Studi: Steroid Pembesar Otot Rusak Fungsi Testis Pria

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 23/03/2021 04:27 WIB
Studi terbaru menemukan, penggunaan obat steroid pembesar otot dapat merusak fungsi testis pria selama bertahun-tahun setelah berhenti meminum obat. Ilustrasi. Studi terbaru menemukan, penggunaan obat steroid pembesar otot dapat merusak fungsi testis pria selama bertahun-tahun setelah berhenti meminum obat. (Pixabay/bycfotografem)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti menemukan hubungan antara kebiasaan konsumsi obat steroid untuk membesarkan otot dengan kesehatan reproduksi pria. Studi terbaru menemukan, penggunaan obat steroid pembesar otot dapat merusak fungsi testis pria selama bertahun-tahun setelah berhenti meminum obat.

"Hasil penelitian ini menunjukkan adanya disfungsi testis yang bertahan lama," ujar penulis studi, Jon Rasmussen, melansir CNN.

Studi yang dipublikasikan di The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism ini melibatkan 132 pria berusia 16-50 tahun yang rajin melakukan latihan kekuatan otot yang bersifat rekreasional sebagai peserta.


Peneliti membagi peserta ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang tidak pernah menggunakan steroid. Kelompok kedua adalah mereka yang menggunakan steroid saat ini. Kelompok ketiga adalah mantan pengguna steroid yang berhenti tiga tahun sebelumnya.

Kadar testosteron yang terus berfluktuasi membuat para peneliti menggunakan penanda baru untuk menemukan indikasi berkurangnya fungsi testis. Peneliti menggunakan serum insulin-like factor 3 (INSL-3) yang merupakan hormon buatan yang dibuat di dalam testis.

Hasilnya, ditemukan bahwa pria yang pernah menggunakan steroid memiliki konsentrasi INSL-3 yang jauh lebih rendah daripada kelompok lainnya. Semakin lama jangka waktu penggunaan steroid, semakin rendah kadar INSL-3 yang ditemukan.

Steroid anabolik merupakan hormon testosteron buatan yang dibuat di laboratorium. Penggunaan steroid ini merusak sumbu hormonal hipotalamus-hipofisis-testis, yang dapat menghentikan produksi testosteron dan mengganggu kesuburan.

"Pemulihan sumbu hormonal ini memerlukan waktu yang panjang atau bahkan, mungkin tidak pulih sama sekali," ujar Rasmussen.

Penggunaan obat steroid anabolik telah dikaitkan dengan penyusutan pada testis, kadar testosteron yang lebih rendah, penurunan dorongan seks, jumlah sperma yang rendah, masalah pada ereksi, serta pertumbuhan payudara pada pria.

Dampak penyalahgunaan steroid anabolik lebih dari sekadar gangguan masalah seksual. Steroid pembesar otot dikaitkan dengan masalah lainnya seperti tekanan darah dan kolesterol tinggi serta meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular.

Ahli kedokteran olahraga Harvard Medical School, Shalender Bhasin megnatakan, daftar efek samping dari penggunaan steroid anabolik terus meningkat.

"Ada persepsi yang salah, yang menyebutkan bahwa bagaimana pun obat ini aman dan efek sampingnya dapat dikelola," ujar Bhasin, yang tidak terlibat dalam penelitian.

Bhasin mengatakan, sebagian besar pria yang menggunakan steroid anabolik akan memiliki masalah dengan testosteron dan produksi sperma, tergantung dengan durasi penggunaan.

(asr/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK