Tak hanya batuk dan demam, pandemi Covid-19 juga menimbulkan permasalahan kulit. Terdapat sejumlah penyebab penyakit kulit saat pandemi virus corona.(Foto: Istockphoto/Getty Images/dimarik)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tak hanya batuk dan demam, pandemi Covid-19 juga menimbulkan permasalahan kulit. Terdapat sejumlah penyebab penyakit kulit saat pandemi virus corona.
Masalah kulit bisa terjadi karena berbagai faktor. Mulai dari penggunaan masker, terlalu sering menggunakan hand sanitizer hingga pemakaian sarung tangan.
"Bahkan terlalu banyak paparan sinar matahari saat berjemur juga tidak baik untuk kulit," kata Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Susie Rendra dalam webinar Jaga Kulit Tetap Sehat Selama Pandemi yan digelar Rumah Sakit Pondok Indah, Kamis (26/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Susie menggolongkan persoalan kulit yang bisa terjadi akibat pandemi ini ke dalam empat penyebab utama.
Berikut 4 penyebab penyakit kulit saat pandemi Covid-19:
1. Akibat kebiasaan baru
Penyakit kulit yang disebabkan oleh kebiasaan baru banyak dikeluhkan masyarakat. Susie mengaku kerap menerima keluhan penyakit kulit akibat beberapa kebiasaan baru yang harus dilakukan selama pandemi.
Pertama yaitu penyakit kulit yang muncul akibat penggunaan masker atau dikenal dengan istilah maskne. Maskne adalah istilah baru untuk jerawat yang terjadi akibat masker.
"Jadi istilahnya itu masker acne. Jerawat muncul di area yang tertutup masker," kata Susie.
Tak ada perbedaan signifikan pada jerawat ini. Bentuknya pun sama dengan jerawat biasa. Hanya saja jerawat muncul di area yang tertutup masker.
Masker acne ini bisa muncul karena udara di bagian wajah yang tertutup masker menjadi lembab dan panas. Untuk mencegah maskne setiap orang disarankan mengganti masker tiga atau empat jam sekali.
"Selain itu, sebelum masker diganti agar cuci muka terlebih dahulu dengan suhu air normal. Jangan menggunakan air hangat," kata dia.
Dermatitis serboroik
Selain maskne, dermatitik serboik juga bisa muncul di wajah. Penyakit ini juga dikenal dengan istilah eksim ketombe. Gejala dermatitis serboroik yakni, muncul kemerahan, ruam, dan gatal di sekitar mulut dan tepi hidung.
"Penyebabnya sama, akibat panas dan pengap karena penggunaan masker. Penanganannya juga sama dengan maskne," kata Susie.
Penyakit kulit ini bisa terjadi akibat terlalu banyak terpapar antiseptik, misalnya terlalu banyak cuci tangan atau menggunakan handsinitizer.
"Mereka yang memiliki kulit sensitif mudah terpapar penyakit ini," kata dia.
Alergi akibat konsumsi vitamin
Saat pandemi, mengkonsumi vitamin dengan jumlah yang banyak kerap dilakukan masyarakat. Akibatnya banyak yang terkena alergi.
"Apakah ini bisa terjadi pada semua orang? Tidak. Lebih sering terjadi pada mereka yang punya 'bakat' alergi sebelumnya," kata dia.
Polymorphous Light Eruption (PLE)
Penyakit ini bisa terjadi karena paparan sinar matahari pada orang dengan kulit sensitif. Biasanya gejala PLE ditandai dengan munculnya titik-titik merah dan gatal di area yang terbuka.
Selain PLE, sunburn bisa terjadi karena paparan sinar matahari. Hanya saja, sunburn terjadi karena terlalu lama berjemur. Maka dari itu, usahakan waktu berjemur tidak terlalu lama dan gunakan waktu-waktu pagi hari agar sinar matahari yang didapat memiliki index UV minimal.
Simak penyebab penyakit kulit saat pandemi Covid-19 lainnya di halaman berikut.
2. Akibat stres karena pandemi
Berbagai penyakit kulit juga bisa muncul akibat stres selama pandemi Covid-19. Stres dapat bermanifestasi menjadi sejumlah penyakit kulit berikut ini.
Dermatitis serboroik
Penyakit ini tak hanya muncul akibat penggunaan masker, tapi juga karena stres, biasanya muncul di bagian-bagian lipatan seperti belakang telinga bahkan di kulit kepala.
Rambut rontok
Rambut rontok bisa terjadi karena stres akibat pandemi Covid-19. Tanpa disadari rambut rontok lebih banyak saat stres karena pandemi.
Cara penangannya mudah, jangan langsung berpikir untuk menggunakan hair tonic atau vitamin rambut. Cara termudah adalah dengan memotong rambut menjadi pendek.
"Rambut panjang dua kali lebih berat. Tarikan di akhir rambut jadi berat. Saat keramas rambut menarik air, itu yang membuat rontok," kata Susie.
Selain bisa muncul karena masker, stres yang mengubah pola hidup juga bisa menyebabkan jerawat. Misal karena stres pola makan dan tidur jadi tidak teratur yang berakibat pada munculnya jerawat.
3. Penyakit kulit yang sudah ada jadi lebih mudah kambuh
Jika sebelum pandemi sudah memiliki penyakit kulit tertentu, biasanya akan mudah kambuh karena berbagai kebiasaan baru yang dialami. Misal psiriosis yang sebelumnya sudah membaik karena sering dikontrol menjadi kambuh karena tak lagi terkontrol.
Infeksi Covid-19 juga memunculkan sejumlah gejala yang terkait dengan kulit, seperti:
Biduran
Banyak pasien Covid-19 melaporkan mengalami biduran. Kondisi ini ditandai dengan muncul benjolan kemerahan di bagian kulit yang disertai rasa gatal dan panas. Saat sembuh biduran tak akan meninggalkan bekas sama sekali.
Ruam morbilitomis
Kondisinya mirip dengan campak, muncul pada pasien yang terpapar Covid. Selain itu pasien juga bisa mengalami bintil air.
Pembengkakan di ujung jari
Banyak pasien Covid-19 yang mengalami bengkak di ujung jarinya. Baik di jari kaki maupun tangan. Bengkak disertai dengan warna merah, gatal dan sedikit panas.
Meski begitu, Susie menyebut tak semua pasien yang terpapar Covid-19 akan mengalami beberapa kondisi penyakit kulit tersebut.
"Bahkan tak sampai 50 persen pasien Covid-19 yang mengaku terpapar penyakit kulit saat mereka positif," kata dia.
Jika Anda mengalami gejala penyakit kulit, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat. Penyakit kulit yang tak diobati dapat berkembang menjadi parah dan mengganggu aktivitas sehar-hari.
Jakarta, CNN Indonesia --
Tak hanya batuk dan demam, pandemi Covid-19 juga menimbulkan permasalahan kulit. Terdapat sejumlah penyebab penyakit kulit saat pandemi virus corona.
Masalah kulit bisa terjadi karena berbagai faktor. Mulai dari penggunaan masker, terlalu sering menggunakan hand sanitizer hingga pemakaian sarung tangan.
"Bahkan terlalu banyak paparan sinar matahari saat berjemur juga tidak baik untuk kulit," kata Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Susie Rendra dalam webinar Jaga Kulit Tetap Sehat Selama Pandemi yan digelar Rumah Sakit Pondok Indah, Kamis (26/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Susie menggolongkan persoalan kulit yang bisa terjadi akibat pandemi ini ke dalam empat penyebab utama.
Berikut 4 penyebab penyakit kulit saat pandemi Covid-19:
1. Akibat kebiasaan baru
Penyakit kulit yang disebabkan oleh kebiasaan baru banyak dikeluhkan masyarakat. Susie mengaku kerap menerima keluhan penyakit kulit akibat beberapa kebiasaan baru yang harus dilakukan selama pandemi.
Pertama yaitu penyakit kulit yang muncul akibat penggunaan masker atau dikenal dengan istilah maskne. Maskne adalah istilah baru untuk jerawat yang terjadi akibat masker.
"Jadi istilahnya itu masker acne. Jerawat muncul di area yang tertutup masker," kata Susie.
Tak ada perbedaan signifikan pada jerawat ini. Bentuknya pun sama dengan jerawat biasa. Hanya saja jerawat muncul di area yang tertutup masker.
Masker acne ini bisa muncul karena udara di bagian wajah yang tertutup masker menjadi lembab dan panas. Untuk mencegah maskne setiap orang disarankan mengganti masker tiga atau empat jam sekali.
"Selain itu, sebelum masker diganti agar cuci muka terlebih dahulu dengan suhu air normal. Jangan menggunakan air hangat," kata dia.
Dermatitis serboroik
Selain maskne, dermatitik serboik juga bisa muncul di wajah. Penyakit ini juga dikenal dengan istilah eksim ketombe. Gejala dermatitis serboroik yakni, muncul kemerahan, ruam, dan gatal di sekitar mulut dan tepi hidung.
"Penyebabnya sama, akibat panas dan pengap karena penggunaan masker. Penanganannya juga sama dengan maskne," kata Susie.
Penyakit kulit ini bisa terjadi akibat terlalu banyak terpapar antiseptik, misalnya terlalu banyak cuci tangan atau menggunakan handsinitizer.
"Mereka yang memiliki kulit sensitif mudah terpapar penyakit ini," kata dia.
Alergi akibat konsumsi vitamin
Saat pandemi, mengkonsumi vitamin dengan jumlah yang banyak kerap dilakukan masyarakat. Akibatnya banyak yang terkena alergi.
"Apakah ini bisa terjadi pada semua orang? Tidak. Lebih sering terjadi pada mereka yang punya 'bakat' alergi sebelumnya," kata dia.
Polymorphous Light Eruption (PLE)
Penyakit ini bisa terjadi karena paparan sinar matahari pada orang dengan kulit sensitif. Biasanya gejala PLE ditandai dengan munculnya titik-titik merah dan gatal di area yang terbuka.
Selain PLE, sunburn bisa terjadi karena paparan sinar matahari. Hanya saja, sunburn terjadi karena terlalu lama berjemur. Maka dari itu, usahakan waktu berjemur tidak terlalu lama dan gunakan waktu-waktu pagi hari agar sinar matahari yang didapat memiliki index UV minimal.
Simak penyebab penyakit kulit saat pandemi Covid-19 lainnya di halaman berikut.
4 Penyebab Penyakit Kulit saat Pandemi Covid-19
Salah satu penyebab penyakit kulit saat pandemi Covid-19 adalah stres. Stres dapat memicu timbulnya jerawat.(Foto: iStockphoto/Boyloso)
2. Akibat stres karena pandemi
Berbagai penyakit kulit juga bisa muncul akibat stres selama pandemi Covid-19. Stres dapat bermanifestasi menjadi sejumlah penyakit kulit berikut ini.
Dermatitis serboroik
Penyakit ini tak hanya muncul akibat penggunaan masker, tapi juga karena stres, biasanya muncul di bagian-bagian lipatan seperti belakang telinga bahkan di kulit kepala.
Rambut rontok
Rambut rontok bisa terjadi karena stres akibat pandemi Covid-19. Tanpa disadari rambut rontok lebih banyak saat stres karena pandemi.
Cara penangannya mudah, jangan langsung berpikir untuk menggunakan hair tonic atau vitamin rambut. Cara termudah adalah dengan memotong rambut menjadi pendek.
"Rambut panjang dua kali lebih berat. Tarikan di akhir rambut jadi berat. Saat keramas rambut menarik air, itu yang membuat rontok," kata Susie.
Selain bisa muncul karena masker, stres yang mengubah pola hidup juga bisa menyebabkan jerawat. Misal karena stres pola makan dan tidur jadi tidak teratur yang berakibat pada munculnya jerawat.
3. Penyakit kulit yang sudah ada jadi lebih mudah kambuh
Jika sebelum pandemi sudah memiliki penyakit kulit tertentu, biasanya akan mudah kambuh karena berbagai kebiasaan baru yang dialami. Misal psiriosis yang sebelumnya sudah membaik karena sering dikontrol menjadi kambuh karena tak lagi terkontrol.
Infeksi Covid-19 juga memunculkan sejumlah gejala yang terkait dengan kulit, seperti:
Biduran
Banyak pasien Covid-19 melaporkan mengalami biduran. Kondisi ini ditandai dengan muncul benjolan kemerahan di bagian kulit yang disertai rasa gatal dan panas. Saat sembuh biduran tak akan meninggalkan bekas sama sekali.
Ruam morbilitomis
Kondisinya mirip dengan campak, muncul pada pasien yang terpapar Covid. Selain itu pasien juga bisa mengalami bintil air.
Pembengkakan di ujung jari
Banyak pasien Covid-19 yang mengalami bengkak di ujung jarinya. Baik di jari kaki maupun tangan. Bengkak disertai dengan warna merah, gatal dan sedikit panas.
Meski begitu, Susie menyebut tak semua pasien yang terpapar Covid-19 akan mengalami beberapa kondisi penyakit kulit tersebut.
"Bahkan tak sampai 50 persen pasien Covid-19 yang mengaku terpapar penyakit kulit saat mereka positif," kata dia.
Jika Anda mengalami gejala penyakit kulit, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat. Penyakit kulit yang tak diobati dapat berkembang menjadi parah dan mengganggu aktivitas sehar-hari.