Pandemi Covid-19 Picu Disfungsi Ereksi Secara Tak Langsung

tim, CNN Indonesia | Jumat, 09/04/2021 17:45 WIB
Ahli urologi menuturkan bahwa pandemi Covid-19 bisa memicu atau mempengaruhi disfungsi ereksi secara tidak langsung. Ahli urologi menuturkan bahwa pandemi Covid-19 bisa memicu atau mempengaruhi disfungsi ereksi secara tidak langsung. (iStockphoto/peakSTOCK)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pandemi Covid-19 ternyata juga membawa dampak di lingkungan ranjang termasuk memicu disfungsi ereksi (DE). Ahli urologi, Dyandra Parikesit, menuturkan bahwa wabah yang disebabkan oleh virsus SARS-CoV-2 ini bisa memicu atau mempengaruhi DE secara tidak langsung.

"DE itu multifaktor. Referensi pada 2017 belum memasukkan Covid-19 sebagai salah satu faktor. Sampai sekarang belum ada riset 'head-to-head' tentang pengaruh pandemi atau virus terhadap DE," ujar Dyandra saat peluncuran Topgra oleh DKT secara virtual, Kamis (8/4).

Meski demikian, Dyandra lanjut mengatakan bahwa terdapat komponen-komponen dalam pandemi Covid-19 yang mempengaruhi atau memicu disfungsi ereksi.


1. Inflamasi

Dyandra berkata pasien Covid-19 mengalami inflamasi atau peradangan dalam tubuh. Dalam beberapa studi disebut inflamasi tubuh berhubungan dengan disfungsi ereksi.

Secara ringkas, dia menjelaskan mulai dari inflamasi akan menimbulkan disfungsi endotel atau kelainan vaskular di mana pembuluh darah menjadi kaku. Akibatnya, aliran darah menurun sehingga pria kesulitan ereksi.

Ereksi, lanjutnya, memerlukan stimulasi (transmisi neural atau saraf), pembuluh darah yang sehat dan jaringan ereksi yang baik. Tak hanya dari fisiologis, ereksi pun memerlukan unsur psikis. Saat salah satunya mengalami disfungsi atau tidak dipenuhi maka ereksi sulit dicapai.

"Pembuluh darah kaku, aliran darah turun, jaringan ereksi enggak ada yang terisi sehingga susah ereksi," imbuhnya.

2. Efek pada testis

Terdapat beberapa penelitian yang melihat dampak virus pada testis pasien pria yang terinfeksi. Akumulasi virus bersirkulasi dalam darah, lalu masuk ke sel dengan bantuan reseptor ACE2.

Ditemukan virus pun banyak terdapat pada testis lalu membawa reaksi pada jaringan testis. Efeknya, kadar testosteron turun dan berhubungan dengan kesulitan ereksi.

"Jaringan yang bereaksi nanti akan keras, level testosteron menurun, susah ereksi," katanya.

3. Kesehatan mental

Tak bisa dimungkiri berbagai perubahan selama pandemi mulai dari keterbatasan mobilitas, menjaga jarak, larangan berkerumun, isolasi mandiri, stres dan takut akibat kehilangan anggota keluarga sangat mempengaruhi kesehatan mental.

Ansietas (cemas) dan depresi mempengaruhi hubungan seks. Cemas mempengaruhi performa, sedangkan depresi mempengaruhi libido. Saat keduanya dirasakan pria, akibatnya susah ereksi. Kasus ini bisa menciptakan lingkaran setan di mana saat susah ereksi, pria pun kembali merasa cemas dan depresi.

4. Kesehatan secara menyeluruh

Kondisi tubuh pascasakit tentu masih memerlukan perawatan termasuk setelah sembuh dari Covid-19. Hal ini pun membawa pengaruh ke kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh apalagi jika mengalami sakit cukup berat.

"Sakit yang berat bisa menurunkan fungsi jantung, pembuluh darah, enzim dan sebagainya [sehingga mempengaruhi ereksi]," kata dia.

Sementara itu, hingga kini belum ada laporan khusus mengenai prevalensi DE selama pandemi. Ia memaparkan temuan riset RS Cipto Mangunkusumo terhadap sampel populasi pria di Jakarta.

Dari sebuah survei online menggunakan International Index of Erectile Function (IIEF-5), ternyata rata-rata sebanyak 35,6 persen pria dari berbagai usia mengalami DE.

Laporan ini diterbitkan pada 2020 dengan data diambil di 2019 sehingga pandemi belum jadi salah satu faktor pemicu DE. Namun Dyandra melihat dari laporan mancanegara, kasus DE meningkat di masa pandemi.

Dia berkata IIEF-5 merupakan alat tes subjektif sebab penegakan diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan dokter.

Di sisi lain, DE bukan berarti tidak bisa dicegah atau dihindari. Anda perlu menyiasati faktor-faktor yang bisa dimodifikasi termasuk gaya hidup termasuk makan makanan dengan gizi seimbang, olahraga, juga menghindari kebiasaan merokok.

"Untuk yang memiliki komorbid bisa menjaga. Yang diabetes gula darahnya terkontrol. Hipertensi dikontrol konsumsi garamnya. Menurunkan stres," ujarnya.

(els/agn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK