A TO Z

Mengenal Hipospadia, Kelainan pada Kelamin Pria

tim, CNN Indonesia | Sabtu, 18/09/2021 09:49 WIB
Hipospadia merupakan kelainan genitalia pada pria yang bisa mengganggu fungsi seksual seseorang. Simak penjelasan mengenai hipospadia sebagai berikut. Hipospadia merupakan kelainan genitalia pada pria yang bisa mengganggu fungsi seksual seseorang. (iStockphoto/dragana991)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebagian orang mungkin sudah tak asing dengan istilah hipospadia. Istilah ini merupakan kelainan genitalia pada laki-laki.

Pada kelainan hipospadia, lubang kencing pada laki-laki yang seharusnya berada di ujung penis bisa jadi berada di tengah, atau bahkan dekat dengan kantung testis (skrotum). Tak jarang bayi laki-laki dengan hipospadia dikira sebagai perempuan.

"Hipospadia itu lubang urinnya bisa tidak di ujung penis, bisa di leher penis, bahkan sampai bawah penis. Kadang bisa menyebabkan dokter salah persepsi kelamin bayi karena ada juga yang skrotumnya terbelah hingga bentuknya mirip labia mayora pada vagina perempuan," kata Ketua Urology Center Siloam Hospital ASRI Dokter Spesialis Urologi Nur Rasyid, beberapa waktu lalu.


Hipospadia mungkin tak mengancam nyawa. Namun hipospadia bisa mengganggu fungsi seksual seseorang karena penis tak tumbuh sempurna.

Hal itu juga bisa membuat aktivitas seksual pun jadi tidak nyaman. Beberapa orang yang tumbuh dengan hipospadia hingga dewasa juga keliru menganggap dirinya sebagai perempuan.

Sebenarnya, hipospadia bukanlah penyakit langka. Hipospadia terjadi pada 1 dari 200-300 bayi laki-laki. Namun di Indonesia, kelainan ini dianggap sebagai aib dan cenderung ditutup-tutupi. Padahal dengan penanganan tepat, hipospadia bisa teratasi.

"Kalau ini dibiarkan sampai anaknya besar, nanti dia kesulitan berhubungan seksual, kemudian dia sulit buang air kecil karena harus duduk," kata Arry Rodjani, dokter spesialis urologi, 

Gejala dan diagnostis hipospadia

Hipospadia tidak menimbulkan sakit atau gejala tertentu. Lubang uretra pada orang dengan hipospadia terletak di bagian bawah penis, bukan di ujungnya. Pada kondisi yang jarang terjadi, lubang uretra ditemukan di bawah skrotum.

Menurut Arry, hipospadia bisa didiagnostik dengan mata telanjang. Kelainan ini bisa terdeteksi menggunakan USG 4 dimensi pada masa kehamilan, juga bisa jelas terlihat pada penis bayi baru lahir.

Namun sebagian orang mungkin keliru melihat genital bayi baru lahir dengan hipospadia sebagai perempuan karena bentuknya mirip vagina.

"Pada hipospadia berat dengan testis tidak teraba atau dengan kelamin ambigu, membutuhkan pemeriksaan genetik (kromosom) dan endokrin segera setelah lahir untuk mengetahui jenis kelaminnya," ujar Arry.

Faktor risiko hipospadia

Hipospadia terjadi akibat ada gangguan pembentukan kelamin saat pertumbuhan janin. Meski demikian, penelitian untuk mengetahui penyebab hipospadia masih harus diteliti lebih lanjut.

Menurut Arry, ada banyak dugaan kenapa pertumbuhan penis terganggu dalam masa kandungan. Beberapa faktor yang mungkin jadi penyebab hipospadia adalah genetik, lingkungan kehamilan yang kurang baik, bayi atau ibu dengan obesitas atau underweight, hingga program bayi tabung.

"Saat program bayi tabung di mana ibu diatur hormonnya, itu memungkinkan 5 kali terjadinya hipospadia," kata Arry.

Konsumsi makanan cepat saji, makanan atau minuman kemasan yang berpengawet, juga diduga menjadi penyebab terjadinya hipospadia. Konsumsi bahan pengawet pada makanan secara tidak disadari ternyata mengganggu hormon estrogen alami pada tubuh.

Bahkan Arry menduga, penggunaan kosmetik, parfum, sampo, bisa menyebabkan terganggunya estrogen saat kehamilan.

Simak penjelasan lebih lengkap terkait tindakan medis pada hipospadia di halaman berikut.

Tindakan medis terhadap hipospadia

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK