Alasan Memanaskan Makanan Bersantan Bahaya bagi Kesehatan

CNN Indonesia | Jumat, 14/05/2021 13:12 WIB
Santan tidak mengandung kolesterol, tapi berulang memanaskan makanan berbahan santan akan mengubah lemak menjadi lemak jenuh yang meningkatkan risiko penyakit. Ilustrasi. Makanan bersantan. (Istockphoto/AmalliaEka)
Jakarta, CNN Indonesia --

Santan merupakan salah satu bahan yang banyak digunakan dalam masakan Indonesia, seperti makanan khas padang, opor, sayur, gulai ikan hingga rendang.

Santan berasal dari parutan daging kelapa tua yang diperas dan disaring dengan warna putih keruh.

Sebagian dari Anda, barangkali kerap menyisakan makanan berbahan santan. Apalagi pada masa Lebaran begini. Biasanya karena porsi yang dimasak terlalu banyak. Saat ingin disajikan ulang, makanan tersebut biasanya dipanaskan agar lebih nikmat ketika disantap.


Padahal, makanan berbahan santan tidak boleh terlalu sering dipanaskan.

Ahli Gizi dari Mayapada Hospital Kuningan, Ika Setyani menjelaskan, sebenarnya santan sendiri tidak mengandung kolesterol melainkan asam lemak dan trigliserida yang dapat dibakar tubuh.

Hanya saja, lanjut dia, justru akan jadi masalah ketika santan diolah dalam waktu lama dan dihangatkan berkali-kali. Proses ini akan membuat lemak yang terkandung dalam santan berubah menjadi lemak jenuh.

"Kebanyakan orang Indonesia dan makanan Indonesia lebih enak setelah dihangatkan berkali-kali, ini yang bahaya," tutur Ika.

Coconut milk in a little jar and half coconut with pieces isolated on reflective white background.Ilustrasi. Santan tidak mengandung kolesterol, tapi proses pemanasan berulang kali akan mengakibatkan kandungan lemak dalam santan berubah jadi lemak jenuh yang meningkatkan risiko jantung juga stroke. ( Istockphoto/Fcafotodigital)

Lemak jenuh dapat meningkatkan kadar LDL (lemak jahat) dalam tubuh. Tingginya LDL dalam darah mengakibatkan penumpukan lemak di pembuluh darah dan berpotensi menyumbat aliran darah ke jantung juga otak.

Kondisi itu dapat meningkatkan risiko penyakit jantung hingga stroke.

Adapun ahli lain menyarankan, agar lemak baik pada santan tak hilang, sebaiknya hindari memasak atau mengolah santan hingga mendidih. Idealnya, konsumsi santan yang dimasak mendidih hanya diperbolehkan sekali dalam seminggu dengan tetap membatasi makanan bersantan lainnya.

Saran lain Dokter spesialis gizi, Tatik Bardosono konsumsi santan dalam batas aman yakni hanya sebanyak 1 sdm. Namun ia menyadari, momen lebaran seperti ini sulit untuk menghindari makanan bersantan.

Karena itu ia merekomendasikan konsumsi santan dibarengan makan buah dan sayur segar agar gizi seimbang.

"Saat Lebaran sulit menghindari konsumsi makanan bersantan karena memang itu tradisi, yang penting bisa diimbangi dengan konsumsi buah dan sayur segar serta acar yang biasa dihidangkan untuk mengantisipasi kelebihan asupan lemak dari santan," kata Tatik, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (12/5).

Beberapa bahan pengganti santan agar santapan lebaran Anda tetap sehat di antaranya susu rendah lemak, susu kedelai atau almond, dan Greek yogurt.

(ben/nma)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK