Bahaya Meminum Air yang Terpapar Radiasi bagi Kesehatan

CNN Indonesia | Jumat, 16/04/2021 18:45 WIB
Keputusan Jepang membuang limbah reaktor nuklir ke laut menuai protes. Meski limbah diklaim aman, namun zat radioaktif tetap dapat berdampak pada kesehatan. Ilustrasi. (tookapic/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Negeri Bunga Sakura, Jepang dikabarkan akan membuang limbah reaktor nuklir Fukushima ke laut. Keputusan tersebut sontak menuai pro kontra dari negara sekitar karena dikhawatirkan mencemarkan lingkungan.

Meski limbah nuklir tersebut diklaim aman karena sudah diproses, zat radioaktif dapat membawa pengaruh buruk bagi tubuh dan lingkungan yang dicemarinya.

Dikutip dari Live Science, kebocoran nuklir akibat gempa di Fukushima, Jepang pada 2011 lalu menyebabkan air tanah tercemar dan tidak bisa dikonsumsi. Air tanah tercemar zat radioaktif dengan dosis 1-sievert (Sv) dapat meningkatkan risiko kanker hingga 4 persen.


Tingkat pencemaran tertinggi, tercatat pada 23 Maret 2011 di mana air di Tokyo mengandung 210 becquerel (Bq) iodine radioaktif per liter. Itu sebabnya pemerintah meminta warga Jepang kala itu tidak mengonsumsi air tanah dan mengonsumsi air kemasan yang tidak tercemar radiasi.

Bahaya Limbah Radioaktif untuk Kesehatan

Menurut Lembaga Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), radiasi dari limbah radioaktif dapat mempengaruhi atom pada makhluk hidup sehingga berisiko merusak jaringan dan DNA pada gen. Radiasi juga bisa merusak materi genetik (DNA) sehingga menimbulkan kecacatan atau risiko kanker.

Paparan radiasi tinggi yang diberikan dalam waktu singkat dapat menyebabkan gejala seperti mual, muntah, hingga kematian.

Namun, paparan radioaktif tingkat rendah dari lingkungan tidak menyebabkan efek kesehatan secara langsung, meskipun ikut berkontribusi meningkatkan risiko kanker.

Limbah radioaktif yang tidak diolah dengan benar dapat berpengaruh pada lingkungan dan menyebabkan air tercemar. Kondisi ini merusak lingkungan, terutama air yang dikonsumsi manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, air tercemar radioaktif masih dapat dikonsumsi dalam jangka pendek. Tapi, ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi, di antaranya kandungan radioaktif dalam air tidak lebih dari 0,1 Bq/liter untuk 228 radium (Ra), 1 Bq/ liter untuk 223-226 Ra, dan 234 uranium (U), 10 Bq/liter untuk 238 U, dan 100 Bq/liter untuk 222 radon-222.

Mengutip NCBI, 66 persen uranium yang terserap tubuh dapat hilang melalui urine. Sedangkan sisanya didistribusikan dan disimpan pada ginjal, 12-25 persen disimpan di tulang, dan 10-15 persen pada jaringan lunak.

Radionuklida atau zat radioaktif yang tertelan dan terserap dalam darah bisa terakumulasi dalam jaringan tubuh tertentu dan dapat merusaknya.

Sebuah studi ekologi di Amerika Serikat pada orang yang mengonsumsi air dengan konsentrasi radium tinggi menunjukkan angka kematian akibat kanker tulang yang tinggi. Selain itu, studi juga menunjukkan peningkatan angka kanker kandung kemih pada laki-laki, kanker payudara pada perempuan, dan kanker paru-paru karena peningkatan konsentrasi radium di persediaan air yang dikonsumsi.

(mel/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK