Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana pembukaan lagi gerbang pariwisata Bali untuk wisatawan mancanegara (wisman) pada 14 Oktober 2021 disambut baik oleh banyak pihak, meski tak sedikit yang beranggapan aturan karantina selama delapan hari dirasa memberatkan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Putu Astawa, mengatakan karantina wisman selama delapan hari ialah jalan keluar terbaik untuk pembukaan kembali di tengah pandemi virus corona yang belum berakhir.
Durasi karantina di Indonesia, menurutnya, masih terbilang singkat dibandingkan karantina di negara lain yang bisa sampai 14 hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahkan di negara lain ada yang sampai 14 hari. Ini kita tunduk dengan aturan yang ada, nanti akan dievaluasi. Kalau jumlah kasus Covid-19 semakin turun, kemungkinan bisa lain kebijakannya," kata Astawa, di Denpasar, Bali, Rabu (6/10).
"Kehati-hatian itu penting, terlebih di negara lain muncul varian baru yang harus kita waspadai. Jangan sampai masuk ke kita. Kalau sampai masuk, nanti ada lagi penularan atau lonjakan kasus, kita repot juga. Jangan, sampai ada gelombang-gelombang baru untuk penularan atau varian baru," lanjutnya.
Selain itu, dikatakannya, tahun depan Bali akan menjadi tuan rumah banyak ajang internasional. Sehingga, aturan karantina saat uji coba pembukaan tahun ini diharapkan tidak menambah status kedaruratan pandemi di tahun depan.
Ia juga menghimbau kepada pelaku pariwisata di Bali jangan terlalu euforia saat pembukaan kembali, sehingga mengabaikan situasi pandemi yang masih belum tuntas.
"Di tahun 2022, kita ada event (acara) yang lebih penting untuk bisa dilaksanakan. Sebagai, trial (percobaan) di awal ini jangan sampai euforia pembukaan ini melupakan seolah-olah tidak ada Covid-19. Ini, yang harus diwaspadai. Kita tetap waspada, jangan sampai terjadi penularan atau varian baru masuk ke kita, itu yang harus diketahui seluruh pihak," ujar Astawa.
"Prinsip kehati-hatian. Jangan sampai ada gelombang baru, penularan baru, jangan sampai terjadi euforia. Euforia, artinya terlalu hingar bingar sehingga mengabaikan pandemi. Pandemi ini belum berakhir, kewaspadaan itu harus di semua lini," lanjutnya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, para pengelola obyek wisata di Pulau Dewata meminta pemerintah untuk mengkaji ulang tentang aturan karantina delapan hari bagi wisman.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Dispar Bali Sebut Karantina 8 Hari Demi Cegah Lonjakan Kasus
Suasana di Pantai Pandawa, Bali, pada 2020. Dinas Pariwisata Bali menanggapi aturan karantina wisman selama delapan hari sebagai wujud kewaspadaan gelombang baru. (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)
Kadek Niti selaku Kepala Divisi Promosi dan Pengembangan Obyek Wisata Tanah Lot, mengusulkan agar durasi karantina bagi wisman dikaji ulang, misalnya hanya dimaksimalkan menjadi tiga hari, tentu saja dengan tes Covid-19 yang ketat.
"Kalau dari kita mendukung kebijakan pemerintah untuk membuka penerbangan internasional. Walau pun, untuk Bali baru enam negara yang dibuka penerbangan langsung. Kami tentunya berharap hal tersebut akan membawa dampak positif terhadap kunjungan wisman, khususnya ke DTW Tanah Lot," kata Niti, saat dihubungi, Rabu (6/10).
"Namun menurut kami, mungkin bisa dikaji lagi soal masa karantina delapan hari untuk wisman. Sepertinya itu terlalu lama. Jika mungkin bisa dimaksimalkan, mungkin cuma sampai tiga hari saja. Saat masuk bali dan setelah karantina nanti mereka kan juga sudah harus tes PCR dulu," lanjutnya.
Hal senada juga disampaikan Bendesa Adat Kuta, Wayan Wasista. Ia memperkirakan, aturan karantina delapan hari bagi wisman kemungkinan tidak akan meningkatkan jumlah pengunjung luar negeri secara signifikan.
"Saya, rasa untuk tahap awal saya belum jamin jumlahnya bisa membeludak. Karena, aturannya sangat menyulitkan bagi wisman. Walaupun, internasional sudah bisa dibuka, tapi mereka wajib untuk isolasi atau karantina delapan hari," kata Wasista.
"Jangan-jangan, nanti dianggap ini wisata karantina. Apalagi biayanya mereka tanggung sendiri, kan sangat memberatkan mereka," pungkasnya.
Thailand bisa dibilang menjadi salah satu negara yang memiliki aturan karantina lebih "manusiawi".
Tak hanya "mengurung" wisman di hotel, mereka bahkan membuka dua pulau wisata, Phuket dan Ko Samui, sebagai pulau karantina dengan program yang disebut sandbox (kotak pasir).
Program yang dimulai pada Juli 2021 itu awalnya mengharuskan wisman karantina selama 14 hari di sana, tentu saja dengan beragam persyaratan dokumen dan dana yang harus dipenuhi wisman.
Namun tak hanya berdiam di hotel, wisman diperbolehkan berkeliling Phuket dan Ko Samui - yang notabene pulau wisata - hingga tes terakhirnya dinyatakan negatif Covid-19. Baru setelah selesai karantina, wisman boleh keliling Thailand.
Mengutip REUTERS pada Rabu, Thailand saat ini berencana memotong masa karantina wisman yang telah divaksinasi penuh selama tujuh hari.