Kata Pakar soal Viral Anak Tak Tahu Akronim 'SD'

CNN Indonesia | Kamis, 22/04/2021 07:31 WIB
Sebuah konten video TikTok viral memperlihatkan beberapa anak yang tak tahu kepanjangan dari 'SD'. Bagaimana para ahli melihatnya? Ilustrasi. Konsep pendidikan dan peran orang tua yang minim membuat tingkat literasi anak jadi rendah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah konten video TikTok berisi tanya jawab dengan anak sekolah dasar (SD) viral beredar di media sosial Twitter. Dalam video tersebut, beberapa anak kelas 1-3 SD kebingungan ketika ditanya apa itu akronim 'SD'.

Jawabannya pun beragam. Ada yang menjawab dengan nama sekolahnya, bahkan ada yang menjawab SD adalah akronim dari 'sekolah dihapus'.

Sepintas, video itu memang menghibur, ditambah dengan gambaran anak yang lugu dan latar musik yang juga terkesan santai. Namun, di balik keluguan anak dan jawaban nyelenehnya, ada satu hal yang mungkin luput disadari, yakni rendahnya budaya literasi di Indonesia, yang terlihat dari ketidaktahuan anak mengenai akronim dari SD itu sendiri.


Pusat Peneliti Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Litbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019 sempat meneliti Indeks Aktivitas Literasi Membaca atau Alibaca di Indonesia. Meski tak menjurus pada anak tingkat SD, penelitian tersebut bisa menjadi gambaran bagaimana rendahnya tingkat baca masyarakat Indonesia secara umum.

Menurut penelitian tersebut, sebagian besar provinsi di Indonesia berada pada level aktivitas literasi rendah dan tidak satu pun provinsi termasuk ke dalam level aktivitas literasi tinggi atau sangat tinggi.

Nilai indeks membaca dihitung berdasarkan poin, 0-20 dinilai sangat rendah, 20-40 rendah, 40-60 sedang, 60-80 tinggi, dan 80-100 sangat tinggi. Hanya 9 provinsi yang masuk dalam kategori sedang, 24 provinsi masuk dalam kategori rendah, dan 1 provinsi masuk dalam kategori sangat rendah.

Psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi mengatakan, tingkat literasi membaca yang rendah membuat anak hanya mencari tahu apa yang dituntut pada mereka, atau hanya mencari tahu apa yang mereka kehendaki. Anak terbiasa hanya menjawab PR (pekerjaan rumah) atau pertanyaan berdasarkan isi teks buku, membuat rasa penasaran anak semakin rendah.

"Mereka hanya akan mempelajari, membaca, dan mencari tahu apa yang disuruh. Jadi, kehausan akan ilmu pengetahuan yang sifatnya ilmiah itu rendah sekali," kata Ratih kepada CNNIndonesia.com, Rabu (21/4).



Dengan demikian, mereka hanya akan membaca plang atau sekedar tahu bahwa mereka duduk di SD tanpa tahu apa kepanjangan dari SD itu sendiri. Anak-anak dengan literasi yang rendah juga akan cenderung tidak tertarik mengetahui asal usul atau penyebab dari suatu hal karena 'kehausan' akan ilmunya rendah.

Selain rendahnya literasi anak Indonesia, Ratih juga menyinggung soal peran orang tua mendidik anak. Orang tua yang enggan menjawab pertanyaan anak atau bahkan mematahkan pertanyaan yang dilontarkan sang anak akan membuat rasa penasaran anak menurun.

"Ada juga peran orang tua yang berpengaruh dalam pendidikan anak, kadang orang tua enggak menjawab pertanyaan anak, atau bahkan menjawab 'belum saatnya kamu tahu'. Nah, ini orang tua enggak menginformasikan pada anak, ditambah anak literasinya rendah," ujar Ratih.

Rasa penasaran yang rendah ditambah dengan minimnya peran orang tua dalam memberikan informasi pada akhirnya membuat tingkat literasi anak semakin rendah, sebagaimana yang terlihat pada video viral.

Tips untuk Orang Tua Tingkatkan Minat Baca Anak

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK