Jakarta, CNN Indonesia -- Mengajarkan anak budi pekerti yang baik, sesuai dengan syariat agama kadang jadi kesulitan para orang tua. Bagaimana caranya agar anak dapat secara alami belajar agama di kehidupan sehari-hari?
Dalam Islam, dikenal konsep tauhid yang menyatakan keesaan Allah SWT. Secara istilah, tauhid artinya menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya yang disembah. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua agar anak kenal dengan sang pencipta.
Hannah Indonesia, sebuah komunitas parenting islami memberikan beberapa tips untuk orang tua yang kesulitan mengajarkan agama pada anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu founder Hannah Indonesia, Ilma Dina mengatakan para orang bisa menjawab setiap pertanyaan anak dengan selipan ilmu tauhid di dalamnya. Mengenalkan keesaan Allah kepada anak juga menjadi fitrah para orang tua yang sudah diamanahi anak.
"Jawab dengan tauhid adalah sebuah komunikasi dengan anak sekaligus mengajarkan ilmu tauhid kepada anak," katanya dalam webinar Hannah Indonesia, Rabu (21/4).
Ada tiga sudut pandang atau mindset yang bisa diterapkan para orang tua ke dalam jawaban yang akan diberikan kepada anak agar ilmu tauhid tersampaikan secara alami.
1. Mindset: Segala hal yang disukai Allah SWT
Para orang tua bisa mengingatkan pada anak-anaknya bahwa tindakan atau kesehariannya bisa jadi adalah sesuatu yang disukai oleh Allah SWT.
Misalnya, ketika anak-anak akan pergi mandi dan menyikat gigi. Orang tua bisa memberikan penjelasan bahwa selain bertujuan untuk membersihkan badan dan menjaga kesehatan, mandi serta sikat gigi merupakan tindakan yang disukai Allah SWT.
"Itu bisa diulang berkali-kali dalam banyak kegiatan di rumah, sebenarnya cukup sederhana dan anak bisa mengenal Allah dengan cara mudah," kata Ilma.
2. Mindset: Allah SWT Maha Penolong
Mindset kedua yang harus dikenalkan kepada anak adalah bahwa tiada daya dan upaya selain karena pertolongan Allah. Sekilas terdengar mungkin agak rumit, padahal menurut Ilma mindset sangat mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ilma mencontohkan ketika sang anak menyadari bahwa ibunya pandai memasak, atau sang ayah pandai menyetir mobil, beritahu bahwa kedua pekerjaan itu tak akan berhasil tanpa pertolongan Allah.
"Kita bisa bilang kepada anak, 'Nak, ibu bisa masak enak karena ada Allah SWT yang mampukan', atau 'Alhamdulilah Allah SWT mampukan ayah untuk menyetir mobil ini supaya bisa mengantar kamu ke sekolah,'" tuturnya.
Cara Mengajarkan Tauhid pada Anak di Keseharian
Dalam Islam, dikenal konsep tauhid yang menyatakan keesaan Allah SWT. Berikut cara mengajarkan tauhid pada anak di keseharian. (iStockphoto/Nadezhda1906)
3. Mindset: Semua akan kembali pada Allah SWT
Ketiga yaitu menanamkan mindset bahwa semua hal di dunia adalah fana dan akan kembali pada Allah SWT. Mindset ini bisa ditanamkan ketika anak kehilangan sesuatu yang dia sukai, atau kehilangan orang berharga baginya.
Ilma mencontohkan ketika anak kehilangan tas kesukaannya. Ajak anak untuk bicara kepada Allah SWT soal perasaannya, dan betapa penting tas itu bagi si anak.
Setelah berdoa kepada Allah, ajarkan bahwa seluruh hal di bumi adalah milik Allah dan akan kembali lagi pada-Nya. Ini akan membuat Anda perlahan mengerti arti ikhlas dan sedikitnya dapat membantu anak meringankan kesedihannya.
"Kita bisa membuatnya agar sedikit lebih ringan di bahu anak, bahkan jika diterapkan pada orang dewasa bisa meringankan beban di bahu," ujar Ilma.
Selain itu, Ilma juga memberikan beberapa tips bagi para orang tua agar tak kesulitan mengaitkan kegiatan sehari-hari dengan ilmu tauhid.
Pertama, coba selalu mulai setiap jawaban dengan kata Allah SWT atau Rasulullah SAW. Orang tua bisa mengeksplorasi jawaban dimulai dengan kalimat "Allah SWT suka...", "Allah SWT maha..." atau "Rasulullah SAW menyukai...".
Misalnya ketika anak bertanya 'Kenapa sih ada awan kalau mau hujan, kalau cerah kok enggak ada awan?' Orang tua bisa menjawabnya dengan 'MasyaAllah berarti Allah SWT itu maha kuasa karena menciptakan awan berbeda-beda'.
"Entah bagaimana caranya supaya anak itu melihat sesuatu dengan kacamata Allah SWT," kata Ilma.
Cara kedua, para orang tua bisa mengaitkannya dengan sains. Menurut Ilma, sains dan ilmu tauhid sangat berkaitan erat karena menunjukkan sifat Allah SWT yang maha kuasa.
Kemudian ketiga, coba melatih Anak agar selalu mengaitkan setiap tindakannya karena Allah. Orang tua bisa mencoba memberikan pertanyaan pada anak, jika si anak bisa mengaitkannya dengan Allah, maka sedikitnya anak sudah mulai memahami keesaan Allah.