Jakarta, CNN Indonesia -- Menara yang melilit menjadi pemandangan yang paling ikonis dari Masjid Agung Samarra di Irak.
Masjid Agung Samarra sempat menjadi masjid terbesar di dunia pada masanya. Sekitar 80 ribu jamaah bisa beribadah di areanya.
Nama 'samarra' bermakna 'kebahagiaan bagi seluruh orang yang melihatnya'. Berlokasi di kota Samarra, masjid ini dibangun pada tahun 848 dan diselesaikan pada tahun 851 oleh khalifah Abbasiyah Al-Mutawakkil yang memerintah dari 847 sampai 861.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rezim pemerintahan Al-Mutawakkil memiliki pengaruh besar pada penampilan kota Samarra, karena dia tampaknya adalah seorang pencinta arsitektur, salah satu buktinya terlihat dalam bangunan masjid ini.
Masjid Agung Samarra terletak di dalam 15.058 hektare Kota Arkeologi Samarra yang tercatat sebagau Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2007.
Menaranya yang dinamakan Menara Malwiya, yang bermakna 'menara melilit', berbentuk kerucut spiral setinggi 52 meter dan lebar 33 meter. Terdapat tangga melingkar untuk sampai ke puncaknya.
Al-Mutawakkil disebut menjajal kekuatan tangga melingkar di menara dengan menunggangi keledai berwarna putih.
Walau terkesan unik, namun minaret ini punya banyak fungsi.
Selain menyuarakan adzan, menara ini juga menjadi "penanda kekuasaan wilayah", bahwa ada pemukiman Islam di Lembah Tigris, karena dari kejauhan puncaknya sudah terlihat.
Desain spiral unik menara ini disebut banyak orang sebagai turunan dari arsitektur ziggurat Mesopotamia.
Beberapa orang menganggap pengaruh Pilar Gor, yang dibangun di Kekaisaran Sasanian, lebih menonjol.
Masjid dengan Menara Melilit di Irak yang Jadi Korban Perang
Menara Malwiya, menara melilit di Masjid Agung Samarra, Irak. (iStockphoto/coddy)
Menara melilit di Masjid Agung Samarra ini mengilhami pemenang Pritzker Architecture Prize, Philip Johnson, untuk Kapel Thanksgiving yang dibangunnya pada 1976 di Thanks-Giving Square di Dallas, Texas, di Amerika Serikat.
Arsitektur menara masjid di Uni Emirat Arab, Masjid Sheikh Khalifa Bin Zayed Al Nahyan di Al Ain, juga terinspirasi dari menara ini.
Selain itu, Masjid Agung Samara menjadi salah satu inspirasi pembangunan masjid di lahan terbuka di penjuru dunia, salah satunya di Masjid Ibn Tulun di Kairo, Mesir.
Gambar Masjid Agung Samara beserta menaranya yang melilit juga sempat mejeng dalam uang kertas Irak pecahan 250 dinar.
Pada tahun 2005, puncak Menara Malwiya dibom.
Sebelumnya, pasukan Amerika Serikat dalam invasi mereka ke negara itu menggunakan puncak menara sebagai pos penembak jitu, hingga akhirnya lokasi tersebut akhirnya dihancurkan pemberontak Al-Qaeda.
Masjid Agung Samarra juga berada di wilayah konflik, sehingga namanya sering disebut 'sa'a man ra'a' yang bermakna 'kesedihan bagi seluruh orang yang melihatnya'.