Gang Gloria, salah satu gang di Jakarta yang legendaris. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejarah terbentuknya Indonesia tak bisa lepas dari gang, jalan kecil yang diapit pemukiman. Mungkin ada puluhan ribu gang di penjuru Indonesia, karena di Jakarta saja paling tidak sudah ada 2.258 gang.
Gang begitu akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Dia bisa jadi penyambung bagi pemukiman warga, "jalan tikus" bagi pengendara motor, destinasi wisata kuliner, sampai pelacuran.
Istilah gang sebenarnya baru ada pada masa kolonial Belanda dan diserap dari bahasa mereka. Dalam istilah Belanda juga dikenal gang atau steeg.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemunculan gang bermula dari masalah tata kota. Kala itu, tata kota di Indonesia masih tak beraturan. Ditambah lagi, tingginya urbanisasi menyebabkan penduduk di perkotaan semakin bertambah dan kebutuhan akan tempat tinggal semakin tinggi.
Permasalahan ini tidak begitu berdampak pada pemukiman di pusat kota. Sebab, kawasan tersebut biasanya hanya ditinggali oleh orang-orang berduit atau punya jabatan tinggi dalam pemerintahan.
Namun bagi kawasan kantong penyanggah pusat kota atau perkampungan, justru kebalikannya. Kawasan itu kian ramai karena diisi oleh pribumi dan para perantau.
Sejarawan Andi Achdian mengatakan, fenomena itu melahirkan adanya gang sebagai jalan kecil di tengah pemukiman yang kian padat.
"Gang itu muncul dengan pola perkembangan kota yang numpang di atas pemukiman kampung. Kampungnya tidak hilang, akses jalan tersebut yang menjadi gang," kata Andi kepada CNNIndonesia.com saat diwawancara beberapa waktu yang lalu.
Selain faktor urbanisasi dan perkembangan kota, kemunculan gang juga dipengaruhi oleh desakan para pejuang nasionalis saat itu.
Mereka ingin pemerintah kolonial tidak hanya mempercantik pusat-pusat kota, melainkan juga perkampungannya.
Kala itu pejuang nasionalis terpecah menjadi dua. Satu golongan kooperatif, yaitu orang-orang yang tergabung ke dalam Volksraad (sekarang Dewan Perwakilan Rakyat/DPR).
Mereka di antaranya Agus Salim, M.H. Thamrin, Abdoel Moeis, dan Otto Iskandar di Nata.
Sementara itu, golongan kedua adalah orang-orang yang tidak kooperatif dengan pemerintahan Belanda. Mereka berjuang di jalur nonformal seperti Soekarno dan Ernest Douwes Dekker.
Kedua golongan itu sama-sama berjuang. Namun, golongan M.H Thamrin cs lebih cepat untuk bisa melobi pemerintah Belanda. Dibuatlah proyek 'Kampoeng Verbetering' dan fokusnya perbaikan kampung.
Dengan adanya proyek itu, jalan-jalan kecil di perkampungan mulai diperbaiki. Dibangunnya gang mendekati gambaran gang yang saat ini kita lihat, lorong panjang dengan aspal.
"Makanya ada di Menteng Atas, Tanah Tinggi, Kwitang, Kampung Bali Tanah Abang, Sawah Besar yang menjadi enklave-enklave (daerah kantong) masyarakat pribumi diperbaiki kampungnya. Dengan pekarangan, dengan jalan setapak yang disebut gang itu," kata sejarawan sekaligus budayawan, Yahya Andi Saputra, yang diwawancarai secara terpisah.
Setelah ada gang, kata Yahya, orang menamainya dengan tokoh termasyhur dan ciri khas dari kawasan itu untuk memantapkannya sebagai sebuah alamat. Sehingga, memudahkan orang dalam aktivitas sehari-hari.
"Di Pasar Baru misalnya ada Gang Abu, gang Arab, yang memang di sekitar situ tinggal Pak Abu yang notabene orang Arab," contohnya.
"Ada juga gang yang dinamai berdasarkan kecenderungan pohon yang tumbuh di sana. Dulu di Kwitang ada Gang Kwini karena banyak pohon kwini di sana," lanjutnya.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Dari kuliner, opium, sampai prostitusi
Baik Andi maupun Yahya sepakat bahwa setiap gang punya ciri khas sendiri. Ada satu hal yang dilekatkan oleh masyarakat secara tak sadar terhadap suatu gang.
Gang Gloria dan Gang Kelinci misalnya. Dari sebelum Presiden Joko Widodo lahir, kedua gang itu sudah termashyur sebagai gang kuliner. Yahya menyebut Gang Kelinci sudah ada sekitar tahun 1800-an.
Ketenaran dua gang itu tak lepas dari banyaknya etnis Tionghoa yang tinggal di kawasan tersebut. Mereka, kata Yahya, membuka usaha kuliner yang enak dan dikenal oleh banyak orang.
Selain kuliner, sejumlah gang di Jakarta juga lekat dengan narkoba dan prostitusi. Salah satu gang yang terkenal dengan narkobanya adalah Gang Madat di Jakarta Pusat.
Konon dulu di gang itu penjual dan pembeli opium saling bertransaksi.
"Sangat terkenal, menjadi buah bibir. Di sana orang bisa judi atau teler," ucap Andi.
Begitu juga dengan Gang Ampiun, Jakarta Pusat. Dulunya, di gang ini terdapat pabrik opium milik VOC, sehingga dinamakan Gang Opium. Orang-orang banyak juga yang melafalkan Gang Ampiun.
Lalu, ada juga Gang Hauber, Madat, dan Mangga yang terkenal dengan prostitusinya. Di gang-gang itu tentara Belanda dan warga pribumi melepas syahwatnya.
Di Surabaya ada juga Gang Dolly. Gang di mana para Pekerja Seks Komersial (PSK) tinggal dan menyambung hidup.
Namun pada 2014 lalu praktik prostitusi di gang ini usai. Gang Dolly kemudian berganti wajah menjadi area yang lebih humanis.
Terlepas dari itu semua, Yahya mengatakan sejumlah gang di Indonesia, termasuk yang sudah disebutkan sebelumnya berpotensi menjadi tempat wisata, terutama kuliner.
Selain kuliner, menurutnya, gang-gang legendaris itu juga bisa menjadi wisata imajiner. Dalam artian, cerita, kejayaan, ketragisan sampai kekacauan bisa dihadirkan kembali seakan-akan orang merasakan hidup pada saat itu.
"Imajinasi bisa dihadirkan di benak setiap peserta tur wisata ke gang-gang ini," pungkasnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejarah terbentuknya Indonesia tak bisa lepas dari gang, jalan kecil yang diapit pemukiman. Mungkin ada puluhan ribu gang di penjuru Indonesia, karena di Jakarta saja paling tidak sudah ada 2.258 gang.
Gang begitu akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Dia bisa jadi penyambung bagi pemukiman warga, "jalan tikus" bagi pengendara motor, destinasi wisata kuliner, sampai pelacuran.
Istilah gang sebenarnya baru ada pada masa kolonial Belanda dan diserap dari bahasa mereka. Dalam istilah Belanda juga dikenal gang atau steeg.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemunculan gang bermula dari masalah tata kota. Kala itu, tata kota di Indonesia masih tak beraturan. Ditambah lagi, tingginya urbanisasi menyebabkan penduduk di perkotaan semakin bertambah dan kebutuhan akan tempat tinggal semakin tinggi.
Permasalahan ini tidak begitu berdampak pada pemukiman di pusat kota. Sebab, kawasan tersebut biasanya hanya ditinggali oleh orang-orang berduit atau punya jabatan tinggi dalam pemerintahan.
Namun bagi kawasan kantong penyanggah pusat kota atau perkampungan, justru kebalikannya. Kawasan itu kian ramai karena diisi oleh pribumi dan para perantau.
Sejarawan Andi Achdian mengatakan, fenomena itu melahirkan adanya gang sebagai jalan kecil di tengah pemukiman yang kian padat.
"Gang itu muncul dengan pola perkembangan kota yang numpang di atas pemukiman kampung. Kampungnya tidak hilang, akses jalan tersebut yang menjadi gang," kata Andi kepada CNNIndonesia.com saat diwawancara beberapa waktu yang lalu.
Selain faktor urbanisasi dan perkembangan kota, kemunculan gang juga dipengaruhi oleh desakan para pejuang nasionalis saat itu.
Mereka ingin pemerintah kolonial tidak hanya mempercantik pusat-pusat kota, melainkan juga perkampungannya.
Kala itu pejuang nasionalis terpecah menjadi dua. Satu golongan kooperatif, yaitu orang-orang yang tergabung ke dalam Volksraad (sekarang Dewan Perwakilan Rakyat/DPR).
Mereka di antaranya Agus Salim, M.H. Thamrin, Abdoel Moeis, dan Otto Iskandar di Nata.
Sementara itu, golongan kedua adalah orang-orang yang tidak kooperatif dengan pemerintahan Belanda. Mereka berjuang di jalur nonformal seperti Soekarno dan Ernest Douwes Dekker.
Kedua golongan itu sama-sama berjuang. Namun, golongan M.H Thamrin cs lebih cepat untuk bisa melobi pemerintah Belanda. Dibuatlah proyek 'Kampoeng Verbetering' dan fokusnya perbaikan kampung.
Dengan adanya proyek itu, jalan-jalan kecil di perkampungan mulai diperbaiki. Dibangunnya gang mendekati gambaran gang yang saat ini kita lihat, lorong panjang dengan aspal.
"Makanya ada di Menteng Atas, Tanah Tinggi, Kwitang, Kampung Bali Tanah Abang, Sawah Besar yang menjadi enklave-enklave (daerah kantong) masyarakat pribumi diperbaiki kampungnya. Dengan pekarangan, dengan jalan setapak yang disebut gang itu," kata sejarawan sekaligus budayawan, Yahya Andi Saputra, yang diwawancarai secara terpisah.
Setelah ada gang, kata Yahya, orang menamainya dengan tokoh termasyhur dan ciri khas dari kawasan itu untuk memantapkannya sebagai sebuah alamat. Sehingga, memudahkan orang dalam aktivitas sehari-hari.
"Di Pasar Baru misalnya ada Gang Abu, gang Arab, yang memang di sekitar situ tinggal Pak Abu yang notabene orang Arab," contohnya.
"Ada juga gang yang dinamai berdasarkan kecenderungan pohon yang tumbuh di sana. Dulu di Kwitang ada Gang Kwini karena banyak pohon kwini di sana," lanjutnya.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Menyusuri Gang, Menapaki Nostalgia
Gang Kelinci, salah satu gang di Jakarta yang legendaris. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Dari kuliner, opium, sampai prostitusi
Baik Andi maupun Yahya sepakat bahwa setiap gang punya ciri khas sendiri. Ada satu hal yang dilekatkan oleh masyarakat secara tak sadar terhadap suatu gang.
Gang Gloria dan Gang Kelinci misalnya. Dari sebelum Presiden Joko Widodo lahir, kedua gang itu sudah termashyur sebagai gang kuliner. Yahya menyebut Gang Kelinci sudah ada sekitar tahun 1800-an.
Ketenaran dua gang itu tak lepas dari banyaknya etnis Tionghoa yang tinggal di kawasan tersebut. Mereka, kata Yahya, membuka usaha kuliner yang enak dan dikenal oleh banyak orang.
Selain kuliner, sejumlah gang di Jakarta juga lekat dengan narkoba dan prostitusi. Salah satu gang yang terkenal dengan narkobanya adalah Gang Madat di Jakarta Pusat.
Konon dulu di gang itu penjual dan pembeli opium saling bertransaksi.
"Sangat terkenal, menjadi buah bibir. Di sana orang bisa judi atau teler," ucap Andi.
Begitu juga dengan Gang Ampiun, Jakarta Pusat. Dulunya, di gang ini terdapat pabrik opium milik VOC, sehingga dinamakan Gang Opium. Orang-orang banyak juga yang melafalkan Gang Ampiun.
Lalu, ada juga Gang Hauber, Madat, dan Mangga yang terkenal dengan prostitusinya. Di gang-gang itu tentara Belanda dan warga pribumi melepas syahwatnya.
Di Surabaya ada juga Gang Dolly. Gang di mana para Pekerja Seks Komersial (PSK) tinggal dan menyambung hidup.
Namun pada 2014 lalu praktik prostitusi di gang ini usai. Gang Dolly kemudian berganti wajah menjadi area yang lebih humanis.
Terlepas dari itu semua, Yahya mengatakan sejumlah gang di Indonesia, termasuk yang sudah disebutkan sebelumnya berpotensi menjadi tempat wisata, terutama kuliner.
Selain kuliner, menurutnya, gang-gang legendaris itu juga bisa menjadi wisata imajiner. Dalam artian, cerita, kejayaan, ketragisan sampai kekacauan bisa dihadirkan kembali seakan-akan orang merasakan hidup pada saat itu.
"Imajinasi bisa dihadirkan di benak setiap peserta tur wisata ke gang-gang ini," pungkasnya.