat dan nitrit," imbuhnya.

Tampaknya target akses air minum aman di 2030 terlampau jauh melihat hasil dari survei. Doddy berpendapat susunan program atau kebijakan demi pemenuhan target tidak bisa "one fit for all" atau satu program untuk semua daerah. Hasil survei mencerminkan kondisi beragam di berbagai wilayah.

Kita terlebih dahulu melihat proporsi rumah tangga menurut jenis sumber air minum untuk keperluan minum. Mayoritas atau 31,1 persen rumah tangga mengakses air minum lewat air isi ulang, diikuti sumur gali terlindungi (15,9 persen), sumur pompa (14,1 persen), air ledeng/perpipaan (13,1 persen), air kemasan (10,7 persen), mata air terlindungi (4,2 persen) dan sisanya sumur gali tak terlindungi, mata air tak terlindungi, penampungan air hujan, eceran, air permukaan dan terminal air.

Data ini mencerminkan data nasional. Saat diturunkan ke data-data regional, kita bandingkan Nusa Tenggara proporsi terbesar justru di ledeng/perpipaan. Ini berbeda dengan Papua, Maluku dan Kalimantan yang mayoritas mengakses air minum lewat air isi ulang.

"Kemudian kita harus tahu kita di posisi mana, yang mana yang perlu di-skilled up, Kadang kita cuma lihat data secara nasional. Kan Indonesia ini kondisi geografis per wilayah beda. Nantinya ada program yang diprioritaskan di tiap daerah," imbuhnya.

Perlu Kerjasama Capai Target Akses Air Minum Aman pada 2030

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK