Daftar Penyakit yang Mengintai Anak Jika Tak Diimunisasi
CNN Indonesia
Minggu, 02 Mei 2021 13:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Meski pandemi virus corona masih berlangsung sampai saat ini, tapi pelaksanaan imunisasi anak tetap harus dilakukan. (ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Meski pandemi virus corona masih berlangsung sampai saat ini, namun pelaksanaan imunisasi anak tetap harus dilakukan.
Imunisasi memang penting dilakukan untuk mencegah penyakit pada anak. Tapi saat pandemi Covid-19, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan cakupan imunisasi anak mengalami penurunan pada 2020.
"Cakupan imunisasi kita menurun pada anak maupun bayi. Kita harus memikirkan juga cakupan imunisasi pada anak-anak yang akan sekolah seperti anak SD karena bulan imunisasi anak sekolah belum berjalan selama pandemi," kata ketua IDAI Aman Pulungan dalam diskusi Pekan Imunisasi Dunia, Kamis (29/4).
Secara definitif, imunisasi adalah upaya untuk membentuk sistem kekebalan tubuh (imunitas) seseorang agar kebal terhadap penyakit. Imunisasi bisa diberikan sejak bayi hingga usia anak, beberapa imunisasi juga diberikan di usia dewasa untuk mencegah penyakit tertentu.
Sebenarnya, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah memiliki program imunisasi untuk bayi baru lahir dan program bulan imunisasi anak sekolah (BIAS). Ada 6 imunisasi dasar yang biasa diberikan, disesuaikan dengan usia anak. Ada imunisasi hepatitis B, BCG dan polio, DPT, HiB, dan campak. Imunisasi hepatitis sendiri diberikan beberapa kali di usia 0 bulan, 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan.
Selain itu, ada pula imunisasi lanjutan untuk usia 18 bulan-24 bulan yang bertujuan sebagai booster imunisasi pertama. Anak usia SD juga diberikan kembali imunisasi untuk menciptakan booster imun yang mencegah penyakit.
Plt Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Dokter Prima Yosephine mengatakan, imunisasi terbukti dapat mencegah 2-3 juta kematian pada anak setiap tahunnya. Imunisasi juga membantu mencegah anak terjangkit penyakit, serta menghindari risiko resistensi antibiotik pada anak.
Cakupan imunisasi lengkap dan merata juga akan membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity di sebuah daerah sehingga dapat memberikan perlindungan kesehatan pada anak.
Ia juga mengatakan, daerah yang tidak melakukan imunisasi pada anak rentan terserang outbreak atau kejadian luar biasa (KLB) penyakit. Sementara saat ini Indonesia masih harus berhadapan dengan pandemi Covid-19.
"Kalau anak tidak dapat imunisasi berkumpul dalam jumlah banyak maka dalam satu tempat tersebut akan terjadi outbreak sebuah penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksinasi," kata Prima.
Penyakit yang mengintai
Prima menjelaskan imunisasi mencegah anak terserang penyakit, atau jika sakit maka gejalanya akan jauh lebih ringan dan kemungkinan sembuh akan lebih besar.
Namun jika tak diimunisasi, ada beberapa penyakit yang berisiko tinggi diderita anak. Berikut beberapa di antaranya:
- Hepatitis B
Bayi baru lahir biasanya akan diberikan imunisasi hepatitis B untuk mencegah infeksi hati. Imunisasi hepatitis B juga diberikan kembali pada usia 2,3,4, dan 18 bulan.
Menurut Prima penyakit hepatitis B rentan menulari bayi dan anak-anak karena sistem kekebalan tubuhnya masih lemah. Imunisasi bisa membantu meningkatkan sistem imun sehingga tubuh anak kuat melawan virus hepatitis B.
Foto: CNN Indonesia/Safir Makki Dokter memberikan vaksin HPV 1 untuk siswa perempuan Sekolah Dasar Negeri Tebet Timur 07 di Kantor Kelurahan Tebet Timur, Selasa, 25 Agustus 2020. Kegiatan ini bagian dari bulan imunisasi anak sekolah (bias) yang diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu di bulan Agustus dan November. CNNIndonesia/Safir Makki
- Difteri
Difteri adalah infeksi akibat bakteri pada hidung dan tenggorokan. Penyakit ini tak selalu menunjukkan gejala, namun bisa sangat berbahaya dan mengancam nyawa.
Bakteri difteri mengeluarkan racun yang dapat merusak organ dalam tubuh dan berisiko kematian. Di Indonesia, difteri bisa dicegah dengan imunisasi DPT.
- TBC
Tuberkulosis atau TBC disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis. Imunisasi BCG dapat mencegah TBC pada anak. Pemerintah juga telah mewajibkan pemberian imunisasi BCG pada anak dan balita.
- Campak
Campak atau rubella merupakan infeksi menular akibat virus. Gejala campak berupa ruam di seluruh tubuh dan sangat menular. Campak yang tak ditangani dengan baik bisa mengarah pada komplikasi serius.
Penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi MR.
- Polio
Polio adalah penyakit akibat infeksi virus yang berbahaya karena menyerang sistem saraf pusat. Penyakit ini mudah menyebar terutama pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Menurut Halodoc, sampai saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan polio. Imunisasi menjadi satu-satunya cara pencegahan penyakit ini.
Jakarta, CNN Indonesia --
Meski pandemi virus corona masih berlangsung sampai saat ini, namun pelaksanaan imunisasi anak tetap harus dilakukan.
Imunisasi memang penting dilakukan untuk mencegah penyakit pada anak. Tapi saat pandemi Covid-19, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan cakupan imunisasi anak mengalami penurunan pada 2020.
"Cakupan imunisasi kita menurun pada anak maupun bayi. Kita harus memikirkan juga cakupan imunisasi pada anak-anak yang akan sekolah seperti anak SD karena bulan imunisasi anak sekolah belum berjalan selama pandemi," kata ketua IDAI Aman Pulungan dalam diskusi Pekan Imunisasi Dunia, Kamis (29/4).
Secara definitif, imunisasi adalah upaya untuk membentuk sistem kekebalan tubuh (imunitas) seseorang agar kebal terhadap penyakit. Imunisasi bisa diberikan sejak bayi hingga usia anak, beberapa imunisasi juga diberikan di usia dewasa untuk mencegah penyakit tertentu.
Sebenarnya, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah memiliki program imunisasi untuk bayi baru lahir dan program bulan imunisasi anak sekolah (BIAS). Ada 6 imunisasi dasar yang biasa diberikan, disesuaikan dengan usia anak. Ada imunisasi hepatitis B, BCG dan polio, DPT, HiB, dan campak. Imunisasi hepatitis sendiri diberikan beberapa kali di usia 0 bulan, 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan.
Selain itu, ada pula imunisasi lanjutan untuk usia 18 bulan-24 bulan yang bertujuan sebagai booster imunisasi pertama. Anak usia SD juga diberikan kembali imunisasi untuk menciptakan booster imun yang mencegah penyakit.
Plt Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Dokter Prima Yosephine mengatakan, imunisasi terbukti dapat mencegah 2-3 juta kematian pada anak setiap tahunnya. Imunisasi juga membantu mencegah anak terjangkit penyakit, serta menghindari risiko resistensi antibiotik pada anak.
Cakupan imunisasi lengkap dan merata juga akan membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity di sebuah daerah sehingga dapat memberikan perlindungan kesehatan pada anak.
Ia juga mengatakan, daerah yang tidak melakukan imunisasi pada anak rentan terserang outbreak atau kejadian luar biasa (KLB) penyakit. Sementara saat ini Indonesia masih harus berhadapan dengan pandemi Covid-19.
"Kalau anak tidak dapat imunisasi berkumpul dalam jumlah banyak maka dalam satu tempat tersebut akan terjadi outbreak sebuah penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksinasi," kata Prima.
Penyakit yang mengintai jika tak imunisasi
Meski pandemi virus corona masih berlangsung sampai saat ini, tapi pelaksanaan imunisasi anak tetap harus dilakukan. (ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA)
Penyakit yang mengintai
Prima menjelaskan imunisasi mencegah anak terserang penyakit, atau jika sakit maka gejalanya akan jauh lebih ringan dan kemungkinan sembuh akan lebih besar.
Namun jika tak diimunisasi, ada beberapa penyakit yang berisiko tinggi diderita anak. Berikut beberapa di antaranya:
- Hepatitis B
Bayi baru lahir biasanya akan diberikan imunisasi hepatitis B untuk mencegah infeksi hati. Imunisasi hepatitis B juga diberikan kembali pada usia 2,3,4, dan 18 bulan.
Menurut Prima penyakit hepatitis B rentan menulari bayi dan anak-anak karena sistem kekebalan tubuhnya masih lemah. Imunisasi bisa membantu meningkatkan sistem imun sehingga tubuh anak kuat melawan virus hepatitis B.
Foto: CNN Indonesia/Safir Makki Dokter memberikan vaksin HPV 1 untuk siswa perempuan Sekolah Dasar Negeri Tebet Timur 07 di Kantor Kelurahan Tebet Timur, Selasa, 25 Agustus 2020. Kegiatan ini bagian dari bulan imunisasi anak sekolah (bias) yang diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu di bulan Agustus dan November. CNNIndonesia/Safir Makki
- Difteri
Difteri adalah infeksi akibat bakteri pada hidung dan tenggorokan. Penyakit ini tak selalu menunjukkan gejala, namun bisa sangat berbahaya dan mengancam nyawa.
Bakteri difteri mengeluarkan racun yang dapat merusak organ dalam tubuh dan berisiko kematian. Di Indonesia, difteri bisa dicegah dengan imunisasi DPT.
- TBC
Tuberkulosis atau TBC disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis. Imunisasi BCG dapat mencegah TBC pada anak. Pemerintah juga telah mewajibkan pemberian imunisasi BCG pada anak dan balita.
- Campak
Campak atau rubella merupakan infeksi menular akibat virus. Gejala campak berupa ruam di seluruh tubuh dan sangat menular. Campak yang tak ditangani dengan baik bisa mengarah pada komplikasi serius.
Penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi MR.
- Polio
Polio adalah penyakit akibat infeksi virus yang berbahaya karena menyerang sistem saraf pusat. Penyakit ini mudah menyebar terutama pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Menurut Halodoc, sampai saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan polio. Imunisasi menjadi satu-satunya cara pencegahan penyakit ini.