Studi: Obat Ibuprofen Tak Memperparah Gejala Covid-19

Tim, CNN Indonesia | Senin, 10/05/2021 20:30 WIB
Konsumsi obat anti-inflamasi ditemukan tidak memperparah Covid-19, berlawanan dengan imbauan sebelumnya bahwa ibuprofen bisa memperburuk kondisi pasien. Ilustrasi. Konsumsi obat anti-inflamasi ditemukan tidak memperparah Covid-19, berlawanan dengan imbauan sebelumnya bahwa ibuprofen bisa memperburuk kondisi pasien. (morgueFile/mconnors)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mengonsumsi obat anti-inflamasi seperti ibuprofen ditemukan tidak memperparah infeksi virus corona penyebab Covid-19. Temuan ini berlawanan dengan apa yang dikhawatirkan pada awal masa pandemi bahwa ibuprofen justru memperburuk kondisi pasien Covid-19.

Hal tersebut ditemukan dalam sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Lancet Rheumatology pada Sabtu (8/5). Studi terhadap 72 ribu pasien yang dirawat di rumah sakit menemukan bahwa ibuprofen tak meningkatkan keparahan penyakit.

Penelitian ini memberikan bukti jelas bahwa obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID) aman digunakan pada pasien Covid-19. Lewat hasil studi ini, peneliti merekomendasikan agar dokter tetap perlu meresepkan obat NSAID sebagaimana diperlukan seperti sebelumnya.


"Ini [hasil studi] seharusnya memberi kepastian bagi dokter dan pasien, bahwa ibuprofen dan obat NSAID lainnya dapat terus digunakan dengan cara yang sama seperti sebelum pandemi," ujar penulis utama studi dari Edinburgh University, Ewen Harrison, dalam keterangan pers, melansir AFP.

Penelitian ini memeriksa data pada 72 ribu pasien Covid-19 yang menjalani perawatan rumah sakit di Inggris, Skotlandia, dan Wales antara Januari-Agustus 2020. Sebanyak 4.211 di antaranya telah mengonsumsi NSAID sebelum dirawat di rumah sakit.

Hasilnya, studi menemukan bahwa tingkat kematian antara kedua kelompok hampir sama. Sebanyak 30,4 persen dari mereka yang mengonsumsi ibuprofen dilaporkan meninggal dunia. Tak jauh berbeda dengan 31,3 persen dari mereka yang tidak mengonsumsi NSAID dilaporkan meninggal dunia.

Selain itu, ditemukan juga bahwa mereka yang mengonsumsi NSAID tidak lebih berisiko membutuhkan perawatan intensif.

Kendati demikian, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Misalnya, ibuprofen menjadi obat NSAID yang paling umum digunakan di Inggris. Dengan kondisi tersebut, menjadi tak jelas apakah hasil yang sama bisa ditemukan di negara lain dengan jenis NSAID yang berbeda.

Selain itu, peneliti juga tak tahu pasti berapa lama pasien telah mengonsumsi NSAID. Peneliti juga tak mencatat tujuan penggunaan NSAID pada pasien sebelum dirawat di rumah sakit.

Sebelumnya, pada masa awal pandemi Covid-19, sejumlah pihak khawatir akan dampak buruk dari konsumsi obat NSAID seperti ibuprofen pada pasien Covid-19. Obat dipercaya dapat memperparah gejala atau bahkan meningkatkan risiko komplikasi dan kematian.

Pada Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengimbau agar orang yang mengalami gejala Covid-19 menghindari pengobatan mandiri dengan ibuprofen. Imbauan dikeluarkan setelah pejabat Prancis mengingatkan bahwa efek anti-inflamasi dapat memperburuk perkembangan virus.

NSAID sendiri merupakan obat yang banyak tersedia. Obat ini digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi, mulai dari rasa nyeri ringan, artritis kronis, hingga penyakit kardiovaskular.

Disclaimer: penelitian ini masih membutuhkan kajian lebih lanjut dan mendalam sebelum bisa ditetapkan sebagai obat untuk mengatasi infeksi corona. WHO dan kemenkes hingga saat ini belum merekomendasikan obat tertentu untuk penyembuhan Covid-19.
(asr/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK