3 Masalah Kulit Akibat Jarang Ganti Seprai

tim, CNN Indonesia | Sabtu, 24/07/2021 05:40 WIB
Selain kotor dan jorok, tidak mengganti seprai juga menimbulkan sejumlah dampak buruk. Apa saja? Selain kotor dan jorok, tidak mengganti seprai juga menimbulkan sejumlah dampak buruk. Apa saja? (iStockphoto/KatarzynaBialasiewicz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kapan terakhir kali Anda mengganti seprai di tempat tidur Anda? Minggu lalu? Seminggu sebelumnya? Atau mungkin sudah begitu lama hingga Anda lupa?

Sebagian besar ahli kesehatan mendesak orang untuk mengganti seprai. Selain faktor kotor, tidak mengganti seprai juga menimbulkan sejumlah dampak buruk. Apa saja?

Berikut pemaparan ahli soal bahaya yang bisa timbul akibat tidak mengganti seprai.


1. Alergi

Debu tungau merupakan musuh bebuyutan bagi penderita alergi.

"Makhluk kecil seperti serangga ini mungkin menjadi pemicu paling umum untuk asma dan alergi sepanjang tahun, dan mereka berkembang biak di tempat tidur," kata Melanie Carver, kepala misi dari Asthma and Allergy Foundation of America (AAFA), seperti dikutip LiveStrong.

Meskipun Anda tidak dapat melihatnya dengan mata telanjang, tempat tidur kotor dipenuhi makhluk mikroskopis ini.

Menurut Carver, debu tungau ini memakan sel-sel kulit mati manusia yang mengelupas setiap hari, termasuk yang jatuh di antara seprai.

Dan kotoran yang ditinggalkan debu tungau adalah alergen yang umum bagi banyak orang.

Selain itu, debu tungau bukan satu-satunya hal yang dapat menumpuk di seprai yang tidak dicuci dan membuat Anda bersin.

"Dalam iklim lembab, tempat tidur dapat menumbuhkan jamur," kata Carver. "Selain itu, serbuk sari bisa masuk ke kamar tidur Anda melalui jendela yang terbuka atau yang menempel pada pakaian atau rambut Anda."

Begitu juga dengan bulu dari hewan peeliharaan.

Faktanya, sebuah studi Agustus 2018 di Current Allergy and Asthma Reports menemukan bahwa kamar tidur adalah titik panas untuk paparan alergen karena manusia menghabiskan berjam-jam menghirup dan menghembuskan udara saat kita tidur.

Lebih dari 90 persen kamar tidur mengandung tiga atau lebih alergen yang dapat dideteksi, dan 73 persen memiliki tingkat alergen yang tinggi.

Tanda-tanda alergi debu tungau meliputi:

- Bersin
- Hidung meler dan/atau hidung tersumbat
- Mata gatal, merah atau berair
- Hidung, mulut, tenggorokan atau kulit gatal
- Batuk

"Jika alergi Anda memicu asma Anda, Anda mungkin juga mengalami kesulitan bernapas, dada sesak atau nyeri dan suara siulan atau mengi saat bernapas," kata Carver.

2. Jerawat

Selain alergi, seprai kotor juga bisa menimbulkan potensi masalah kulit yang lain yakni jerawat.

"Jika Anda berkeringat di malam hari atau jika Anda berolahraga di malam hari dan tidak mandi sebelum tidur, Anda mungkin mengalami jerawat atau folikulitis," kata Robin Evans, dokter kulit bersertifikat dan instruktur klinis dermatologi di Albert Einstein School of Medicine.

3. Ruam

Ruam dan gatal-gatal adalah masalah lain yang timbul jika seprai tidak bersih.

"Jamur, jamur atau jamur bisa tumbuh di lembaran lembab," kata Evans.

"Tergantung pada tingkat jamur dan seberapa sensitif kulit Anda, ini bisa menyebabkan eksim kambuh atau reaksi alergi kulit yang disebut dermatitis kontak."

"Penting untuk dicatat bahwa mencuci seprai dengan deterjen yang memiliki wewangian dan bahan kimia lainnya dapat memperburuk eksim," tambah Woolery-Lloyd.

"Jadi, jika Anda memiliki kulit sensitif, gunakan produk yang lembut dan tidak beraroma."

Lalu, seberapa sering harus mengganti seprai?

Bukan hanya seprai, menurut Sleep Foundation, ada beberapa bagian dari tempat tidur yang perlu diganti dan dibersihkan secara rutin. Di antaranya:

1. Seprai: Satu hingga dua minggu

2. Bed cover: Setiap 2 minggu hingga 1 bulan

3. Selimut/selimut: Setiap 2 hingga 3 bulan

4. Bantal: Setiap 4 hingga 6 bulan

(agn/agn)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK