Jakarta, CNN Indonesia -- Sebelum munculnya Bandara Internasional Soekarno-Hatta atau Bandara Internasional Ngurah Rai yang langganan juara peringkat terbaik di dunia, Indonesia punya bandara kebanggaan pertama: Bandara Kemayoran.
'Bandar Udara Kemajoran' yang dibangun penjajah Belanda resmi dibuka pada tanggal 8 Juli 1940 dan dikelola oleh Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM). Fungsi awalnya sebagai pusat penerbangan komersial sekaligus militer Belanda.
Sejarawan Betawi, Yahya Andi Saputra Sahibul, mengatakan pendirian Bandara Kemayoran kian memperkuat mobilitas Belanda di Indonesia, selain dari akses laut dan darat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama ini kan jalur kedatangan itu melalui laut ke Tanjung Priok, ke pelabuhan-pelabuhan lain di seluruh Jawa, Sumatera, dan lain-lain. Untuk mempersingkat waktu, dibangunlah jalur udara melalui Bandara Kemayoran," kata Yahya kepada CNNIndonesia.com.
Bandara Kemayoran membuka rute penerbangan hingga ke Australia. Pelayanan rute itu membuat eksistensi bandara ini diperhitungkan di mata dunia.
Sebab, negara tetangga, seperti Singapura, baru memulai mengoperasikan penerbangan internasional pada 1980-an melalui Bandara Changi.
Bandara Kemayoran punya dua landasan pacu yang saling bersilangan. Pertama, landasan pacu utara-selatan (17-35) dengan ukuran 2.475 x 45 meter. Landasan pacu itu kini menjadi Jalan Benyamin Sueb.
Kedua, landasan pacu barat-timur (08-26) dengan ukuran 1.850 x 30 meter. Bekas landasan itu kemudian saat ini menjadi menjadi Jalan HBR Motik.
Pesawat pertama yang mendarat di Bandara Kemayoran adalah pesawat DC-3 Dakota milik KNILM. Pesawat itu terbang dari lapangan udara Tjililitan - sekarang Halim Perdanakusuma.
Pesawat-pesawat KNILM lain yang pernah singgah pada awal berdirinya Bandara Kemayoran di antaranya ialah; pesawat jenis Douglas DC-2 Uiver; Douglas DC-3 Dakota; Fokker F.VIIb 3m; Grumman G-21 Goose; dan de Havilland DH-89 Dragon Rapide.
Kemudian ada juga Lockheed L-14 Super Electra; Douglas DC-5; dan Sikorsky S-43 Baby Clipper.
Selain pesawat-pesawat KNILM tadi, ada juga pesawat milik Aeroclub Batavia seperti Buckmeister Bu-131 Jungmann; dan de Haviland DH-82 Tigermoth; Piper J-3 Cub; dan Walraven 2.
Setelah kolonial Belanda terusir dari Indonesia, Jepang gantian menguasai Bandara Kemayoran.
Pesawat pertama yang mendarat di sana adalah pesawat tempur Mitsubishi A6M2 Zeke, lebih dikenal dengan nama Navy-0 atau Zero.
Setelah Jepang menyerah, giliran pesawat-pesawat Sekutu yang datang ke Kemayoran, seperti Supermarine Spitfire; B-25 Mitchell; dan P-51 Mustang.
Selain itu berdatangan pula pesawat-pesawat lain, di antaranya DC-4/C-54 Skymaster; DC-6, Boeing 377 Stratocruiser; dan Lockheed Constellation.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Bandara Kemayoran, Gerbang Internasional Pertama di Indonesia
Foto lama pemandangan Bandara Kemayoran di Jakarta, bandara internasional dan komersil pertama di Indonesia. (Star Magazine via Wikimedia Commons)
Milik Indonesia
Setelah sekian lama dikuasai Belanda dan Jepang, Bandara Kemayoran akhirnya berpindah tangan ke Indonesia yang telah merdeka.
Tak berselang lama dari kemerdekaan, Indonesia juga mulai mengoperasikan maskapai nasional pertamanya pada 1949.
"Dia [Kemayoran] akhirnya dinasionalisasi menjadi dan konon, maskapai kita itu muncul di situ. Garuda Indonesia Airways (GIA) itu di situ," kata Yahya.
Presiden pertama Indonesia, Soekarno saat itu sering menerima kunjungan kenegaraan dari negara lain. Setiap tokoh yang datang ke Indonesia, semua mendarat di Kemayoran.
Saat itu, memang Kemayoran adalah satu-satunya gerbang lalu lintas udara internasional pertama menuju Indonesia.
Sekitar 1962-1964, bandara itu dikelola oleh Perusahaan Negara Angkasa Pura Kemayoran di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
"Presiden Soekarno menerima banyak tamu kehormatan dari berbagai negara, salah satunya adalah Ratu Belanda Wilhelmina," kata salah satu Humas PPK Kemayoran yang diwawancarai oleh CNNIndonesia.com pada Kamis (5/8).
Sesampainya di bandara, para tamu itu bisa beristirahat di ruang VIP di lantai satu, khusus tamu. Ruangan itu berada di antara terminal A dan B.
Kemudian, di lantai dua juga terdapat ruang VIP lagi. Biasanya, ruangan itu digunakan untuk istirahat presiden.
Ruang VIP yang biasa digunakan presiden dulunya sangat artistik. Di tembok-temboknya ada relief khas Bali dan gambar Ramayana.
Setelah berganti presiden dari Soekarno menjadi Soeharto, Bandara Kemayoran kian ramai dan membuat ruwet lalu lintas udara Bandara Halim Perdanakusuma yang kala itu menjadi basis militer.
Pemerintah akhirnya memutuskan untuk membuat bandara internasional baru di Cengkareng. Pada 1 April 1985 bandara itu akhirnya diresmikan dengan nama Bandara Soekarno-Hatta.
Bandara Kemayoran resmi berhenti beroperasi pada 31 Maret 1985. Pengelolaannya diserahkan pengelolaannya kepada Badan Pengelola Kompleks Kemayoran (BPKK) dengan dikeluarkannya Kepres No 53 tahun 1985 juncto Kepres no 73 tahun 1999.
Sampai saat ini, beberapa bekas bangunan Bandara Kemayoran masih berdiri, salah satunya Menara ATC berwarna merah dan putih yang sempat tampil dalam komik Tintin 'Flight 714 (Penerbangan 714)'.