Anosmia Disebut Bisa Jadi Gejala Corona Varian Delta

tim, CNN Indonesia | Senin, 21/06/2021 14:56 WIB
Seperti pada varian lainnya, anosmia atau kehilangan indera penciuman disebut bisa menjadi salah satu gejala virus corona varian delta. Ilustrasi. Seperti pada varian lainnya, anosmia atau kehilangan indera penciuman disebut bisa menjadi salah satu gejala virus corona varian delta. (iStockphoto/microgen)
Jakarta, CNN Indonesia --

Infeksi virus corona B.16.17.2 atau juga dikenal dengan sebutan virus corona varian Delta dilaporkan memiliki gejala yang berbeda dengan varian lainnya. Namun, seperti gejala varian lainnya, anosmia atau kehilangan indera penciuman bisa jadi salah satu gejala virus corona varian delta.

Beberapa gejala yang ditemukan pada pasien Covid-19 varian delta di antaranya demam lebih dari 37,8 derajat, batuk lebih berat, sesak napas, hingga mengganggu saluran pencernaan.

Varian delta bahkan disebut menyebabkan gejala sakit di saluran pendengaran seperti telinga berdenging atau nyeri hingga menyebabkan sakit kepala.


"Gejala yang biasa ditemukan pada pasien varian delta secara umum ada demam tinggi, batuk, pilek, sesak napas, sakit saluran pencernaan. Yang agak berbeda ada gejala sakit telinga dan telinga berdenging," kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam Eric Daniel Tenda, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (21/6).

Studi terbaru di Inggris bahkan menemukan tiga gejala umum yang terkait dengan virus corona varian Delta yakni sakit kepala, sakit tenggorokan, dan pilek.

Meski ada perbedaan gejala antara varian delta dan varian lainnya, tapi anosmia tetap bisa menjadi gejala seseorang yang terinfeksi virus corona varian delta.

"Meski jarang dilaporkan gejala anosmia pada pasien Covid-19 varian delta, anosmia tetap bisa jadi salah satu gejala yang disebabkan jika terinfeksi Covid-19. Baik itu varian delta atau varian lain," ucap Eric.

Seorang yang terinfeksi Covid-19 dengan virus corona varian apa pun bisa mendapati gejala anosmia ini, yakni tak bisa mencium wewangian atau bau busuk sekali pun.

Sebabnya, SARS-CoV-2 varian apa pun mengikat reseptor Angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) yang menjadi 'pintu masuk' virus ke tubuh. Reseptor ACE ini menempel pada permukaan luar sel di beberapa organ, seperti paru-paru, arteri, jantung, ginjal, dan usus.

Sebagaimana dilansir New Medical, reseptor ACE2 bisa mengikat pada sel hidung hingga menyebabkan hilangnya fungsi sensorik pada neuron reseptor penciuman hingga mengakibatkan anosmia.

Meski demikian, penelitian terhadap virus corona varian delta masih perlu dilakukan lebih dalam untuk melihat gejala khusus yang terjadi dan bagaimana varian delta bekerja.

"Sekali lagi dibutuhkan penelitian lebih besar, apakah benar pasien Covid-19 delta itu gejala anosmia masih ada, apakah CT Valuenya rendah, dan lainnya, tapi sekali lagi bahwa ada gejala tambahannya. Selain batuk demam sesak, anosmia tetap ada," ujar Eric.

Perawatan jika terkena anosmia

Baik varian delta maupun bukan, anosmia mendadak bisa jadi pertanda infeksi Covid-19. Jika mengalami anosmia dan sedang isolasi mandiri di rumah, Anda bisa mencoba mencuci hidung secara teratur.

Eric menganjurkan untuk rutin cuci hidung dengan saline water (cairan infus) 2-3 kali sehari. Selain itu, tidak panik dan tetap mengonsumsi vitamin serta obat-obatan sesuai saran dokter.

"Jika kena anosmia, tidak perlu panik. Bisa lakukan cuci hidung dan mengkonsumsi obat serta vitamin sesuai anjuran dokter. Jika gejala memberat, segera menghubungi fasilitas kesehatan terdekat," tuturnya.

(mel/agn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK