Orang Indonesia Tetap Ingin Berbagi THR di Masa Sulit Pandemi

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 14/04/2021 06:57 WIB
Survei terbaru menemukan, orang-orang Indonesia masih ingin berbagi THR untuk keluarga meski tak dapat bersilaturahmi secara langsung. Ilustrasi. Survei terbaru menemukan, orang-orang Indonesia masih ingin berbagi THR untuk keluarga meski tak dapat bersilaturahmi secara langsung. (CNN Indonesia/ Damar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pandemi tampaknya tak membuat orang-orang Indonesia jadi enggan berbagi THR di hari raya Idulfitri. Survei menemukan, orang-orang masih ingin berbagi meski tak dapat berjumpa dengan keluarga atau kerabat.

Survei yang diinisiasi oleh dompet digital, OVO, ini menemukan bahwa sebanyak 50 persen responden mengaku tetap ingin memberikan THR untuk keluarga meski tak ada silaturahmi langsung.

"Dengan segala tekanan yang dialami, [orang Indonesia] tetap ingin mengirim THR, meski enggak bisa ketemu saudara, [THR] akan dibagikan lewat transfer," ujar Head of Corporate Communication OVO, Harumi Supit, dalam konferensi pers virtual, Selasa (13/4).


Survei ini melibatkan hampir 500 responden dari berbagai wilayah di Indonesia. Survei memperlihatkan potret pengelolaan keuangan konsumen Indonesia selama Ramadan, termasuk pengelolaan THR.

Temuan ini cukup menarik mengingat situasi pandemi membuat orang sadar untuk lebih mengencangkan ikat pinggang. Namun, rupanya ini tak membuat semangat untuk berbagi luntur.

"Budaya Indonesia itu, kan, guyub, musyawarah, gotong royong. Nah, ini gimana kita berelasi, apalagi dalam keluarga. Menitikkan sedikit [tidak masalah] tapi bermanfaat," ujar psikolog Irma Gustiana dalam kesempatan serupa.

Meski nilainya kecil, bagi-bagi THR jadi bentuk kepedulian antar-sesama. Tak adanya silaturahmi langsung tak membuat membantu sesama atau berbagi kebahagiaan jadi urung.

Tak hanya itu, sebagian besar responden juga merasa sangat khawatir tak mendapatkan THR tahun ini. Tak mendapatkan THR berarti tak bisa memenuhi kebutuhan Idulfitri.

Menanggapi hal tersebut, perencana keuangan, Lolita Setyawati mengatakan, pola pikir masyarakat mengenai THR perlu diubah. Banyak orang melihat THR menjadi semacam pemenuhan kebutuhan. Padahal, esensinya THR hanya merupakan bonus, yang jika tak hadir tak sampai mengganggu pemenuhan kebutuhan hidup.

Sayangnya, kebiasaan masyarakat kita terbiasa menerima THR setiap tahun. Hal itu menimbulkan ketergantungan masyarakat terhadap THR.

"Salah satu kesalahan saat Ramadan itu ketergantungan pada THR. Sebaiknya upayakan untuk mengatur anggaran," katanya.

(els/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK