Tanaman kratom disebut memiliki efek samping yang lebih kuat sehingga bisa merusak kesehatan. Berikut manfaat dan potensi bahaya tanaman kratom. (iStockphoto/damircudic)
Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Narkotika Nasional (BNN) menargetkan aturan larangan peredaran dan penggunaan daun kratommulai tahun depan. Pasalnya, tanaman kratom disebut memiliki efek samping yang lebih kuat dari morfin sehingga bisa merusak kesehatan.
Sebenarnya pembahasan mengenai tanaman kratom masih menemui pro dan kontra di beberapa negara. Di Thailand, pemerintah sudah melegalkan konsumsi dan jual beli kratom.
Dari studi oleh Thailand Development Research Institute disimpulkan legalisasi kratom bisa menghemat anggaran hingga 1,69 miliar bath atau setara US$50 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan di Malaysia, memanen atau menjual tanaman kratom dianggap pelanggaran dan diatur dalam Poison Act 1952. Menurut CNA, menanam tanaman ini untuk konsumsi pribadi dianggap sebagai area abu-abu.
Kratom atau Mitragyna speciosa K kali pertama ditemukan ahli botani, Pieter Willem Korthals. Masyarakat kebanyakan memanfaatkan bagian daun untuk berbagai keperluan.
Berikut manfaat dan potensi bahaya tanaman kratom.
1. Mengatasi kelelahan
Dari studi yang diterbitkan di Media Litbangkes, Kementerian Kesehatan, secara tradisional tanaman kratom digunakan para petani, buruh untuk mengatasi kelelahan dan meningkatkan produktivitas kerja.
Untuk memperoleh manfaat ini, biasanya para pekerja cukup mengunyah daun tanaman kratom 3-10 kali per hari. Rata-rata ada 10-30 daun atau lebih yang dikunyah setiap hari. Namun ada pula yang mengonsumsi kratom layaknya teh herbal atau rokok.
2. Obat herbal
Kratom dianggap sebagai obat herbal. Dikutip dari Jurnal Biosains Pascasarjana, Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, kratom berkhasiat untuk tapal pada luka, obat demam, meringankan nyeri otot, mengurangi nafsu makan dan mengobati diare.
Ada pula yang menyebut kratom mampu meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan tekanan darah tinggi, antidiabetes dan stimulan seksual.
Di Malaysia, kratom digunakan untuk pemulihan ibu pascamelahirkan.
"Efek antinociceptive dan antidepresan dari kratom telah dilaporkan oleh Cheaha et al. (2015). Efek antinociceptive ini dimanfaatkan masyarakat Malaysia untuk pemulihan pasca melahirkan dengan mengonsumsinya dalam bentuk jus," tulis peneliti.
3. Membantu pemulihan dari kecanduan narkotika
Kratom kerap digunakan dalam proses pemulihan mereka yang kecanduan narkotika (opioid). Kratom mengandung lebih dari 40 jenis alkaloid dengan kandungan utama berupa mitraginin. Kandungan mitraginin pada tanaman kratom punya potensi analgetik 13 kali lebih tinggi daripada morfin.
Pada dosis rendah, kratom memberikan efek merangsang dan euforia. Sedangkan pada dosis tinggi akan bertindak layaknya opium yang mampu menekan rasa sakit dan digunakan untuk mengurangi sindrom penarikan opioid.
Simak manfaat lain dan potensi bahaya tanaman kratom di halaman berikut.
4. Mengatasi nyeri
Tak hanya efek euforia, tanaman kratom juga mampu mengatasi nyeri. Pada dosis rendah hingga sedang (1-5 gram) serbuk daun kratom memiliki efek stimulan ringan. Kemudian dosis lebih tinggi (5-15 gram) efeknya seperti opiat di mana ada efek analgesik dan sedatif.
5. Meredakan gangguan cemas dan depresi
Dalam penggunaan dosis tinggi atau sekitar 5-15 gram, tanaman kratom akan menimbulkan efek sedatif. Artinya, kratom mampu bekerja layaknya obat penenang atau antidepresan.
Sebagaimana dilansir Alodokter, kratom pun dianggap bisa meredakan gangguan cemas dan depresi. Kemudian efek antipsikotik kratom mampu mengatasi halusinasi.
Kendati ada beragam manfaat dari tanaman kratom, sejumlah negara menetapkan peredaran kratom merupakan sesuatu yang ilegal. Bahkan BNN memasukkan kratom sebagai narkotika golongan I oleh Komite Nasional Perubahan Narkotika dan Psikotropika pada 2017.
Penetapan ini jelas bukan tanpa alasan, ada potensi bahaya yang mengintai.
Dalam sebuah riset ada sejumlah efek yang tidak diharapkan dari penggunaan tanaman kratom dalam dosis tinggi (lebih tinggi atau sama dengan 5 gram) dan sering (lebih dari 22 kali per minggu).
- Efek jangka pendek berupa mual, sulit buang air besar, gangguan tidur, disfungsi seksual temporer, gatal-gatal dan berkeringat.
- Efek jangka panjang, penggunaan dalam waktu lama akan menimbulkan diuresis, anoreksia, mulut kering, kulit lebih gelap, rambut rontok, juga adiksi.
Saat konsumsi kratom disetop, timbul gejala putus obat antara lain, mual, palpitasi, hilang selera makan, irritability (sensitif), gelisah, perubahan mood, diare, rhinorrhea (keluar cairan dari hidung), myalgia dan arthralgia (peradangan pada sendi) juga tremor.
- Kematian, saat konsumsi tanaman kratom dipadu dengan beberapa bahan lain maka menimbulkan efek toksik dan mematikan seperti, o-desmethyltramadol, profilheksedrin, obat flu dan benzodiazepin, venlafaksin, difenhidramin, mirtazapine, zopiklon, citalopram, lamotrigin.
Tanaman kratom dipadu dengan propilheksedrin, misal, akan mengakibatkan kematian. Propilheksedrin kerap ditemukan pada dekongestan inhaler.
Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Narkotika Nasional (BNN) menargetkan aturan larangan peredaran dan penggunaan daun kratommulai tahun depan. Pasalnya, tanaman kratom disebut memiliki efek samping yang lebih kuat dari morfin sehingga bisa merusak kesehatan.
Sebenarnya pembahasan mengenai tanaman kratom masih menemui pro dan kontra di beberapa negara. Di Thailand, pemerintah sudah melegalkan konsumsi dan jual beli kratom.
Dari studi oleh Thailand Development Research Institute disimpulkan legalisasi kratom bisa menghemat anggaran hingga 1,69 miliar bath atau setara US$50 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan di Malaysia, memanen atau menjual tanaman kratom dianggap pelanggaran dan diatur dalam Poison Act 1952. Menurut CNA, menanam tanaman ini untuk konsumsi pribadi dianggap sebagai area abu-abu.
Kratom atau Mitragyna speciosa K kali pertama ditemukan ahli botani, Pieter Willem Korthals. Masyarakat kebanyakan memanfaatkan bagian daun untuk berbagai keperluan.
Berikut manfaat dan potensi bahaya tanaman kratom.
1. Mengatasi kelelahan
Dari studi yang diterbitkan di Media Litbangkes, Kementerian Kesehatan, secara tradisional tanaman kratom digunakan para petani, buruh untuk mengatasi kelelahan dan meningkatkan produktivitas kerja.
Untuk memperoleh manfaat ini, biasanya para pekerja cukup mengunyah daun tanaman kratom 3-10 kali per hari. Rata-rata ada 10-30 daun atau lebih yang dikunyah setiap hari. Namun ada pula yang mengonsumsi kratom layaknya teh herbal atau rokok.
2. Obat herbal
Kratom dianggap sebagai obat herbal. Dikutip dari Jurnal Biosains Pascasarjana, Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, kratom berkhasiat untuk tapal pada luka, obat demam, meringankan nyeri otot, mengurangi nafsu makan dan mengobati diare.
Ada pula yang menyebut kratom mampu meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan tekanan darah tinggi, antidiabetes dan stimulan seksual.
Di Malaysia, kratom digunakan untuk pemulihan ibu pascamelahirkan.
"Efek antinociceptive dan antidepresan dari kratom telah dilaporkan oleh Cheaha et al. (2015). Efek antinociceptive ini dimanfaatkan masyarakat Malaysia untuk pemulihan pasca melahirkan dengan mengonsumsinya dalam bentuk jus," tulis peneliti.
3. Membantu pemulihan dari kecanduan narkotika
Kratom kerap digunakan dalam proses pemulihan mereka yang kecanduan narkotika (opioid). Kratom mengandung lebih dari 40 jenis alkaloid dengan kandungan utama berupa mitraginin. Kandungan mitraginin pada tanaman kratom punya potensi analgetik 13 kali lebih tinggi daripada morfin.
Pada dosis rendah, kratom memberikan efek merangsang dan euforia. Sedangkan pada dosis tinggi akan bertindak layaknya opium yang mampu menekan rasa sakit dan digunakan untuk mengurangi sindrom penarikan opioid.
Simak manfaat lain dan potensi bahaya tanaman kratom di halaman berikut.
Manfaat dan potensi bahaya tanaman kratom
Tanaman kratom disebut memiliki efek samping yang lebih kuat sehingga bisa merusak kesehatan. Berikut manfaat dan potensi bahaya tanaman kratom. (AFP/Louis Anderson)
4. Mengatasi nyeri
Tak hanya efek euforia, tanaman kratom juga mampu mengatasi nyeri. Pada dosis rendah hingga sedang (1-5 gram) serbuk daun kratom memiliki efek stimulan ringan. Kemudian dosis lebih tinggi (5-15 gram) efeknya seperti opiat di mana ada efek analgesik dan sedatif.
5. Meredakan gangguan cemas dan depresi
Dalam penggunaan dosis tinggi atau sekitar 5-15 gram, tanaman kratom akan menimbulkan efek sedatif. Artinya, kratom mampu bekerja layaknya obat penenang atau antidepresan.
Sebagaimana dilansir Alodokter, kratom pun dianggap bisa meredakan gangguan cemas dan depresi. Kemudian efek antipsikotik kratom mampu mengatasi halusinasi.
Kendati ada beragam manfaat dari tanaman kratom, sejumlah negara menetapkan peredaran kratom merupakan sesuatu yang ilegal. Bahkan BNN memasukkan kratom sebagai narkotika golongan I oleh Komite Nasional Perubahan Narkotika dan Psikotropika pada 2017.
Penetapan ini jelas bukan tanpa alasan, ada potensi bahaya yang mengintai.
Dalam sebuah riset ada sejumlah efek yang tidak diharapkan dari penggunaan tanaman kratom dalam dosis tinggi (lebih tinggi atau sama dengan 5 gram) dan sering (lebih dari 22 kali per minggu).
- Efek jangka pendek berupa mual, sulit buang air besar, gangguan tidur, disfungsi seksual temporer, gatal-gatal dan berkeringat.
- Efek jangka panjang, penggunaan dalam waktu lama akan menimbulkan diuresis, anoreksia, mulut kering, kulit lebih gelap, rambut rontok, juga adiksi.
Saat konsumsi kratom disetop, timbul gejala putus obat antara lain, mual, palpitasi, hilang selera makan, irritability (sensitif), gelisah, perubahan mood, diare, rhinorrhea (keluar cairan dari hidung), myalgia dan arthralgia (peradangan pada sendi) juga tremor.
- Kematian, saat konsumsi tanaman kratom dipadu dengan beberapa bahan lain maka menimbulkan efek toksik dan mematikan seperti, o-desmethyltramadol, profilheksedrin, obat flu dan benzodiazepin, venlafaksin, difenhidramin, mirtazapine, zopiklon, citalopram, lamotrigin.
Tanaman kratom dipadu dengan propilheksedrin, misal, akan mengakibatkan kematian. Propilheksedrin kerap ditemukan pada dekongestan inhaler.