Dokter soal Molnupiravir Obat Corona: Tunggu Hasil Uji Klinis

CNN Indonesia | Kamis, 15/04/2021 07:08 WIB
Media sosial ramai soal obat molnupiravir yang diklaim ampuh obati Covid-19. Namun, dokter mengingatkan bahwa uji klinis obat tersebut belum rampung. Ilustrasi. Media sosial ramai soal obat molnupiravir yang diklaim ampuh obati Covid-19. (iStockphoto/FatCamera)
Jakarta, CNN Indonesia --

Media sosial ramai soal obat molnupiravir yang diklaim ampuh obati Covid-19. Obat itu dikabarkan telah menjalani uji klinis fase kedua berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh perusahaan Merck dan Ridgeback Biotherapeutics di Amerika dan Kanada.

Perusahaan tersebut mengumumkan hasil uji pendahuluan (preliminary) dari percobaan Ridgeback Phase 2a acak, tersamar ganda, terkontrol plasebo untuk mengevaluasi keamanan, tolerabilitas, dan kemanjuran untuk menghilangkan RNA virus SARS-CoV-2 dengan molnupiravir.

Menanggapi ramainya kabar tersebut, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban mengatakan bahwa belum ada cukup bukti yang menyebutkan bahwa molnupiravir bisa mengobati Covid-19. Dia mengajak masyarakat untuk tetap menunggu uji klinis rampung.


"Walaupun harapannya besar, tapi, kan, yang diperlukan itu bukti ilmiah. Sementara bukti ilmiahnya belum ada," ujar Zubairi, pada CNNIndonesia.com, Rabu (14/4).

Mulnopiravir sendiri merupakan obat antivirus yang dikembangkan oleh perusahaan Merck dan Ridgeback Biotherapeutics. Obat ini jadi sorotan karena diuji untuk melawan virus corona penyebab Covid-19.

Obat ini, lanjut Zubairi, merupakan produk n4-hidroksisitifinin, yaitu analog nukleotida yang telah banyak dipelajari dalam beberapa dekade ke belakang.

Pada dasarnya obat ini bekerja dengan menghambat replikasi virus di dalam tubuh. Obat mengganggu proses replikasi hingga virus tak terus berkembang.

"Intinya, obat ini menyebabkan replikasi RNA pada virus mengalami kesalahan. Akhirnya, replikasinya jadi keliru, akhirnya tidak membentuk virus kompeten yang bisa menyebabkan penyakit," jelas Zubairi.

Senada, dokter spesialis pulmonologi, Erlang Samoedro juga sepakat bahwa akan lebih baik jika masyarakat menunggu hasil uji klinis terlebih dahulu.

"[Molnupiravir] sedang diuji. Ya, kita tunggu saja hasilnya [uji klinis]," ujar Erlang, pada CNNIndonesia.com, Rabu (14/4).

Sebelumnya, obat ini telah diuji coba pada kelompok hewan. Uji coba menunjukkan bahwa molnupiravir tidak menyebabkan kecacatan karena memicu mutasi.

Sebelumnya, muncul kekhawatiran bahwa senyawa yang digunakan di dalam obat bisa memicu mutasi. Artinya, molnupiravir pada hewan dinyatakan aman.

Namun, Erlang mengingatkan bahwa efek yang terjadi pada hewan bisa berbeda dengan pada manusia. Jika obat dinyatakan aman pada saat diuji coba terhadap hewan, belum tentu efek yang sama akan dialami manusia.

"Kalau uji coba pada hewan memang baik. Semua obat antivirus [saat diuji coba pada hewan] selama ini juga [hasilnya] baik. Tapi, ketika diuji pada manusia hasilnya berbeda," jelas Erlang.

Meski obat ini memberikan harapan, namun Zubairi dengan tegas mengatakan bahwa untuk saat ini, obat tidak bisa digunakan, termasuk di Indonesia. Pasalnya, proses uji klinis belum rampung sepenuhnya.

"Jadi, untuk bisa mendapatkan izin di negara mana pun, harus sudah dikerjakan uji klinis fase 3," ujar Zubairi.

Jika kelak uji klinis fase 3 telah berlangsung dan ada laporan pendahuluan yang menemukan efektivitasnya, maka bisa dikeluarkan izin edar emergency use authorization (EUA), sebagaimana untuk vaksin Covid-19 yang beredar saat ini.

"Tanpa uji klinis fase tiga, sama sekali tidak boleh beredar di Indonesia," tegas Zubairi.

Saat ini, uji coba fase 2 molnupiravir terhadap 202 pasien Covid-19 usia dewasa baru saja selesai. Obat diberikan pada pasien tanpa gejala dan bergejala.

Mengutip laman resmi Merck, hasil memperlihatkan bahwa obat membantu menurunkan jumlah virus SARS-CoV-2 dalam tubuh. Obat juga diklaim membuat virus menghilang dari tubuh pasien setelah lima hari pemberian.

Kini, pihak Merck tengah mempersiapkan proses uji klinis fase ketiga untuk obat tersebut.

"Kalau benar-benar terbukti, tentunya bisa kita manfaatkan. Namun, bukan sekarang, karena belum waktunya," ujar Zubairi.

Disclaimer: penelitian ini masih membutuhkan kajian lebih lanjut dan mendalam sebelum bisa ditetapkan sebagai obat untuk mengatasi infeksi corona. WHO dan kemenkes hingga saat ini belum merekomendasikan obat tertentu untuk penyembuhan Covid-19.Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen
(mel/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK